Tampilkan postingan dengan label Fiqih & Syari'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih & Syari'ah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2026

 Ada 5 Macam Rukhshoh Berdasarkan Hukumnya



Imam Jalaluddin as Suyuthi dalam kitabnya, beliau menuliskan pembagian rukhshoh berdasarkan hukumnya :


~


1️⃣. Rukhshoh Wajib. Contohnya, 


1. Memakan bangkai karena darurat kelaparan, 

2. Berbuka puasa karena khawatir akan memperburuk sakit karena kondisi wabah kelaparan, 

3. Menghilangkan kehausan yang parah dengan meminum khomer.

▪︎️[Jika ia tidak makan atau minum saat itu juga bisa menyebabkan kematian, maka dalam keadaan ini melakukan 3 hal tadi yang hukum asalnya Haram itu bisa berubah menjadi Wajib karena darurat].


2️⃣. Rukhshoh Sunnah. Contohnya, 


1. Sholat qoshor bagi seorang musafir (yang sudah mencapai 2 marhalah), 

2. Berbuka puasa bagi orang yang sakit atau musafir yang mengalami masyaqqoh (kesulitan) jika melanjutkan puasa, 

▪︎️[Namun bagi musafir ataupun orang sakit yang tidak mengalami masyaqqoh, maka tidak disunnahkan untuk berbuka]. 


3. Menunda sholat dzhuhur sampai hawanya sejuk;

4. Ketika memandang calon tunangan.

▪︎[️Disunnahkan memandang wajah dan telapak tangan calon istri ketika melamar].


3️⃣. Rukhshoh Mubah. Contohnya,


1. Akad transaksi salam 


▪︎️[Akad salam : Jual beli pesanan dengan uang yang dibayarkan duluan sebelum ada barangnya), hukumnya asalnya sih gak boleh, karena dianggap membeli barang yang tidak berwujud (bai'ul ma'dum), tapi karena sangat dibutuhkan dan sudah menjadi 'urf/tradisi, maka hukumnya berubah menjadi mubah]


4️⃣. Rukhshoh Khilaful Aula (lebih utama ditinggalkan). Contohnya,


1. Mengusap sepatu ketika berwudhu, menjamak sholat dan berbuka puasa (bagi musafir) yang tidak mengalami kondisi darurat.

▪︎[Maka lebih utama jika ia melepas sepatunya agar kakinya bisa terbasahi air wudhu, dan lebih utama jika ia melanjutkan puasa jika tidak mengalami kondisi darurat].


2. Bertayamum bagi orang yang telah menemukan air, tapi air tersebut harus dibeli dengan harga di atas standar, padahal dia mampu untuk membelinya.

▪︎[Maka lebih utama jika dia membeli air tersebut secukupnya untuk berwudhu.]


5️⃣. Rukhshoh Makruh. Contohnya, 


1. Mengqoshor sholat dalam perjalanan yang belum mencapai tiga marhalah (135 KM menurut madzhab Hanafi) 

▪︎️[Atau dua marhalah 80,64 KM menurut mazhab Syafi'i atau 88,704 KM menurut mayoritas ulama].

▪︎[Kemakruhan ini disebabkan oleh adanya ketentuan jarak tempuh dalam safar yang syarat minimalnya 2 sampai 3 marhalah].


~


📕Al Asybah wan Nadzhoir lil Imam as Suyuthi, halaman 82, Cet. DKI


○○○

الرخص أقسام :

الفائدة الثالثة


▪︎ما يجب فعلها ، كأكل الميتة للمضطر ، والفطر من خاف الهلاك بغلبة الجوع والعطش وإن كان مقيما صحيحا ، وإسافة الغصة بالخمر :

▪︎وما يندب ، كالقصر في السفر والفطر لمن يشق عليه الصوم في سفر ، أو مرض . والابراد بالظهر ، والنظر إلى المخطوبة .

▪︎وما يباح ، كالسلم :

▪︎وما الأولى تركها : كالمسح على الخف ، والجمع ، والفطر لمن لا يتضرر ، والتيمم لمن وجد الماء يباع بأكثر من ثمن المثل ، وهو قادر عليه :

▪︎وما يكره فعلها ، كالقصر في أقل من ثلاثة مراحل :


●●●


👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

 Ada 6 Jenis Keringanan (takhfif) Dalam Syariat



Syaikhul Imam 'Izzudin bin Abdil Aziz bin 'Abdissalam dalam kitabnya, beliau menuliskan pembagian rukhsoh berdasarkan jenisnya :


~


1️⃣. Takhfif isqoth, yaitu keringanan berupa pengguguran. Hukumnya menjadi tidak wajib, seperti tidak wajib sholat jumat, haji dan umroh bagi yang punya udzur yang telah diketahui. 


▪︎[Contoh Udzur : Tidak mampu secara fisik ataupun finansial, sedang haid ataupun nifas]


2️⃣. Takhfif tanqish, yaitu keringanan berupa pengurangan. Contohnya,


1. Sholat qoshor dua rakaat;  

2. Mengurangi perbuatan sholat yang tidak mampu dilakukan oleh orang sakit, seperti rukuk, sujud, dan lain-lain sebatas kemudahan darinya.


3️⃣. Takhfif ibdal, yaitu keringanan berupa penggantian. Contohnya,


1. Wudhu dan mandi wajib diganti dengan tayamum; 

2. Berdiri ketika sholat diganti dengan duduk; 

3. Yang tidak sanggup duduk diganti dengan berbaring; 

4. Yang tidak sanggup berbaring diganti dengan menggerakkan tangan; 

5. Mengganti hukuman dengan berpuasa; 

6. Mengganti puasa dengan memberi makan bagi orang tua sepuh yang tidak sanggup berpuasa;

7. Mengganti sebagian kewajiban haji dan umroh dengan kafarot.


4️⃣. Takhfif taqdim, yaitu keringanan dengan cara didahulukan. Contohnya,


1. Menjamak taqdim ashar pada dzuhur;

2. Jamak taqdim isya pada magrib pada saat Safar dan saat terjebak hujan lebat;

3. Mendahulukan mengeluarkan zakat sebelum haul (batas waktu 1 tahun);

4. Membayar kafarot bagi yang melanggar sumpah.


5️⃣. Takhfif ta'khir, yaitu keringanan dengan cara diakhirkan. Contohnya,


1. Sholat jamak ta'khir;

2. Mengakhirkan puasa Romadhon di bulan berikutnya.


6️⃣. Takhfif tarkhish, yaitu keringanan karena rukhshoh. Contohnya,


1. Sholatnya orang yang bertayamum dengan kondisi berhadats;

2. Sholatnya orang yang bersuci dengan air sisa embun;

3. Memakan sesuatu yang najis untuk pengobatan;

4. Minum khomer saat kondisi darurat;

5. Mengucapkan kata-kata kufur karena mendapat tekanan (berupa ancaman keselamatan).


~


📕Qowa'idil Ahkam fi Ishlahil Anam (Qowa'idul Kubro), juz 2 halaman 12, Cet. Darul Qolam


Rukhsoh bisa disebut juga sebagai takhfif.

Perbedaan takhfif dan rukhsoh, takhfif adalah jenis keringanan nya, sedangkan rukhsoh adalah hukum yang berubah menjadi lebih mudah karena adanya udzur, namun hukum asal tetap berlaku bagi mukallaf yang tidak mengalami udzur.


Dalam kitab Asybah wan Nadzhoir halaman 82, Cet. DKI, karya Imam As Suyuthi, ada tambahan lagi yang disebutkan oleh Imam al 'Alaa-i, untuk yang ke 7️⃣, yakni Takhfif Taghyir (mengubah). Misalnya,


 1. Perubahan bentuk gerakan sholat menjadi lebih simpel, akibat rasa khawatir. 


▪︎[Misalnya sholat ketika sedang berperang, khawatir diserang musuh secara dadakan, maka ada beberapa gerakan sholat yang diubah agar menjadi ringkas, efisien dan aman].


○○○


وهي أنواع :


فصل في بيان تخفيفات الشرع

(منها) تخفيف الإسقاط : كإسقاط الجمعات والصوم والحج والعمرة

بأعذار معروفات .

(ومنها) تخفيف التنقيص : كقصر الصلوات، وتنقيص ما عجز عنه المريض من أفعال الصلوات كتنقيص الركوع والسجود وغيرهما إلى القدر الميسور من ذلك.

(ومنها) تخفيف الإبدال : كإبدال الوضوء والغسل بالتيمم، وإبدال

القيام في الصلاة بالقعود والقعود بالاضطجاع والاضطجاع بالإيماء وإبدال العتق بالصوم، وإبدال الصيام بالإطعام في حق الشيخ الكبير الذي يشق عليه الصيام، وكإبدال بعض واجبات الحج والعمرة بالكفارات عند قيام الأعذار .

(ومنها) تخفيف التقديم : كتقديم العصر إلى الظهر، والعشاء إلى المغرب في السفر والمطر، وكتقديم الزكاة على حولها، والكفارة على حنثها .

(ومنها) تخفيف التأخير : كتأخير الظهر إلى العصر، والمغرب إلى العشاء، ورمضان إلى ما بعده.

(ومنها) تخفيف الترخيص : كصلاة المتيمم مع الحدث، وصلاة المُسْتَجْمِر مع فضلة النجو، وكأكل النجاسات للمداواة، وشرب الخمر للغصة، والتلفظ بكلمة الكفر عند الإكراه. ويُعبر عن هذا بالإطلاق مع قيام المانع، أو بالإباحة مع قيام الحاظر .


●●●


👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

 Boleh Menggabungkan Niat Mandi Sunnah Jumat dengan Niat Mandi Junub, Tapi Lebih Utama Mandi Junub Dahulu Baru Mandi Sunnah. 


☆ 


Syaikh Zainuddin al Malibari dalam kitabnya, beliau menuliskan : 


لو اغتسل لجنابة ونحو جمعة بنيتهما حصلا وإن كان الأفضل إفراد كل بغسل 


Apabila seseorang mandi junub dan semisal mandi Jumat dengan diniati keduanya, maka tercapailah keduanya, walaupun lebih utama adalah menyendirikan masing-masing mandi tersebut


📕Fathul Mu’in 


Syaikh Abu Bakar Syatho’ ad Dimyathi dalam kitabnya, beliau menjelaskan : 


(قوله حصلا) أي حصل غسلهما كما لو نوى الفرض وتحية المسجد  ( قوله وإن كان الأفضل إلخ ) غاية للحصول  وقوله إفراد كل بغسل قال ع ش قال في البحر والأكمل أن يغتسل للجنابة ثم للجمعة ذكره أصحابنا. 


Perkataan Syaikh Zainuddin al Malibari, “maka hasil-lah keduanya”, ~maksudnya hasil kedua mandi itu Sah sebagaimana permasalahan niat sholat fardhu sekaligus niat untuk tahiyyatul masjid. 

Ucapan Beliau, "meski yang lebih utama adalah menyendirikan masing-masing, ini adalah puncak ke-sah-annya. 


Syaikh (ع ش) 'Ali Syibromalisi berkata, Imam ar Ruyani berkata dalam kitab Al Bahrul Madzhab : 


Yang lebih sempurna adalah mandi junub terlebih dahulu, baru kemudian mandi Jumat. Demikian disebutkan oleh para ashab kami. 


~


📕Hasyiyah I’anatuth Tholibin Syarah Fathul Mu'in, juz 1, halaman 96, Cet. Darul Fikr


===


FB Adam Mostafa EL Prembuny


#Mandijumat #mandisunnah #mandiwajib #mandijunub #mandi #niat #sah #sholatjumat #harijumat #sunnah #wajib #fiqih

 Lebih Utama Fardhu Ain atau Fardhu Kifayah?

⬇️


Syaikhul Islam Zakariya Al Anshari dalam kitab

غاية الوصول إلى شرح لب الأصول

yang tercetak pada halaman 193 – 194 penerbit Darul Fath sebagai berikut :


والأصح أنه دون فرض العين


Pendapat yang kuat (al ashoh, الأصح) dalam madzhab Imam Asy Syafi’i adalah fardhu kifayah levelnya di bawah fardhu ain.


أي : فرض العين أفضل منه كما نقله الشهاب ابن العماد عن الشافعي رضي الله عنه. قال ونقله عنه القاضي أبو الطيب، وذلك لشدة اعتناء الشارع به بقصد حصوله من كل مكلف في الأغلب


Maknanya: FARDHU AIN LEBIH UTAMA DARI FARDHU KIFAYAH sebagaimana dinukil oleh Asy Syihab Ibn Imad dari Imam Asy Syafi’i -semoga Allah meridhoinya-. Juga dinukil oleh Qadhi Abu Thayyib dari Imam Asy Syafi’i. Hal ini karena kuatnya perhatian Asy Syari (Allah SWT) ditandai dengan tuntutan agar fardhu ain ini dilaksanakan oleh setiap mukallaf.


ويدل له تعليل الأصحاب تبعا للإمام الشافعي كراهة قطع طواف الفرض لصلاة الجنازة بأنه لا يحسن ترك فرض العين لفرض الكفاية


Keutamaan fardhu ain juga ditunjukkan dari illah hukum yang disampaikan oleh Ashab ulama-ulama Syafiiyah -yang tentu saja mengikuti Imam Asy Syafi’i- bahwa makruh hukumnya memutus thawaf fardhu untuk melaksanakan shalat jenazah karena meninggalkan fardhu ain untuk melaksanakan fardhu kifayah bukan sesuatu yang bagus (bukan sesuatu yang baik, لا يحسن).


Ini adalah pendapat dan alasan yang dikemukakan oleh pihak pertama dimana pendapat inilah yang terkuat.


وقال إمام الحرمين وغيره فرض الكفاية أفضل لأنه يصان بقيام البعض به جميع المكلفين عن إثمهم المترتب على تركهم له وفرض العين إنما يصان بالقيام به عن الإثم الفاعل فقط


Adapun Imam Al Haramain dan ulama lainnya menyatakan bahwa FARDHU KIFAYAH LEBIH UTAMA DARI FARDHU AIN, karena sebab ditunaikannya fardhu kifayah oleh sebagian mukallaf telah melindungi seluruh mukallaf dari dosa akibat diabaikannya fardhu kifayah, sedangkan ditunaikannya fardhu ain terbatas hanya melindungi satu orang pelaku fardhu ain dari dosa akibat tidak dilaksanakannya fardhu ain.

 Hukum Berpuasa Ketika Melihat Orang atau Hewan Yang Hanyut dan Tenggelam 


☆ 


▪︎Seseorang yang sedang berpuasa lalu melihat orang atau hewan ternak yang hanyut atau akan tenggelam, maka dia sudah berusaha lalu cari bantuan, bahkan tidak mendapatkan alat bantu dan sampai akhirnya ia tidak punya cara lain untuk menyelamatkannya kecuali dia harus berenang sendiri dan bahkan menyelam. 


Maka menyelamatkan nya hukumnya Wajib, walau harus membatalkan puasanya karena tertelan air dan sebagainya.


Imam asy Syirbini dalam kitab Mughnil Muhtaj beliau menjelaskan : 


(والأصح أنه يلحق بالمرضع) في إيجاب الفدية في الأظهر مع القضاء، (من أفطر لإنقاذ) آدمي معصوم أو حيوان محترم (مشرف على هلاك) بغرق أو غيره بجامع الإفطار، فيجب عليه الفطر إذا لم يمكنه تخليصه إلا بفطره إبقاء لمهجته 


(Pendapat yang ashoh bahwa mengikuti ketentuan orang menyusui) dalam kewajiban membayar fidyah yg dinyatakan bersama qodho, (termasuk membatalkan puasa untuk menyelamatkan) manusia atau hewan ternak yang sedang terancam binasa seperti tenggelam atau yang lainnya harus dengan membatalkan puasa, maka ia Wajib membatalkan puasa apabila dia tidak dapat melakukan pertolongan kepada nya kecuali dengan membatalkan puasanya untuk mempertahankan keselamatan nyawanya sendiri.



📕Mughnil Muhtaj, Juz 1 hlm. 645, Cet. Dar Ma'rifah. 


===


Dalam hal ini, tidak terbatas menyelamatkan nyawa saja, tapi juga menyelamatkan harta benda dan berkas-berkas penting yang jika tidak diselamatkan maka akan berdampak kerugian yang lebih luas. Namun dengan syarat tidak mengancam keselamatan kita sendiri.


=== 


▪︎Lalu bagaimana jika dia tidak sanggup berenang dan menyelam juga tidak menemukan bantuan maupun alat bantu untuk menyelamatkan korban sampai akhirnya korban pun meninggal? Apakah dia berdosa? Jawabannya, dia tidak lagi dikenai hukum Wajib, dan dia tidak berdosa. 


Imam Asy Syaukani dalam kitab Sailul Jaror, beliau menjelaskan : 


لا شك أن إنقاذ الغريق من أهم الواجبات على كل قادر على إنقاذه فإذا أخذ في إنقاذه فتعلق به حتى خشي على نفسه أن يغرق مثله فليس عليه في هذه الحالة وجوب لا شرعا ولا عقلا فيخلص نفسه منه 


Tidak diragukan lagi bahwa menolong orang yang tenggelam adalah sebuah keharusan dan kewajiban bagi setiap orang yang sanggup menolongnya. Tapi jika ada khawatir dirinya akan terjadi bahaya, seperti dia akan ikut tenggelam seperti si korban, maka secara syariat dan akal, dia Tidak Wajib untuk menolongnya. 



📕Sailul Jaror, halamam 892, Cet. Dar Ibnu Hazm.


=== 


👨‍🏭 Adam Mostafa EL Prembuny 


#puasa #fiqih #qadha #fidyah #wajib #sunnah

💠Ketentuan Jimak Yang Membatalkan Puasa Dan Bayar Kafarot

Syarat Dan Ketentuan Seseorang Dapat Dijatuhi Hukuman Kafarot Puasa Karena Jimak

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


Syaikh Nawawi al Bantani dalam kitab Kasyifatus Sajaa yang mensyarahi kitab Safinatun Najaa, beliau menjelaskan secara rinci, seseorang yang bisa dijatuhi hukuman kafarot kubro karena membatalkan puasa sebab melakukan jimak yakni ada 11 hal yang jadi kriterianya, jadi tidak semua perbuatan berjimak di siang hari saat bulan puasa itu mewajibkan seseorang untuk tebus Kafarot kubro. 

Kaffarot kubro/'udzhma yang dibebankan disebabkan membatalkan puasa dengan berjimak adalah 3 pilihan berurutan, jika no. 1 tidak sanggup maka no. 2, jika 2 tidak sanggup, maka harus melakukan no. 3 :

1. Memerdekakan seorang budak.
2. Berpuasa selama dua bulan berturut-turut.
3. Memberi makan 60 orang miskin, setiap orang adalah 1 mud (675 gram/0,688 L) makanan pokok.

Ini adalah penjelasan Syekh Nawawi tentang syarat seseorang dijatuhi hukuman wajib tebus kafarot kubro :

والحاصل أن شروط وجوب الكفارة أحد عشر : 
1. الأول الواطىء فخرج به الموطوء فلا تجبعليه 
2. الثاني وطء مفسد فلا تجب إلا إذا كان الوطء مفسداً بأن يكون من عامد ذاكرللصوم مختار عالم بتحريمه وإن جهل وجوب الكفارة أو من جاهل غير معذور 
3. الثالثإفساد صوم خرج به الصلاة والاعتكاف فلا تجب الكفارة بإفسادهما 
4. الرابع أن يفسدصوم نفسه خرج به ما لو أفسد صوم غيره ولو في رمضان كأن وطىء مسافر أو نحوهامرأته ففسد صومها 
5. الخامس في رمضان وإن انفرد بالرؤية أو أخبره من يثق به أو مناعتقد صدقه 
6. السادس بجماع ولو لواطاً أو إتيانيمة أو ميت وإن لم ينزل قاله الزيادي 
7. السابع أن يكون آثماً بجماعه فخرج به ما لو كان صبياً وكذا لو كان مسافرًاً أو مريضاً وجامع بنية الترخص فإنه لا إثم عليه 
8. الثامن أن يكون إثمه لأجل الصوم فقط 
9. التاسع أنيفسد صوم يوم ويعبر عنه باستمراره أهلاً للصوم بقية اليوم فخرج ما لو وطىء بلا عذرثم جن أو مات في اليوم لأنه بان أنه لم يفسد صوم يوم 
10. العاشر عدم الشبهة فخرج مالو ظن وقت الوطء بقاء الليل أو دخوله أو شك في أحدهما فبان ارًاً أو أكل ناسياً وظن أنه أفطر به ثم وطىء عامداً 
11. الحادي عشر كون الوطء يقيناً فيرمضان خرج به مالو اشتبه الحال وصام بتحر أي باجتهاد ووطىء ولم يتبين الحال فلا كفارة عليه

Kesimpulannya adalah bahwa syarat wajib menebus kafarot ada 11 :

1. Kewajiban kafarot hanya dibebankan kepada wati` (pihak yang menjimak), dan bukan mautu` (pihak yang dijimak). Oleh karena itu, membayar kafarot tidak diwajibkan atas mautu`.

2. Jimak yang dilakukan memang membatalkan puasa. Oleh karena itu, kewajiban membayar kafarot hanya berlaku saat jimak yang dilakukan memang membatalkan puasa, seandainya orang yang menjimak adalah orang yang sengaja, yang dia sadar kalau dirinya lagi berpuasa, yang dia tidak dipaksa, yang dia tahu tentang keharamannya meskipun dia tidak tahu tentang aturan membayar kafarot, dan yang tidak tahu (bodoh) dengan kebodohan yang tidak diudzurkan. (Maka yang demikian jatuh kafarot).

3. Yang dirusak adalah ibadah puasa. Selain puasa, seperti ibadah sholat atau i'tikaf, maka tidak ada kewajiban kafarot.

4. Jimak yang dilakukan merusak puasa orang yang menjimak itu sendiri. 
》Beda kalo jimak tersebut merusak puasa orang lain meskipun di bulan Romadhon, seperti; orang yang sedang Safar atau yang sedang udzur lainnya, lalu dia menjimak istrinya, maka puasa istrinya menjadi rusak. (Maka dia dan Istrinya tidak wajib menebus kafarot).

5. Jimak terjadi di bulan Romadhon, meskipun orang yang menjimak adalah satu-satunya orang yang bisa melihat hilal, atau dia diberi tahu oleh orang yang terpercaya tentang rukyat hilal, atau dia adalah orang yang meyakini tentang kebenaran kabar dari orang lain yang melihat hilal.

6. Puasa menjadi rusak dengan jimak meskipun liwaat (penetrasi ke anus), atau dengan memperk0sa binatang atau mayit, walaupun tidak sampai mengeluarkan air mani, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Az-Ziyadi.

7. Berdosa sebab jimaknya. 
》Kecuali jimak yang dilakukan oleh anak kecil, musafir, orang sakit, dan orang yang berjimak dengan niat mengambil hak rukhshohnya, karena jimak yang mereka lakukan ini tidak berdosa.
 
8. Dosa jimak si pelaku hanya karena puasanya aja. (Bukan karena yang lain).

9. Jimak merusak puasa sehari yang diibaratkan dengan kondisi yang mana orang yang berjimak tetap lanjut berpuasa pada hari itu.
》Kecuali, kalo dia berjimak tanpa ada udzur pada hari tertentu di bulan Romadhon, kemudian dia mengalami gila, atau meninggal pada hari itu juga, maka dia tidak wajib menebus kafarot, karena jimak yang dia lakukan belum membatalkan durasi puasa utuh pada hari tersebut.

10. Tidak ada unsur syubhat (ragu-ragu).
》Kecuali kalo orang yang berpuasa tersebut menyangka bahwa waktu dia berjimak itu masih malam (belum subuh), atau sudah masuk malam (sudah magrib), atau ragu dengan salah satu dari keduanya, ternyata waktu dia berjimak, hari telah siang (sudah subuh) atau masih siang (belum magrib). 
Atau kalau dia makan/minum karena lupa, dan dia sadar kalau makan nya tersebut sudah membatalkan puasanya, kemudian dia menjimak istrinya dengan sengaja, maka dua keadaan ini, dia tidak wajib menebus kafarot.

11. Jimak terjadi secara pasti di dalam bulan Romadhon. Kecuali kalau keadaan masuk atau tidaknya bulan Romadhon ini masih belum jelas, kemudian dia berpuasa dengan cara berijtihad dahulu, lalu dia menjimak istrinya, dan ternyata keadaan masuk atau tidaknya bulan Romadhon tetap saja belum jelas, maka dalam hal ini, tidak ada kewajiban baginya untuk membayar kafarot.

Dan berdosalah orang yang sengaja membatalkan puasa romadhon (tanpa udzur), dan dia wajib mengqodho’ puasa yang ditinggalkan, tetapi tidak perlu membayar fidyah. Berbeda jika membatalkan puasa dengan jimak, maka wajib qodho’ dan menebus kafarot""

~

📕Kasyifatus Sajaa 'Ala Safinatun Najaa, halaman 112. Cet. Dar Ibnu Hazm.

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#puasa #batal #sah #jimak #kafarat #kafarot #fiqih

💠Wajib Bayar Zakat Jika Mendapati Sebagian Ramadan dan Syawal

Syarat Diwajibkannya Mengeluarkan Zakat Fitrah Minimal Hidup dan Mendapati Sebagian Waktu Dari Bulan Ramadhan Dan Syawal

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

☆ 

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Mirqotus Su'ud Syarah Sullamut Taufiq. 
Beliau menjelaskan di antara syarat wajib mengeluarkan zakat fitrah adalah seseorang hidup atau minimal mendapati sebagian dari 2 masa bulan, yakni Ramadhan dan bulan Syawal. Dan dalam Islam, pergantian hari dan bulan bukan dimulai pada pukul 00.00, tapi dimulai sejak waktu maghrib atau adzan maghrib dikumandangkan.
Berikut penjelasan beliau : 

(وزكاة الفطر) أى فطر شهر رمضان (تجب) اجماعا ولا اعتبار بمن شذ في ذلك ووجوبها (بادراك جزء من رمضان وجزء من شوال) وحينئذ فيخرج عن مات بعد الغروب وكان عنده فيه حياة مستقرة كما نبه عليه الأذرعى ,دون من ولد بعده أفاد ذلك الرملي 

"[Dan Zakat Fitrah] yakni Zakat Fitrah di bulan Romadhon itu [diwajibkan] secara ijmak. Kewajibannya [disebabkan mendapati sebagian waktu dari bulan Romadhon dan Syawal], karena dia mendapati waktu tenggelamnya matahari di hari terakhir Romadhon dan mendapati sebagian waktu Romadhon sebelum matahari terbenam. Maka, zakat fitrah wajib dikeluarkan dari orang yang meninggal setelah tenggelamnya matahari di hari terakhir bulan Romadhon, yang mana saat proses tenggelamnya matahari, dia masih hidup, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam al Adzro'iy.

Kecuali bayi yang dilahirkan setelahnya (tenggelamnya matahari di hari terakhir bulan Romadhon) maka tidak wajib (dikeluarkan zakat fitrahnya), sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam ar Romli."

📕Mirqatus Su'ud at Tasydiq fi Syarah Sullam Taufiq, halaman 73, Cet. Darul Kutub Ilmiyah. 

=

Penjelasan Tentang Meninggal dan Lahir 

▪︎Definisi Meninggal/Mati. 

Mati (kbbi): Sudah hilang nyawanya, Tidak bernyawa.
Mati (medis) : Berhentinya fungsi jantung, pernapasan, dan saraf pusat secara permanen.

Jadi, kalau seseorang masih sakaratul maut atau kejang-kejang menuju nafas terakhir, maka dia belum dikatakan sebagai meninggal (mati). Tapi jika terpenuhi 3 hal tadi (yakni : jantung, nafas dan syaraf sudah tidak berfungsi), maka dia baru bisa dipastikan atau dinyatakan "Meninggal dunia/mati". 

▪︎Definisi Lahir

Lahir (kbbi) : Keluar dari kandungan.
Lahir (medis) : Peristiwa keluar dan terpisahnya tubuh bayi dari rahim ibunya. 

Jadi kalau baru proses bukaan 1-10 yang butuh waktu lama, atau baru muncul kepala bayi nya saja, atau baru sebagian organ bayi yang keluar, maka itu BELUM dikatakan sebagai "Lahir", sebab masih dalam proses keluar.
Dikatakan "Lahir" jika seluruh tubuh bayi telah keluar semua dari dalam rahim dan terpisah dari tubuh ibunya. 

*Jadi misalnya, jika Adzan waktu Magrib adalah tepat jam 6 sore atau pukul 18.00, maka perinciannya sebagai berikut : 

1. Meninggal dunia/mati 
– Bagi seseorang yang dipastikan atau dinyatakan meninggal sebelum pukul 18.00, maka TIDAK WAJIB dikeluarkan zakat fitrah atas dirinya.
– Tapi, kalau seseorang dipastikan atau dinyatakan meninggal setelah pukul 18.00, maka WAJIB dikeluarkan zakat fitrah atas dirinya. 

2. Bayi Lahir 
– Bagi bayi yang lahir, jika lahirnya sebelum pukul 18.00, maka si bayi WAJIB dikeluarkan zakat fitrah atas dirinya.
– Dan jika lahirnya setelah pukul 18.00, maka si bayi TIDAK WAJIB dikeluarkan zakat fitrah. 

=== 

👨‍🏭 Adam Mostafa EL Prembuny

#zakatfitrah #wajib #ramadhan #syawal #fiqih

💠Utang Zakat Fitrah Sekian Tahun, Maka Wajib Qodho

Pernah Tidak Bayar Zakat Selama Beberapa Tahun Yang Telah Berlalu, Maka Wajib Qodho, Membayar Sebanyak Jumlah Tahun Yang Ditinggalkan

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


Syaikh Dr. Muhammad Az Zuhaili dalam kitabnya, beliau menjelaskan :

إذا وجبت الزكاة - بشروطها - على المسلم، ومضت سنون، ولم يؤدها، لزمه إخراج الزكاة عن جميع السنوات الماضية، سواء علم وجوب الزكاة أم لا ، وسواء كان في دار الإسلام، أم في دار الحرب . 
وإذا غلب أهل البغي على بلد، ولم يؤد أهل ذلك البلد الزكاة أعواماً، ثم ظفر بهم الإمام أخذ منهم زكاة الماضي . 

"Apabila seorang muslim yang berkewajiban Zakat terpenuhi syarat-syaratnya, dan beberapa tahun yang telah berlalu dia tidak menunaikan zakat, maka wajib baginya untuk menunaikan zakat untuk seluruh tahun-tahun yang telah berlalu tersebut, baik dia tahu ataupun tidak tahu tentang kewajiban bayar Zakat, dan baik dia berada di negeri Islam maupun di negeri kafir. 

Dan jika pemberontak menguasai suatu negeri, dan penduduk negeri itu tidak membayar zakat sekian tahun, kemudian pemerintah berhasil mengalahkan mereka, maka pemerintah harus menarik zakat yang telah berlalu dari para penduduk."


📕Al Mu'tamad fil Fiqhi Syafi'iy, juz 2 halaman 17, Cet. Darul Qalam

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#zakatfitrah #qadha #fiqih #bayarzakat #hutangzakat

💠Satu Orang Berkurban, Syiar Kesunnahan Tercukupi Sekeluarga

Sunnah Kifayah Qurban ~ Satu Orang Yang Berkurban, Satu Keluarga Terpenuhi Syiar Kesunnahannya, Tapi Pahala Qurban Hanya Bagi Yang Melaksanakannya Saja

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


Dalam madzhab Syafii, hukum ibadah qurban adalah Sunnah Muakadah. Sunnah kifayah dalam berqurban adalah adalah jika dalam keluarga (yang tinggal di 1 rumah) ada 1 orang saja yang mampu mengeluarkan harta untuk berqurban,  entah itu ayah, ibu, suami, om, tante, istri, anaknya atau keponakannya, maka syiar kesunnahan terpenuhi bagi seluruh anggota keluarga. Tapi pahala tetap untuk mudhohi saja atau pihak yang melaksanakan saja.

Menurut Imam ar-Ramli, Pahala berkurban Kambing itu bisa dihadiahkan dengan niat mengikutsertakan juga orang lain yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Tapi menurut Imam Ibnu Hajar al Haitami, pahalanya hanya bisa diniatkan untuk dihadiahkan kepada yang sudah wafat saja. Namun keduanya tetap menyatakan bahwa yang berstatus sebagai Mudhohi adalah pihak yang diatasnamakan saja.

Jika dalam keluarga ada anggota keluarga yang memenuhi kesanggupan dan punya keluasan harta untuk berqurban namun dia tidak melaksanakan. Maka  ini hanya dimakruhkan, dan tidak sampai berdosa karena bukan Fardhu Kifayah.

Imam Taqiyudin al Hishni menjelaskan :

، فالتضحية سنة على الكفاية ، إذا فعلها واحد من أهل بيت تأدى عن الكل حق السنة ، ولو تركها أهل بيت كره لهم ذلك ، والمخاطب بها الحر القادر,

"Hukum berqurban adalah Sunnah Kifayah. Jika satu anggota keluarga melaksanakan, maka terpenuhilah kesunnahan dalam keluarga tersebut. Dan jika dalam satu keluarga itu tidak ada yang berqurban, maka makruh hukumnya bagi mereka. Dan yang diperintahkan untuk berqurban adalah mereka yang merdeka (bukan budak) dan mampu melaksanakannya."

📕Kifayatul Akhyar, halaman 627, Cet. Dar Basyair.

=

Jika 1 orang dari keluarga berqurban 1 kambing, maka syiar kesunahan ibadah qurban untuk 1 keluarga tersebut sudah terpenuhi walaupun anggota keluarga lebih dari 7 orang. Tapi tetap, pahalanya untuk satu orang yang berqurban. Ini disebut Sunnah Kifayah dalam satu keluarga. Sebagaimana syiar Fardhu Kifayah sholat jenazah di satu kampung. 

Mensholati jenazah adalah kewajiban kifayah seluruh warga kampung (yang mukallaf) . Jika gak ada satupun dari mereka yang melakukannya, maka semua warga tersebut dapat dosa. Tapi jika ada 1 orang saja yang melakukannya, maka gugur kewajiban semuanya. Tapi tetap, pahala hanya bagi yang melakukannya saja. Kalau semua warga kampung ingin dapat pahalanya, maka harus ikut melaksanakannya.

Dan syiar Sunnah Kifayah berbeda dengan niat untuk diatasnamakan. Kalau diniatkan untuk diatasnamakan, maka qurban harus dengan Unta atau Sapi, dan hanya cukup untuk 7 orang anggota keluarga saja. Dari 7 orang ini juga boleh berasal dari kelompok keluarga yang lain. Gak harus berasal dari keluarga yang sama. 

Jadi, jika setiap anggota keluarga ingin mendapatkan pahala berqurban. Tidak cukup 1 ekor kambing, karena 1 kambing hanya bisa diatasnamakan 1 orang saja.

Imam An-Nawawi menjelaskan :

تجزئ الشاة عن واحد ولا تجزئ عن أكثر من واحد. لكن إذا ضحى بها واحد من أهل البيت تأدى الشعار في حق جميعهم. وتكون التضحية في حقهم سنة كفاية. وتجزئ البدنة عن سبعة وكذا البقرة. سواء كانوا أهل بيت أو بيوت.

"Kambing hanya boleh diatasnamakan 1 orang dan tidak boleh lebih. Tapi jika salah satu anggota keluarga ada 1 orang saja yang berqurban maka Syiar kesunnahan terpenuhi untuk mereka semua. Dan berqurban bagi keluarga adalah Sunnah Kifayah. Dan Unta hanya boleh diatasnamakan paling banyak 7 orang saja, begitu juga Sapi. Baik yang tujuh orang itu berasal dari satu keluarga maupun dari beberapa keluarga."

📕Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, halaman 306, jilid 9, Cet. Darul Kutub Ilmiyah

===

👨‍🏭dam Mostafa EL Prembuny 

#kurban #qurban #sunnah #sunnahkifayah #pahala #kesunnahan

💠Patungan Kurban 7 Orang Untuk 1 Sapi, Sahamnya Harus Sama

Patungan Kurban 7 Orang Untuk Beli Sapi/Unta, Sahamnya Harus Sama. Kalau Kurang Dari 1/7, Maka Qurbannya Tidak Sah

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


Dalam fiqih Madzhab Syafii, Hanafi dan Hanbaliy, 7 orang yang patungan untuk beli kurban Sapi/Unta, masing-masing pihak harus sama jumlah uang yang disetornya, semua rata 1/7 (sepertujuh). Misalnya harga Sapi adalah Rp 70.000.000 (tujuh puluh juta rupiah), maka masing-masing pihak harus setor 10 juta pas. 

Jadi, kalau ada yang nyetor kurang dari Rp 10.000.000 (sepuluh juta), misalnya dari 7 orang itu ada satu orang yang nyetornya kurang 100 ribu rupiah atau bahkan kurang seribu rupiah pun, maka status kurbannya si satu orang tersebut Tidak Sah, walau Sapinya udah terlanjur disembelih. Dan daging bagiannya hanya berstatus sebagai daging sembelihan biasa atau sedekah saja. Tapi status kurban pihak lain yang bayarnya tidak kurang dari 1/7, maka tetap Sah.

Dan yang perlu diingat, kata kuncinya adalah "Atas Nama" nya, jadi mau jumlah orang yang patungan lebih dari 7 orang, misalnya 8, 10, 50, 100 dan sebagai nya, tapi diniatkan atas namanya tetap 7 orang, maka kurban nya tetap Sah untuk 7 orang tersebut. Dengan catatan, orang-orang selain dari 7 orang itu telah mengetahui dan menghibahkan uang sumbangannya untuk 7 orang yang diatasnamakan tadi.

Dan 7 orang itu pun terhitung menunaikan ibadah kurban. Sisanya atau selain dari 7 orang tadi tidak terhitung telah menunaikan kurban, tapi hanya mendapat pahalanya saja karena sudah ikut bantu nyumbang untuk membeli hewan kurban tersebut. Bagi si fulan yang nyetornya kurang, ia harus diberitahu atas kekurangannya, dan pihak lain juga boleh membantu/menalangi kekurangan si fulan tersebut dengan kerelaan.

1️⃣ Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan dalam kitabnya sebagai berikut :

ويصح عند غير المالكية الاشتراك في الأضحية إذا كانت من الإبل أو البقر،
 فيصح اشتراك سبعة في بقرة أو ناقة إذا ساهم كل واحد منهم بالسبع . ولا يصح أكثر من سبعة ، ولا المساهمة بأقل من السبع

"Selain Madzhab Malikiy, Patungan (membeli hewan untuk) kurban itu Sah jika hewan yang akan dikurbankan adalah Unta atau Sapi.
Maka Sah hukumnya hasil patungan 7 orang untuk hewan yang berupa Unta atau Sapi dengan syarat masing-masing pihak bersaham sepertujuh bagian. Adapun jika jumlah peserta patungan lebih dari tujuh orang atau ada pihak yang bersaham kurang dari sepertujuh bagian, maka kurban tersebut tidak sah."

📕Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu, juz 3 halaman 602, Cet. Darul Fikr 

=

2️⃣. Masalah ini juga dijelaskan oleh Komite Fatwa Universitas Al Azhar Mesir, sebagai berikut : 

لجنة الفتوى بمجمع البحوث الإسلامية بالأزهر الشريف :  
فلا مانع من الاشتراك فى البقرة كأضحية بشرط ألا يزيد المشتركون على سبعة، ولا يقل نصيب الواحد عن السُّبع، فلا يجزئ اشتراك أحدهم بأقل من السبع. 
وذلك لحديث جابر قال: "نحرنا مع رسول الله ﷺ البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة" رواه مسلم،  وعنه قال: "خرجنا مع رسول الله ﷺ مهلين بالحج فأمرنا رسول اللهﷺ أن نشترك فى الإبل والبقر كل سبعة منا فى بدنة." رواه مسلم. 
فإذا اشترك أحد المضحين بأقل من السبع لم تصح أضحيته، فقد يريد اللحم أو مجرد التصدق؛ فله ذلك، لكنها ليست أضحية، ولا يؤثر ذلك على سائر المشتركين. 

Komite Fatwa Islam Al-Azhar Asy-Syarif :  

Tidak mengapa patungan kurban seekor sapi, dengan dua syarat : 

1. Jumlah orang yang ikut patungan tidak lebih dari tujuh orang.
2. Bagian (biaya yang dikeluarkan) masing-masing pihak tidak kurang dari sepertujuh. 

Tidak halal bagi salah seorang di antara mereka untuk patungan kurang dari sepertujuh. 
Hal ini berdasarkan hadits dari sahabat Jabir, dia berkata:
“Kami pernah menyembelih kurban bersama Rasulullah ﷺ pada tahun Hudaibiyah dengan Unta untuk 7 orang, dan dengan Sapi juga untuk 7 orang.” 
📜HR. Imam Muslim. 

Dan dari sahabat Jabir, dia berkata:
"Kami pernah pergi haji bersama Rasulullah ﷺ Lalu beliau memerintahkan kami untuk patungan kurban unta dan sapi. Tujuh orang untuk setiap satu ekor."
📜HR. Imam Muslim. 

Jika ada pihak atau ada satu orang di antara orang-orang yang patungan kurban itu ternyata menyetorkan biaya kurang dari sepertujuh, maka kurbannya si orang tersebut tidak sah.
 
Jadi, apabila dia ingin memberikan dagingnya atau sekadar bersedekah, maka dia boleh melakukannya, tetapi itu bukan berstatus sebagai kurban. Dan hal ini tidak mempengaruhi keabsahan kurban orang-orang selain dirinya. 
{Artinya, status kurban pihak lainnya tetap sah}. 

🌐Sumber : 
https://www.facebook.com/share/p/19dQzpu1uM/
https://www.facebook.com/share/p/19ATWJbqFW/

=

3️⃣. Lembaga Fatwa Darul Ifta` Mesir juga pernah menjelaskan hal serupa, bahkan non muslim boleh ikut berpatungan 1 ekor sapi/unta dengan niat (tujuan) yang berbeda.
Berikut isi fatwanya: 

○Pertanyaan tentang Kurban 
Tanggal Fatwa: 3  November  2011
Nomor Fatwa : 3450
Fatwa : Syaikh Dr. Muhammad 'Ali Jum'ah
Klasifikasi : Penyembelihan 
السؤال الثامن عشر: هل يجوز الاشتراك في الأضحية؟
Pertanyaan ke 18 : Apakah boleh berpatungan dalam berkurban 

حكم الاشتراك في الأضحية
إجابة السؤال الثامن عشر: يجوز الاشتراك في الأضحية بشرطين:
الأول: أن تكون الذبيحة من جنس الإبل أو البقر، ولا يجوز الاشتراك في الشياه.
الثاني: البدنة تجزئ عن سبعة والبقرة تجزئ عن سبعة بشرط ألا يقل نصيب كل مشترك عن سبع الذبيحة. ويجوز أن تتعدد نيات السبعة، ويجوز أن يتشارك المسلم مع غير المسلم فيها، ولكل منهم نيته. 

Hukum berpatungan dalam berkurban
Jawaban pertanyaan ke 18: 

Dibolehkan ikut ambil bagian (patungan) dalam penyembelihan hewan qurban, dengan terpenuhinya 2 syarat: 

1. Hewan qurbannya harus Unta atau Sapi, dan tidak boleh ikut patungan dalam penyembelihan Kambing.
2. Satu Unta cukup untuk tujuh orang, dan 1 Sapi cukup untuk tujuh orang, dengan ketentuan bagian masing-masing pihak membayar tidak kurang dari harga 1/7 (sepertujuh) dari harga hewan yang disembelih. Boleh beragam niatnya (tujuannya), dan seorang Muslim boleh patungan dengan seorang non Muslim, dan masing-masing dengan niatnya (tujuannya) sendiri. 

🌐Sumber : 
https://www.dar-alifta.org/ar/fatwa/details/13021/%D8%A7%D8%AB%D9%86%D8%A7%D9%86-%D9%88%D8%B9%D8%B4%D8%B1%D9%88%D9%86-%D8%B3%D8%A4%D8%A7%D9%84%D8%A7-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%B6%D8%AD%D9%8A%D8%A9

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny 

#kurban #patungankurban #sunnah #sah #fiqih #darulifta #alazhar #mesir #fatwa

Sabtu, 31 Januari 2026

💠Disunnahkan Berdoa Dan Sholat Sunnah Ketika Terjadi Bencana

Disunnahkan Berdoa dan Mendirikan Sholat Sunnah Saat Terjadi Bencana

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

Disunnahkan berdoa lalu mendirikan shalat sunnah ketika terjadi bencana alam, tapi tidak perlu berjamaah.

Imam Abul Abbas Syihabuddin Al-Qostholani dalam kitabnya, beliau menjelaskan tentang kesunnahan berdoa dan mendirikan shalat sunnah ketika atau setelah terjadi bencana alam jika memungkinkan. Untuk mencegah kekhawatiran dan ketakutan berlebih sebagai upaya berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, ya tidak perlu memaksakan diri, sebab ini syariat kesunnahan, bukan kewajiban.

Imam Al-Qostholani juga menjelaskan bahwa sebaiknya berdoa dan shalat tersebut dilakukan di rumah secara sendirian, tidak dilakukan berjamaah. Karena, ketika sedang sendirian, seseorang akan lebih khusyuk dan fokus dalam berdoa memohon perlindungan.

Berikut teks arabnya :
 
ويستحب لكل أحد أن يتضرع بالدعاء ونحوه عند الزلازل ونحوها كالصواعق والريح الشديدة و الخسف وأن يصلي منفردا لئلا يكون غافلا لأن عمر رضي الله عنه حث على الصلاة في زلزلة ولا يستحب فيها الجماعة
 
Artinya, "Disunnahkan bagi setiap orang untuk berdoa dan sebagainya ketika terjadi gempa bumi, petir, angin kencang, dan tanah longsor. Dan hendaknya ia mendirikan shalat (sunnah) secara sendiri agar tidak menjadi (hamba yang) lalai. Hal ini karena Sayidina Umar bin Khattab RA telah menganjurkan untuk shalat (sunnah) ketika terjadi gempa bumi, dan tidak dianjurkan untuk berjama'ah dalam shalat tersebut." 

📕Irsyadus Sariy, Syarh Shahih Bukhari, jilid 3 halaman 63. Cet. Darul Kutub Ilmiyah.

~

Lafadz doa yang bisa dibaca setelah shalat sunnah atau ketika terjadi bencana alam :

  اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ

Allahumma innii as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa, wa khoiro maa arsaltabihi wa a'uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarrimaa arsaltabihi

🤲“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang di dalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan atas apa yang terjadi didalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan.”

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#bencanalam #gempabumi #shalatsunnah #doa

💠Pertanyaan Seputar Sholat Gerhana

Beberapa Pertanyaan Seputar Sholat Gerhana 

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

1. Selesai Sholat Kusuf, Gerhana Masih Berlangsung, Bolehkah Melakukannya Lagi? 
2. Baru Dapat 1 Rakaat, Gerhana Selesai. Apakah Sholat Jadi Batal? 
3. Bolehkah Meringkas Sholat Kusuf?

🤷‍♂️Selesai melaksanakan sholat kusuf, tapi gerhana masih berlangsung, boleh menambah sholat lagi atau tidak? 

✅Jawab :

Tidak dianjurkan dan tidak perlu menambah atau melakukannya lagi. 

🤷‍♂️Ketika sedang sholat kusuf, dan baru mendapat 1 rakaat atau masih dalam posisi sholat, tiba-tiba gerhana selesai dan bulatan Bulan/Matahari kembali utuh. Apakah sholat kita menjadi batal? 

✅Jawab : 

Tidak batal. Dan tetap harus menyelesaikan proses sholat sampai salam. Selesainya proses gerhana itu tidak membatalkan shalat.

🤷‍♂️Sholat Kusuf itu 2 kali ruku' dan 2 kali berdiri; untuk 1 rakaat. Demi menyesuaikan dengan durasi gerhana yang hanya sebentar saja, bolehkah kita mencukupkan diri dengan 1 ruku' dan 1 berdiri; untuk 1 rakaat? 

✅Jawab : 

Kalau ikut pendapat ulama yang membolehkan menambah ruku' ke-3, ke-4, dst. , maka Boleh juga menguranginya menjadi 1 ruku saja tiap rakaatnya.

Jika ikut pendapat ulama yang hanya menetapkan 2 ruku' dan 2 berdiri; untuk 1 rakaat, maka ruku' tidak boleh dikurangi. Jadi tetap laksanakan 2 ruku' dan 2 kali berdiri; untuk 1 rakaat.

=

🔰Telah dijelaskan secara rinci oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, beliau menjelaskan sebagai berikut : 

ولو كان في القيام الأول فانجلى الكسوف لم تبطل صلاته وله أن يتمها على هيئتها المشروعة بلا خلاف، 

"Apabila proses gerhana sudah usai saat shalat baru dapat satu rakaat, shalat tetap tidak batal, maka harus meneruskan shalat dengan tatacaranya seperti yang disyariatkan hingga selesai. Tidak ada ikhtilaf ulama dalam hal ini."

وهل له أن يقتصر على ركوع واحد وقيام واحد في كل ركعة؟ فيه وجهان؛ بناء على الوجهين في جواز الزيادة للتمادي : إن جوزناها جاز النقصان بحسب مدة الكسوف، وإلا فلا. 

"Dan apakah boleh membatasi diri hanya satu kali ruku' dan satu kali berdiri untuk setiap rakaat? 

Ada dua pendapat tentang hal ini, berdasarkan dua pendapat tentang kebolehan menambah ruku' untuk melanjutkan shalat : Jika ikut pendapat yang diperbolehkan, maka boleh pula dikurangi sesuai durasi gerhana, jika ikut pendapat yang tidak, maka tidak boleh dikurangi. (Maksudnya : Tetap laksanakan 2 rukuk 2 berdiri per 1 rakaat)."

ولو سلم من صلاة الكسوف - والكسوف باق - فهل له استفتاح صلاة الكسوف مرة أخرى؟ فيه وجهان خرجهما الأصحاب على جواز زيادة الركوع، والصحيح المنع من الزيادة والنقص ومن استفتاح الصلاة ثانيا، والله أعلم 

"Apabila shalat kusuf telah ditunaikan, namun proses gerhana masih berlangsung, bolehkah melakukan shalat kusuf lagi? 

Ada dua riwayat pendapat dalam hal ini, oleh ashab kami didasarkan pada masalah bolehnya menambah bilangan rukuk. Menurut pendapat yang shahih, TIDAK BOLEH menambah ataupun mengurangi, atau melakukan shalat kusuf lagi. Wallahu a'lam".

• 

📕Majmu' Syarah al Muhadzab, jilid 6 halaman 85, Cet. Darul Kutub Ilmiyah.

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny 

#shalatgerhana #fiqih #shalatkusuf #shalatkhusuf #shalatsunnah

💠Bangunan Runtuh Timbulkan Kerugian, Pemilik Wajib Ganti Rugi?

Kecelakaan Bangunan Runtuh, Apakah Pemilik Wajib Ganti Rugi?

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

Kecelakaan bangunan runtuh memakan korban jiwa dan harta benda, apakah pemiliknya wajib membayar ganti rugi?

Syaikh Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitab Fiqhul Islamiy wa Adillatuh telah menjelaskan rincian hukumnya secara mendetail dalam Jilid 6, Bab Jinayat, Pasal 4, Pembahasan Ke-2, tentang "Kecelakaan Bangunan atau Tembok Runtuh".

⛔Jika ada kejadian musibah bangunan runtuh atau tembok ambruk, lalu menyebabkan kerugian harta, tubuh, dan jiwa. Maka ada hal-hal yang perlu diperhatikan tentang konsekuensi bagi mutasabbib.

▪︎ Mutasabbib adalah pelaku tidak langsung, dalam hal ini adalah pimpinan, pemilik, pengurus, serta segenap penanggung jawab suatu proyek atau fasilitas.

▪︎ Sedangkan Mubasyir adalah pelaku secara langsung yang menyebabkan terjadinya kecelakaan (accident). Contohnya; Pekerja lapangan, teknisi, tukang, kuli.

Telah kami (Penulis) pelajari dari penjelasan Syaikh Wahbah dan kami simpulkan sebagai berikut :

=

🏘 Bangunan yang runtuh dan menimbulkan kerugian harta, tubuh dan jiwa. Disebabkan oleh 2 hal :

1️⃣. Terdapat defect (cacat) sejak awal atau kesalahan prosedur ketika sedang proses pengerjaannya, atau tidak mengikuti peraturan yang berlaku, atau kelalaian dalam perawatan serta pemeliharaan.

2️⃣. Karena ada defect (cacat) baru di kemudian hari atau disebabkan hal-hal lainnya di luar otoritas pemilik.

▪︎ Jika setelah diselidiki/investigasi, ternyata yang nomer 1, menurut kesepakatan Fuqaha, maka :

Sang pemilik (Mutasabbib) wajib bertanggungjawab membayar Diyat (Uang tebusan nyawa/tubuh) jika ada korban jiwa dan cacat/luka, serta Ta'widh (ganti rugi harta) jika ada kerugian materiil.

=

▪︎ Namun jika setelah diselidiki/investigasi, ternyata yang nomer 2, maka ada dua pendapat Fuqaha :

A. Dalam madzhab Syafi'i dan Hanbali :

~ Pemilik tidak wajib bertanggungjawab bayar Diyat ataupun Ta'widh, apapun keadaannya.

B. Dalam madzhab Hanafi dan Maliki, ada 2 perincian :

~ Jika sang pemilik sudah mendapat peringatan, perintah atau himbauan untuk melakukan perbaikan/pembongkaran lebih awal, namun malah tidak segera dilakukan, maka jika terjadi kecelakaan, sang Pemilik wajib bayar denda Diyat dan Ta'widh.

~ Jika sang pemilik tidak atau belum mendapat peringatan, perintah, atau himbauan untuk melakukan pembongkaran/perbaikan lebih awal, maka jika terjadi kecelakaan, sang Pemilik tidak wajib bayar denda.

Dan jika pemilik sudah menerima peringatan dan akan melakukan proses perbaikan, namun gedung malah ambruk sesaat sebelum dilaksanakan, maka pemilik juga tidak wajib bayar denda jika terdapat kerugian, sebab ia sudah berupaya melakukan pencegahan.



📕Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu, jilid 6 halaman 379-382, Cetakan Darul Fikr.

===

🧑‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#fiqihjinayat #bangunanruntuh #bangunanambruk #diyat #dhoman #gantirugi #kecelakaan #k3 #accident #fiqhulislamiywaadillatuh #wahbahzuhaili



Teks Arab :

المبحث الثاني ـ جناية الحائط المائل ونحوه مما يحدثه الرجل في]
[الطريق ـ سقوط البناء أو الجدار

يجب في الجملة في حالة سقوط البناء الضمان على المتسبب في إحداث الضرر، إما لأنه يمكن الاحتراز عنه، أو بسبب تقصيره وإهماله. وإذا حدث موت، فالدية تجب على عاقلة مالك البناء، لأنه متسبب. لكن لا تجب عليه الكفارة ولا يحرم من الميراث والوصية عند الحنفية، كما هو المقرر عندهم في حالة القتل بالتسبب، وعلى هذا إذا كانت الجناية على نفس فالواجب هو الدية، وإذا كانت على ما دون النفس فالواجب بها الأرش على العاقلة إن بلغ عند الحنفية نصف عشر دية الرجل وعشر دية الأنثى. وإن كانت الجناية على المال فيجب التعويض في مال المتسبب.

[المطلب الأول ـ سقوط البناء أو الجدار بسبب خلل أصلي فيه]

لا خلاف بين الفقهاء في وجوب ضمان الضرر الحادث بسبب سقوط البناء أو الجدار الذي بناه صاحبه مائلا إلى الطريق العام أو إلى ملك غيره؛ لأنه متعد بفعله، فإنه ليس لأحد الانتفاع بالبناء في هواء ملك غيره، أو هواء مشترك، ولأنه ببنائه المشتمل على الخلل يعرضه للوقوع على غيره في غير ملكه (٢).
ومثله: ما تولد من جناح (٣) إلى شارع، سواء أكان يضر أم لا، أذن فيه الإمام أم لا، أو ما يتلف بالميازيب المخرجة إلى الشارع أو بما سال من مائها؛ لأنه ارتفاق بالشارع، والارتفاق بالشارع مشروط بسلامة العاقبة، فكل ما يحدث يكون صاحبه ضامنا.
ومثله أيضا: لو طرح ترابا بالطريق ليطين به سطحه، أو وضع حجرا أو خشبة أو متاعا فزلق به إنسان، ضمنه. وكذلك لو طرح قمامات (كناسة) وقشور بطيخ في طريق، أو صب ماء في الطريق، فتلف بفعله شيء، أو قعد في الطريق للاستراحة أو لمرض فعثر به عابر، فوقع فمات أو وقع على غيره فقتله، يكون مضمونا؛ لأن الانتفاع بالطريق مشروط بسلامة العاقبة؛ ولأن فيه ضررا على المسلمين.

ومن حفر بئرا عدوانا كحفرها في ملك غيره بغير إذنه، أو في شارع ضيق أو واسع لمصلحة نفسه بغير إذن الإمام: ضمن ما تلف فيها من آدمي أو غيره (١). والمراد بالضمان: الدية ـ دية شبه عمد في القتل، والتعويض المالي في الإتلافات المالية. وكل ما ذكر ضمان بالتسبب، والقاعدة تقول: «يضاف الفعل إلى المتسبب ما لم يتخلل واسطة».
ودليل الضمان في تلك الحالات وأمثالها هو قوله عليه الصلاة والسلام: «لا ضرر ولا ضرار في الإسلام

[المطلب الثاني ـ سقوط البناء أو الجدار بسبب خلل طارئ عليه]

إذا بنى الشخص بناءه أو حائطه مستويا أو مستقيما، ثم مال إلى الطريق أوإلى دار إنسان، أو تشقق بالعرض لا بالطول، فسقط على شيء فأتلفه، ففي ضمان الشيء المتلف رأيان للفقهاء:
١ - مذهب الشافعية والراجح عند الحنابلة (٣): لا ضمان به في هذه الحالة؛ لأن صاحبه تصرف في ملكه، والميل لم يحصل بفعله، فأشبه ما إذا سقط بلا ميل، سواء أمكنه هدمه وإصلاحه أم لا، وسواء طولب بالنقض أم لا.
٢ - مذهب الحنفية والمالكية (٤): في الأمر تفصيل:

===

أAـ إن لم يطالب بنقضه، حتى سقط على إنسان، فقتله، أو على مال فأتلفه، فلا ضمان؛ لأنه بناه في ملكه، والميل حادث بغير فعله، فأشبه ما لو وقع قبل ميله، كثوب ألقته الريح في يده، فما تولد منه، لا يؤاخذ به.

بB ـ وأما إن طولب بنقضه، فلم يفعل، ثم سقط بعدئذ يمكنه فيها نقضه، فهو ضامن ما تلف به من نفس أو مال؛ لأنه حينئذ يصبح متعديا، كما لو امتنع عن تسليم (أو رد) ثوب ألقت به الريح في دار إنسان، وطولب به، فهلك، يضمن. ولأن للناس حق المرور دون ضرر، وليس لأحد منعهم منه.
أما إذا لم يفرط في نقضه، وذهب حتى يستأجر عاملا يهدمه، فسقط، فأفسد شيئا، فلا شيء عليه؛ لأن الواجب عليه فقط إزالة الضرر بقدر الإمكان.
والمطالبة بالنقض أو الإصلاح هو المعروف بشرط التقدم، والتقدم: هو التنبيه والتوصية أولا بدفع وإزالة مضرة مظنونة

فقه الإسلامي وأدلته📕

===

Sabtu, 30 November 2024

💠Benarkah Imam Syafi'i Melarang Dzikir Jahr Setelah Sholat?

Benarkah Imam Syafii Melarang Dzikir Jahr? – Apakah Dzikir Jahr Ba'da Shalat Tidak Sesuai Dengan Amaliyah Madzhab Syafi'i?

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


Narasi sebagian pihak yang menyatakan bahwa amaliyah dzikir jahr ba'da shalat yang dilakukan sebagian masyarakat di Indonesia adalah tidak sesuai dengan pendapat dalam madzhab Syafii, lalu dikatakan pula bahwa Imam Syafii justru melarangnya.

🤔Benarkah demikian?

➡️Kalau kita baca langsung pendapat Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm sebagaimana dikutip oleh Syaikh Dr. Mustafa Dieb al-Bugha bahwa menurut Imam Syafii setelah menukil riwayat tentang dzikir jahr dari sahabat Abdullah bin Zubair.

[قال الشافعي عن عبد الله بن الزبير يقول كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سلم من صلاته يقول بصوته الاعلى ” لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شئ قدير ولا حول ولا قوة إلا بالله ولا نعبد إلا إياه له النعمة وله الفضل وله الثناء الحسن لا إله إلا الله مخلصين له الدين ولو كره الكافرون]

Imam Syafii berkata, dari Abdullah bin Zubair, ia berkata: “Adalah Rasulullah ﷺ yang apabila beliau salam dari shalatnya, maka beliau berkata dengan suaranya yang TINGGI (keras) : –laa ilaaha ilallallaah wahdahu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syay’in qadiir walaa haula wala quwwata illa billaah wala a’budu illa iyyaah lahun ni’matu walahul fahdlu walahu al-tsana’ul hasan laa ilaaha illallaah mukhlishiin lahuddiin walau karihal kaafiruun–.”

قال الشافعي رحمه الله تعالى في [الأم] : وهذا من المباح للإمام وغير المأموم، قال: وأي إمام ذكر الله بما وصفت جهراً أو سراً أو بغير  فحسن، وأختار للإمام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف في الصلاة ويخفيان الذكر، إلا أن يكون إماماً يجب أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه، ثم يسر،

"Imam Syafii berkata dalam kitab Al-Umm : 

Hal ini (mengeraskan bacaan dzikir) dibolehkan bagi imam dan selain makmum. Ia berkata: Setiap imam yang berdzikir kepada Allah sebagaimana yang telah kujelaskan, baik dengan suara keras, dengan suara lirih, maupun dengan cara lain, maka itu adalah hal yang BAIK. Dan aku memilih bagi imam dan makmum yang berdzikir kepada Allah setelah selesai salat, mereka melakukannya dengan memelankan suara dzikir. 

KECUALI, jika imam tersebut harus mengajarkan kepada jamaah. Dalam hal ini, ia perlu membaca dengan suara keras hingga jelas dirasa bahwa jamaah telah belajar darinya, kemudian ia melirihkan kembali."

📕Ifadah al-Roghibin Syarah wa Adillatu Minhajut Tholibin.

=

✅Dari ibarah di atas bisa difahami, Imam Syafii mengatakan bahwa baik dzikir jahr dan dzikir sir adalah hal yang baik/bagus. Dan beliau punya pilihan yang menurutnya adalah lebih bagus lagi, yakni dzikir jahr ba'da shalat dalam rangka ta'lim (pengajaran) kepada jamaah itu dilakukan oleh Imam, dan jika para jamaah dirasa sudah bisa semua dalam arti terbiasa dan hafal, maka Imam mengembalikan ke sirr (lirih) lagi. 

👉Imam Syafi’i menggunakan lafaz "Akhtaaru" (aku memilih), dalam ilmu fiqih ini adalah lafaz yang digunakan untuk menunjukkan apa yang dipilih seorang ahli fiqih di antara banyaknya pendapat-pendapat yang berbeda, dalam istilah fiqih disebut dengan shighot tarjih. Dalam arti lain ada pendapat lain yang berbeda dengan pendapat imam Syafi’i tersebut, dan beliau lebih memilih pendapat yang diutarakannya itu. Artinya beliau masih memberi kebebasan kepada yang lainnya untuk berbeda pendapat dari beliau. Bukan menyalahkan apalagi membid’ahkan.

👉Menurut Imam Syafii, dzikir jahr yang dipimpin Imam ba'da shalat itu dianjurkan berdasarkan hajat (kebutuhan) untuk pengajaran kepada jamaah supaya jamaah bisa dan terbiasa melakukannya masing-masing. Pilihan Imam Syafii ini kemudian diikuti banyak ulama-ulama Syafiiyah setelahnya, semisal Imam An-Nawawi rh.

👉Maka anggapan bahwa Imam Syafii katanya melarang apalagi membidahkan dzikir jahr itu jelas tidak benar. Beliau hanya memiliki pilihan yang menurut beliau itu jauh lebih bagus lagi. Jika beliau melarang, maka sudah pasti beliau katakan dengan sharih tentang larangannya dan kemutlakkan tentang keharamannya.

✅Kebolehan dzikir jahr dalam shalat adalah sama-sama pendapat yang diakui dalam madzhab Syafi'i sebagaimana dzikir sirr. Artinya, sebagian ulama dalam madzhab syafi'i ini ada yang menganjurkan dan ada yang tidak menganjurkan. Di antara ulama besar yang terkenal dalam mengunggulkan kesunnahan dzikir jahr ini adalah Imam al-Adzro'iy dan Imam Jalaludin as-Suyuthi.

Namun kini, banyak juga ulama Syafi'iyah yang tetap menganjurkan untuk melanggengkan dzikir jahr ini, sebab beberapa hajat dan udzur.

➡️Di antaranya adalah :

1. Sebagian orang dalam jamaah masa kini adalah orang awam dan kaum abangan yang tidak begitu mempedulikan kesunnahan berdzikir ba'da sholat,

2. Sebagian orang dalam jamaah itu enggan berdzikir sendiri, serta sebagiannya langsung beranjak dari tempatnya setelah selesai sholat,

3. Kadangkala ada warga baru dalam jamaah yang butuh pengajaran, serta ghiroh sebagian orang islam untuk berdzikir itu fluktuatif,

4. Jumlah kaum muslimin selalu bertambah, baik mukallafnya maupun muallafnya.

Maka hajat (kebutuhan) untuk melaksanakan dzikir jahr dengan dipimpin oleh Imam memang selalu ada dan mesti disyi`arkan. Sehingga kaum muslimin senantiasa termotivasi untuk ikut berdzikir bersama-sama.

📛Yang perlu diperhatikan Imam yakni menyesuaikan volume suara agar tidak menganggu sebagian jamaah yang masbuq dan yang sedang berdzikir munfarid.

=

Syaikh Dr. Mustafa Dieb al-Bugha setelah mengutip pendapat Imam Syafii, beliau menjelaskan bahwa,

والذي يبدو لي - والله تعالى أعلم - أن الأدلة التي ذكرت للسر في ذلك ليست صريحة، وأن حديث ابن عباس رضي الله عنهما أصرح منها في الجهر، وإذا كان المراد به التعليم كما قاله الشافعي رحمه الله تعالى - فالظاهر أن الحاجة إلى التعليم ما زالت قائمة، ولاسيما في أيامنا هذه التي كثرت فيها الغفلة ومبادرة الناس عقب الانصراف من الصلاة إلى الخروج من المسجد لاشتغالهم في الدنيا، فلا حرج أن يكون الذكر والدعاء جماعة وجهراً، والله تعالى أعلم

"Dalil-dalil yang disebutkan untuk berdzikir secara lirih (Sirr) dalam masalah itu tidak tegas (laisata shorihat), dan hadits dari sahabat Ibnu Abbas ra. (tentang berdzikir Jahr) adalah lebih tegas (Ashrah) darinya dalam masalah mengeraskan dzikir. 

Dan jika yang dimaksud dengannya adalah pengajaran sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafi'i rh. maka jelas nampak bahwa kebutuhan (hajat) akan pengajaran masih selalu ada, terutama di zaman kita sekarang ini di mana kelalaian telah banyak terjadi dan orang-orang segera keluar dari masjid setelah selesai sholat karena kesibukan mereka dalam urusan dunia. Maka tidak apa-apa dzikir dan doa dilakukan secara berjamaah dan dijahr-kan. Wallahu a'lam."

📕Ifadah al-Roghibin Syarah wa Adillatu Minhajut Tholibin.

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#dzikir #dzikirbadashalat #madzhabsyafii #dzikirjahr #dzikirsir #dzikirberjamaah

💠Nazhor; Melihat Calon Pasangan Berkali-kali

Nazhor; Melihat Calon Pasangan Dengan Saksama) Boleh Berkali-kali Sampai Yakin. Tapi Niatnya Untuk Menikahi dan Siap Melangsungkan Pernikahan, Bukan Untuk Nafsu dan Penasaran Doang.

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


Dalam bahasa Arab, نظر "nazhor" dan رأى "ro-a" keduanya artinya "melihat", tapi punya nuansa makna yang berbeda.

"Nazhor" lebih menekankan pada proses melihat dengan mata kepala dan juga bisa berarti merenungkan atau mempertimbangkan dengan fokus dan saksama. 
Sementara "Ro-a" lebih umum dan bisa berarti melihat dalam berbagai konteks.

Nazhor menekankan pada tahapan melihat dan proses berpikir yang menyertainya. Dan Nazhor calon istri yakni memandang dengan tatapan saksama dan penuh pertimbangan terhadap wajah dan telapak tangannya guna meyakinkan diri untuk memperistrinya itu boleh dilakukan berkali-kali bahkan tanpa sepengetahuan si wanita tersebut.

Kalau zaman sekarang, boleh dengan melihat videonya atau fotonya yang tertutup auratnya dengan niat untuk memperistri dan kondisi diri sudah siap melangsungkan pernikahan. TIDAK diperkenankan niat untuk memuaskan syahwat atau kesenangan saja.

Kalau ada halangan untuk nazhor sendiri secara langsung, bisa minta bantuan wanita lain untuk ditugaskan agar nanti bisa menceritakan kepadanya tentang ciri fisik dan perangainya si wanita tersebut.


Imam An-Nawawi dalam kitabnya, beliau berkata :

 "إذا رغب في نكاحها استحب أن ينظر إليها لئلا يندم ، وفي وجه : لا يستحب هذا النظر بل هو مباح ، والصحيح الأول للأحاديث ، ويجوز تكرير هذا النظر بإذنها وبغير إذنها ، فإن لم يتيسر النظر بعث امرأة تتأملها وتصفها له.

 والمرأة تنظر إلى الرجل إذا أرادت تزوجه ، فإنه يعجبها منه ما يعجبه منها. ثم المنظور إليه الوجه والكفان ظهراً وبطناً ، ولا ينظر إلى غير ذلك

Jika ingin menikahi seorang wanita, maka mustahab (disunnahkan) untuk nazhor agar tidak menyesal. 

Ada pendapat kedua yang mengatakan nazhor di sini bukan Sunnah, tapi mubah. Namun yang benar adalah pendapat pertama dengan berdasarkan berbagai hadits. 

Dan boleh mengulang nazhor kepada si wanita tersebut baik dengan izinnya ataupun tidak. Jika tidak memungkinkan untuk nazhor, maka boleh mengutus wanita lain untuk memperhatikan wanita tersebut dan mendeskripsikan untuknya. 

Dan wanita boleh nazhor ke si pria jika ia ingin menikah dengannya. Karena sesungguhnya seorang wanita tertarik kepada seorang pria sebagaimana seorang pria tertarik kepada seorang wanita.  Kemudian yang boleh dilihat dari fisik si pria yaitu wajah dan dua telapak tangan yang luar maupun dalam. Dan tidak boleh melihat kepada selain itu. 

▪︎

📕Roudhotut Tholibin wa 'Umdatul Muftin, jilid 5, halaman 355-356, Cet. Darul Kutub Ilmiyah.

===

👨‍🏭 Adam Mostafa EL Prembuny 

#nikah #nazhor #khitbah #istri #suami #fiqih #sunnah

💠Hukum Malpraktik dan Sangsinya

Hukum Malpraktek Di Dunia Medis Dan Sanksi Yang Diberikan Kepada Pelaku

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

Malpraktik adalah pelanggaran tindakan medis yang mencakup perilaku yang dilarang dalam merawat pasien, seperti tidak melakukan prosedur yang seharusnya, lalai dalam mendiagnosis dengan tepat, dan memberikan obat yang tidak sesuai standar medis. 

Malpraktik menyalahi prinsip-prinsip Ilmiah (Mukholafatul Ushul al ‘Ilmiyyah). Prinsip ilmiah adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang telah baku dan biasa dipakai oleh para dokter, baik secara teori maupun praktek, dan harus dikuasai oleh dokter saat menjalani profesi kedokteran. 

Malpraktik kedokteran adalah kejahatan (jarimah) atau jinayah. Malpraktek dalam hukum pidana Islam termasuk jarimah qishos diyat, namun jika dilihat dari tinjauan maslahat, sanksi yang dijatuhkan bisa berupa Ta’zir, Ketentuan ta’zir merupakan kewenangan Ulil Amri (pemerintah). Dalam hal ini, hakimlah yang menentukan sanksi terhadap pelaku sesuai UU yang berlaku. 

Para ulama telah menjelaskan kewajiban para dokter untuk mengikuti prinsip-prinsip ilmiyyah dan bila dokter melakukan malpraktik, maka ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

● Imam Abu Sulaiman al-Khoththobi setelah membawakan hadits Nabi tentang malpraktik, 

مَنْ تَطَبَّبَ وَلَمْ يُعْلَمْ مِنْهُ طِبٌّ قَبْلَ ذَلِكَ، فَهُوَ ضَامِنٌ 

“Barang siapa yang menjadi dokter dan sebelumnya tidak diketahui memiliki keahlian, maka ia harus bertanggung jawab”. 📜HR. Imam Abu Dawud :1224) 

Beliau menjelaskan : 

لا أعلم خلافا في أن المعالج إذا تعدى، فتلف المريض كان ضامنا، والمتعاطي علما أو عملا لا يعرفه متعد، فإذا تولد من فعله التلف ضمن الدية، وسقط عنه القود، لأنه لا يستبد بذلك بدون إذن المريض، وجناية المتطبب في قول عامة الفقهاء على عاقلته. 

"Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat Fuqoha bahwa seorang tenaga medis melakukan keteledoran lalu menyebabkan pasien celaka. maka ia bertanggungjawab. Dokter yang mempraktikkan suatu ilmu atau tindakan medis yang tidak diketahuinya, kalau karena perbuatannya menyebabkan pasien celaka (meninggal), ia harus membayar diyat, dan digugurkan darinya hukum qishos. Karena ia tidak akan melakukan pekerjaannya tanpa seizin pasien. Dan tindakan malpraktek tersebut menurut mayoritas Fuqaha juga masih jadi tanggung jawab aqilahnya."

📕Ma'alim as Sunan, Juz 4 halaman 35, Cet. Darul Kutub Ilmiyah.

=

✔Maka dapat difahami bahwa para ulama sepakat (ijma') jika seseorang tidak memiliki keahlian medis kemudian mengobati pasien dan malah memperburuk kondisinya, dia harus bertanggung jawab dan membayar kerugian yang dialami pasien. 

✔Jika si dokter punya keahlian medis namun terjadi kesalahan atas penanganannya, menurut pendapat ulama fiqh, ia harus membayar diyat (ganti rugi) dan diyat ini juga ditanggung oleh 'aqilahnya yakni pihak keluarga pelaku. ‘Aqilah dilibatkan dalam rangka meringankan beban musibah. 

✔Dokter terbebas dari hukuman qishas mati bila pasien meninggal akibat keteledoran-nya. Kecuali bila si dokter tahu letak kesalahannya tapi malah sengaja dilakukan, maka bisa dijatuhi qishas mati menurut Imam Kholil bin Ishaq dari madzhab Maliki.

Setelah terjadi kecelakaan akibat malpraktek tersebut, selain membayar diyat, apakah si Dokter tetap mendapat upah dari pekerjaannya?

● Imamuna Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya : 

مسإ لة الحجام والخاتن والبيطار 

أخبرنا الربيع قال : قال الشافعي الله : وإذ أمر الرجلُ الرجل أن يحجمه ، أو يختن غلامه ، أو يبيطر دابته ، فتلفوا من فعله ؛ فإن كان فعل ما يفعل مثله مما فيه الصلاح للمفعول يه عند أهل العلم بتلك الصناعة فلا ضمان عليه ، وإن كان فعل ما لا يفعل مثله أراد الصلاح وكان عالماً به فهو ضامن وله أجر ما عمل في الحالين في من السلامة والعطب 

قال أبو محمد رحمه الله : وفيه قول آخر : أنه إذا فعل ما لا يفعل فيه مثله فليس له من الأجر شيء ؛ لأنه متعد ، والعمل الذي عمله لم يؤمر به فهو ضامن ولا أجر له وهذا أصح القولين ، وهو معنى قول الشافعي رحمة الله عليه

▪︎Masalah Ahli Bekam, Dokter Khitan dan Dokter Hewan 

Telah mengabarkan kepada kami, Imam Robi' bin Sulaiman, dia berkata, telah berkata Imam Syafii : 

"Apabila seseorang menyuruh dokter untuk membekamnya atau mengkhitankan anaknya, atau mengobati ternaknya, lalu mereka celaka karena perbuatan si dokter, bila si dokter sudah melakukan penanganan sudah sesuai prosedur medis, maka si dokter tidak perlu bertanggung jawab. 

Tapi bila si dokter bertindak TIDAK sesuai prosedur medis, padahal si dokter mengetahui hal itu, maka dia harus bertanggung jawab (membayar ganti rugi). Dan dia berhak atas upah untuk dua keadaan ini, baik pasien itu selamat ataupun tidak." 

Abu Muhammad (Imam Robi' bin Sulaiman) berkata, 

"Dalam hal ini, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa si dokter tidak berhak mendapatkan upahnya karena dia melakukan tindakan dengan sengaja, jika tindakan yang dilakukannya tidak diperintahkan (Tidak sesuai instruksi/prosedur), maka dia bertanggung jawab atas tindakannya dan si dokter TIDAK berhak mendapatkan upahnya. Ini pendapat yang lebih shohih, dan inilah maksud dari penjelasan Imam Asy Syafi'i." 

~

📕Al 'Umm lil Imam Asy-Syafi'i, jilid 7 halaman 428, Cet. Darul Wafaa`

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#malpraktik #malpraktek #dokter #obat #mengobati #imamsyafii #imamalkhottobi #maalimus_sunan #al_umm #medis #jarimah #jinayah #qishos #diyat

💠Praktik Ibadah Nabi Sebelum Diangkat Rasul

Bagaimana praktek syariat ibadah Nabi ﷺ Sebelum Diangkat Menjadi Rasul?

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


Dalam menanggapi masalah ini, Syaikh Abdul Karim Zaidan menjelaskan dalam kitabnya bahwa terdapat 3 golongan ulama :

A).  Ulama Hanafiyah, Hanabilah, Imam Ibnu Hajib al Maliki dan Imam al Baidhowi asy Syafii mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sebelum menjadi Rasul masih terikat dengan syariat sebelumnya. Alasan mereka adalah :

1. Setiap rasul Allah diseru untuk mengikuti syariat Rasul-rasul sebelumnya. Nabi Muhammad juga termasuk ke dalam seruan ini. 
2. Banyak sekali riwayat yang menunjukkan bahwa Muhammad SAW sebelum menjadi Rasul telah melakukan perbuatan/amalan tertentu yang sumbernya bukan akal semata, seperti ia melaksanakan shalat, haji, umrah, mengagungkan Ka'bah dan Thowaf di sekelilingnya dan menyembelih binatang. 

B).  Jumhur ulama mutakallimin dan sebagian ulama madzhab Malikiyah. Mereka mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sebelum diangkat menjadi Rasul itu tidak terikat dengan syar'at apapun sebelum Islam. Alasan mereka adalah apabila beliau sebelum diangkat menjadi Rasul masih terikat dengan syariat sebelum Islam, maka akan ada dalil yang menunjukkan hal itu. Dari penelusuran terhadap kehidupan Nabi Muhammad ﷺ menurut mereka, tidak ditemukan dalil yang menegaskan bahwa beliau terikat dengan syari'at lain sebelum Syariat Islam. 

C).  Imam al-Ghozali dan Imam Saifuddin al-Amidi, mereka memilih tawaqquf, yakni tidak berkomentar terhadap masalah ini karena tidak adanya dalil yang pasti dalam masalah ini. Menurut mereka, apabila ada alasan dari nash (Quran & Hadits) yang menunjukan bahwa Nabi Muhammad ﷺ terikat dengan hukum tertentu, maka akan mereka terima. Apabila tidak ada dalil yang menerankannya, maka mereka tidak mengambil sikap. 

~

■Kelompok yang menetapkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengikuti syariat sebelumnya juga berbeda pendapat tentang syariat Nabi mana yang diikuti oleh beliau.

▪︎Sebagian ulama berpendapat syariatnya Adam AS, karena dialah syariat yang pertama kali.
▪︎Pendapat lainnya adalah syariat Nabi Nuh AS, sesuai dengan QS Asy Syu'aro : 13.
▪︎Ada juga ulama yang berpendapat syariat Nabi Ibrohim AS, sesuai dengan QS Ali Imron : 68 dan An Nahl : 123. 
▪︎Ada juga yang berpendapat syariat Nabi Musa AS, dan Nabi 'Isa karena yang paling dekat masanya dengan Nabi ﷺ dan sebagai penghapus syariat sebelumnya. 

■Telah berkata Imam Asy Syaukani, dengan berlandaskan ayat Al-Qur'an dan amaliyah Nabi Muhammad ﷺ, pendapat yang bisa diterima adalah pendapat yang mengatakan bahwa sebelum pengangkatan Rasul, beliau mengikuti syariatnya Nabi Ibrohim AS, karena Nabi Muhammad ﷺ banyak melaksanakan praktek syariat ibadah Nabi Ibrohim AS sebagaimana ayat Al Quran di atas bahwa beliau mengikuti Millah Ibrohim. 
Berarti dapat difahami kekhususan Syariat Nabi Ibrohim pada Nabi Muhammad ﷺ. Maka ibadah beliau sebelum diangkat jadi Rasul adalah mengikuti syariat Nabi Ibrohim AS.


📕Ushul Fiqh al Islamiy, jilid 2 halaman 839, Cetakan Darul Fikr

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#ushulfiqih #syariat #nabi #rasul

💠Menguasai Bahasa Arab Wajib Bagi Mujtahid

Mengetahui Bahasa Arab Wajib Bagi Mujtahid dan Muqollid. Untuk Mujtahid, Wajib Menguasai Ilmu Tentang Lafadz & Maknanya. 

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

☆ 

Syaikh Abdul Fattah al-Yafi'i dalam kitabnya, beliau menuliskan salah satu syarat Mujtahid dan hukum belajar bahasa Arab sebagai berikut :

"Imam al-Mawardi berkata, "Pengetahuan tentang bahasa Arab itu hukumnya FARDHU bagi setiap muslim, baik yang mujtahid dan yg bukan mujtahid. 

Imam Asy-Syafi'i mengatakan bahwa setiap muslim WAJIB mempelajari bahasa Arab sebatas kemampuannya agar bisa melaksanakan amalan-amalan fardhunya. 
Beliau berkata di kitab Al-Qowathi', "Mengetahui bahasa Arab hukumnya FARDHU secara umum bagi semua mukallaf (baligh & berakal). Hanya saja bagi mujtahid, ia wajib mengetahui lafadzh-lafadzh dan makna-maknanya. Dan untuk selain mujtahid, cukup baginya bahasa Arab yang berhubungan dengan praktik ibadah seperti bacaan Al Qur'an dan dzikir dalam sholat karena sholat tidak boleh dikerjakan dengan selain bahasa Arab. 

Mungkin ada yg bertanya, "Pengetahuan tentang bahasa Arab secara menyeluruh bagi mujtahid aja gak mungkin bisa dicapai karena tidak ada satupun orang Arab yang mampu mengetahui semua kosakata bahasa mereka. Lalu gimana kita bisa menguasainya secara menyeluruh?" 

Kami jawab bahwa, meskipun bahasa Arab tidak bisa dikuasai secara menyeluruh oleh satu orang Arab, tapi semua orang Arab secara kolektif bisa mengetahuinya secara menyeluruh. 
~Seperti pertanyaan yang disampaikan kepada seorang Ulama, "Siapa yang bisa menguasai setiap ilmu?" 
~Ia menjawab, "Semua manusia." 
Adapun yang wajib bagi mujtahid adalah menguasai sebagian besarnya lalu mengembalikan hal-hal yang luput dari pengetahuannya kepada mujtahid lain, seperti yang berlaku dalam Sunnah. 

Sebagian dari mereka tergelincir karena mengabaikan kaidah bahasa Arab seperti riwayat kelompok ulama madzhab Imamiyah berupa hadits "ma taroknahu shodaqotan" dengan nashab (akhiran fathah) pada kata "Shodaqotan" .
(Sehingga maknanya menjadi : "Kami tidak meninggalkannya sbg sedekah"). 
Juga seperti riwayat kelompok Qadariyah berupa hadits "fa hajja Adama Musa" dengan nashob (akhiran fathah) pada kata "Adama".
(Sehingga maknanya menjadi : "Lalu Musa mengalahkan argumentasi Adam"). 
Termasuk kategori penguasaan bahasa Arab adalah ilmu Tashrif, karena hal itu sangat menentukan dalam memahami bentuk kata dan perbedaan di antaranya, seperti dalam bab mujmal dari kata mukhtar dan semisalnya. Apakah kata ini merupakan kata benda (Isim), pelaku (Fa'il).""

▪︎ 

📕At-Tamadzhub Dirosah Ta`shiliyah Muqoronah lil Masail al-Muta'alliqoh bi al-Tamadzhabi, halaman 52, Cet. Markaz al Huryat li Dirosah wan Nasyr.

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#mujtahid #bahasaarab #muqallid #fiqih

Teks Arab :

قال الماوردي : ومعرفة لسانه فرض على كل مسلم من مجتهد وغيره ، وقد قال الشافعي رحمه الله : على كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما يبلغه جهده في أداء فرضه . 
وقال في القواطع : معرفة لسان العرب فرض على العموم في جميع المكلفين ، إلا أنه في حق المجتهد على العموم في إشرافه على العلم بألفاظه ومعانيه أما في حق غيره من الأمة ففرض فيما ورد التعبد به في الصلاة من القراءة والأذكار ، لأنه لا يجوز بغير العربية . 
فإن قيل : إحاطة المجتهد بلسان العرب تتعذر ، لأن أحداً من العرب لا يحيط بجميع لغاتهم ، فكيف نحيط نحن ؟
قلنا : لسان العرب وإن لم يحط به واحد من العرب فإنه يحيط به جميع العرب ، كما قيل
لبعض أهل العلم : من يعرف كل العلم ؟ قال : كل الناس . 
والذي يلزم المجتهد أن يكون محيطاً بأكثره ويرجع فيهما عزب عنه إلى غيره ، كالقول في السنة ، وقد زل كثير بإغفالهم العربية ، كرواية الإمامية : { ما تركناه صدقة ) بالنصب ،
والقدرية : { فحج آدم موسى } بنصب آدم ، ونظائره . 
ويلحق بالعربية التصريف ، لما يتوقف عليه من معرفة أبنية الكلم ، والفرق بينها ، كما في باب المجمل من لفظ ( مختار ) ونحوه فاعلاً ومفعولاً) اهـ .

===

💠Para Sahabat Nabi Yang Ahli Fiqih

Di Antara Para Sahabat Nabi ﷺ Yang Termasuk Ahli Fiqih

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

☆ 

Syaikh Musthofa Said al-Khin menukil penjelasan Imam Ibnu Hazm dari kitab Al-Ihkam bahwa, 
"Di antara para sahabat Rosululloh ﷺ yang terkenal pandai di bidang fiqih dan fatwa adalah :

Ummul Mukminin Sayidah 'Aisyah,
Sayidina 'Umar bin Khoththob,
Sayidina Abdulloh bin Umar,
Sayidina Ali bin Abi Tholib,
Sayidina Abdulloh bin Abbas,
Sayidina Abdulloh bin Mas'ud,
Sayidina Zaid bin Tsabit,
Sayidina Anas bin Malik,
Sayidina Abu Bakar Ash Shiddiq,
Sayidina Mu'adz bin Jabal,
Sayidina Jabir bin Abdulloh,
Sayidina Abu Huroiroh, 
Dan masih banyak lagi yang lainnya.""

Lalu Syaikh Musthofa al Khin menukil penjelasan Imam Abu Ishaq Asy-Syairozi dari kitab Thobaqotul Fuqoha, beliau berkata :

"Ketahuilah bahwa mayoritas para sahabat Rasulullah yang berkawan dan menemani beliau adalah Para Ahli Fiqih. Demikian itu, bahwa metode fiqih para sahabat adalah khithob (perintah) Alloh dan Rosululloh serta apa saja yang dipahami dari keduanya, juga perbuatan- perbuatan Rosululloh ﷺ dan apa saja yang dipahami darinya. 
Yang dimaksud dengan khithob Allah adalah Al Qur'an. Allah menurunkan nya dengan bahasa mereka berdasarkan sebab-sebab yang mereka ketahui dan kisah-kisah mereka di dalamnya. Sehingga, mereka mengetahuinya, baik secara tertulis, tersirat, tersurat, dan pemahamannya. Maka dari itu, Imam Abu Ubaidah (110H) dalam kitab Al Majazul Qur`an, beliau berkata, "Tidak ada nukilan bahwa satu orang pun dari sahabat Rosululloh dalam memahami sesuatu dari Al Qur'an merujuk kepada Rosululloh." 
Khithob Rosululloh ﷺ  juga menggunakan bahasa mereka. Mereka mengetahui maknanya, memahami makna tersirat, dan maksudnya. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan beliau, berupa ibadah, muamalah, perjalanan, dan politik, semuanya disaksikan oleh mereka, berlangsung secara terus menerus serta dicari-cari oleh mereka.""
Syaikh Musthofa al Khin mengatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam permasalahan fiqih pada zaman Rosululloh. Ini karena Rosululloh ﷺ adalah rujukan utama bagi mereka terkait hukum-hukum dan permasalahan mereka. Akan tetapi, hampir para sahabat Rosululloh tidak berpindah dari tempat duduknya yang mulia, sampai mereka melihat diri mereka dihadapkan pada persoalan besar yang tidak ada jawaban nash yang jelas dari Al Qur'an dan sunnah. 


📕Ab-hats Haula 'Ilm Ushul Fiqh - Tarikhuhu wa Tathowuruhu, halaman 35, Cet. Darul Kalimi Thoyyib 

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny


Teks Arab :

وممن اشتهر بالفقه والفتوى من الصحابة : عائشة أم المؤمنين ، وعمر بن الخطاب ، وابنه عبد الله ، وعلي بن أبي طالب ، وعبد الله بن عباس ، وعبد الله بن مسعود ، وزيد بن ثابت ، وأنس بن مالك ، وأبو بكر الصديق ، ومعاذ بن جبل ، وجابر بن عبد الله ، وأبو هريرة ، وغيرهم كثير (۱) 
قال أبو إسحاق الفيروزبادي الشيرازي في كتابه « طبقات الفقهاء (۲) : اعلم أن أكثر أصحاب رسول الله الله الذي صحبوه ولازموه كانوا فقهاء ، وذلك أن طريق الفقه في حق الصحابة خطاب الله عز وجل ، و خطاب رسوله وما عقل منهما، وأفعال رسول الله ﷺ وما عقل منها، فخطاب الله عز وجل هو القرآن ، وقد أنزل ذلك بلغتهم على أسباب عرفوها ، وقصص كانوا فيها ، فعرفوها مسطورة ومفهومه ومنطوقه ومعقوله ، ولهذا قال أبو عبيدة في كتاب ( المجاز » : لم ينقل أن أحداً من الصحابة رجع في معرفة شيء من القرآن إلى رسول الله ﷺ ، وخطاب رسول الله ﷺ أيضاً بلغتهم ، يعرفون معناه ويفهمون منطوقه وفحواه ، وأفعاله التي فعلها من العبادات والمعاملات والسير والسياسات، وقد شاهدوا ذلك كله وعرفوه ، وتكرر عليهم وتحرّوه » . 
لم يكن هناك خلاف في المسائل الفقهية على عهد رسول الله ﷺ ؛ لأنه عليه الصلاة والسلام كان هو المرجع لهم في أحكامهم وقضاياهم، ولكن لم يكد أصحاب رسول الله الله يفرغون من وضعه في مرقده المطهر ، حتى رأوا أنفسهم أمام مسائل كثيرة لم يرد في الإجابة عنها نص صريح من كتاب أو سنة 

===

🔰 Petunjuk Tema & Isi Konten

  • 🔷️ Aqidah & Filsafat : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan ilmu kalam, teologi, pemikiran, mantiq, dan filsafat.
  • 🔷️Al-Quran & Tafsir : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan suatu ayat dan tafsirnya, serta ilmu tentang Al-Quran.
  • 🔷️ Fiqih & Syari'ah : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan ilmu fiqih, ibadah, muamalah, munakahat, dan jinayah.
  • 🔷️Hadits & Syarah : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan suatu hadits dan syarahnya, serta ilmu tentang hadits.
  • 🔷️Khazanah & Sains : Memuat tulisan-tulisan tentang keajaiban sains, khazanah keislaman, dan ilmu pengetahuan umum.
  • 🔷️Lughoh & Nahwu : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan ilmu bahasa seperti mufrodat, nahwu, shorof, balaghoh
  • 🔷️Sejarah & Kisah : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan sejarah Islam & dunia, serta kisah para Nabi dan Ulama.
  • 🔷️Medis & Kesehatan : Memuat tulisan-tulisan pembahasan tentang obat, gizi, kesehatan, penyakit, dan seputar medis.
  • 🔷️Psikologi & Relasi : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan ilmu psikologi, romansa, parenting, dan relasi sosial.
  • 🔷️Tajwid & Tahsin : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan tajwid, makhroj, sifat huruf, qiraah, tahsin dan tilawah Al-Qur`an.
  • 🔷️Tasawuf & Mau'idzoh : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan ilmu akhlaq, pensucian jiwa, dakwah dan nasihat moral.
  • 🔷️Qamus Istilah Umum : Memuat tulisan-tulisan tentang ta'rifat, definisi, makna, serta pengertian suatu kata dan kalimat.