Tampilkan postingan dengan label Fiqih & Syari'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih & Syari'ah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2026

💠Sunnah Berdoa Dan Mendirikan Sholat Sunnah Ketika Terjadi Bencana Alam

Disunnahkan Berdoa dan Mendirikan Sholat Sunnah Saat Terjadi Bencana

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

~

Disunnahkan Berdoa Lalu Mendirikan Shalat Sunnah Ketika Terjadi Bencana Alam, Tapi Tidak Perlu Berjamaah.

Imam Abul Abbas Syihabuddin Al-Qostholani dalam kitabnya, beliau menjelaskan tentang kesunnahan berdoa dan mendirikan shalat sunnah ketika atau setelah terjadi bencana alam jika memungkinkan. Untuk mencegah kekhawatiran dan ketakutan berlebih sebagai upaya berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, ya tidak perlu memaksakan diri, sebab ini syariat kesunnahan, bukan kewajiban.

Imam Al-Qostholani juga menjelaskan bahwa sebaiknya berdoa dan shalat tersebut dilakukan di rumah secara sendirian, tidak dilakukan berjamaah. Karena, ketika sedang sendirian, seseorang akan lebih khusyuk dan fokus dalam berdoa memohon perlindungan.

Berikut teks arabnya :
 
ويستحب لكل أحد أن يتضرع بالدعاء ونحوه عند الزلازل ونحوها كالصواعق والريح الشديدة و الخسف وأن يصلي منفردا لئلا يكون غافلا لأن عمر رضي الله عنه حث على الصلاة في زلزلة ولا يستحب فيها الجماعة
 
Artinya, "Disunnahkan bagi setiap orang untuk berdoa dan sebagainya ketika terjadi gempa bumi, petir, angin kencang, dan tanah longsor. Dan hendaknya ia mendirikan shalat (sunnah) secara sendiri agar tidak menjadi (hamba yang) lalai. Hal ini karena Sayidina Umar bin Khattab RA telah menganjurkan untuk shalat (sunnah) ketika terjadi gempa bumi, dan tidak dianjurkan untuk berjama'ah dalam shalat tersebut." 

📕Irsyadus Sariy, Syarh Shahih Bukhari, jilid 3 halaman 63. Cet. Darul Kutub Ilmiyah.

~

Lafadz doa yang bisa dibaca setelah shalat sunnah atau ketika terjadi bencana alam :

  اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ

Allahumma innii as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa, wa khoiro maa arsaltabihi wa a'uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarrimaa arsaltabihi

🤲“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang di dalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan atas apa yang terjadi didalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan.”

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#bencanalam #gempabumi #shalatsunnah #doa

💠Pertanyaan Seputar Sholat Gerhana

Beberapa Pertanyaan Seputar Sholat Gerhana 

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

~

~Selesai Menunaikan Sholat Kusuf, Gerhana Masih Berlangsung, Bolehkah Melakukannya Lagi? 
~Baru Dapat 1 Rakaat, Gerhana Selesai. Apakah Sholat Jadi Batal? 
~Bolehkah Meringkas Sholat Kusuf?

☆ 

🤷‍♂️Selesai melaksanakan sholat kusuf, tapi gerhana masih berlangsung, boleh nambah lagi atau tidak? 

✅Jawab :
Tidak dianjurkan dan tidak perlu menambah atau melakukannya lagi. 

🤷‍♂️Ketika sedang sholat kusuf, dan baru mendapat 1 rakaat atau masih dalam posisi sholat, tiba-tiba gerhana selesai dan bulatan Bulan/Matahari kembali utuh. Apakah sholat kita menjadi batal? 

✅Jawab : 
Tidak batal. Dan tetap harus menyelesaikan proses sholat sampai salam. Selesainya proses gerhana tidak dapat membatalkan shalat.

🤷‍♂️Sholat Kusuf itu 2X ruku' dan 2X berdiri untuk 1 rakaat. Demi menyesuaikan dengan durasi gerhana yang hanya sebentar saja, bolehkah kita mencukupkan diri dengan 1 ruku' dan 1 berdiri per 1 rakaat? 

✅Jawab : 
Kalau ikut pendapat ulama yang boleh menambah ruku' ke-3, ke-4, dst. , maka Boleh juga menguranginya menjadi 1 ruku saja tiap rakaatnya.

Jika ikut pendapat ulama yang hanya menetapkan 2 ruku' dan 2 berdiri per 1 rakaat, maka ruku' tidak boleh dikurangi. Jadi tetap laksanakan 2 ruku' dan 2 kali berdiri per 1 rakaat.

=

🔰Telah dijelaskan secara rinci oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, beliau menjelaskan sebagai berikut : 

ولو كان في القيام الأول فانجلى الكسوف لم تبطل صلاته وله أن يتمها على هيئتها المشروعة بلا خلاف، 

"Apabila proses gerhana sudah usai saat shalat baru dapat satu rakaat, shalat tetap tidak batal, maka harus meneruskan shalat dengan tatacaranya seperti yang disyariatkan hingga selesai. Tidak ada ikhtilaf ulama dalam hal ini."

وهل له أن يقتصر على ركوع واحد وقيام واحد في كل ركعة؟ فيه وجهان؛ بناء على الوجهين في جواز الزيادة للتمادي : إن جوزناها جاز النقصان بحسب مدة الكسوف، وإلا فلا. 

"Dan apakah boleh membatasi diri hanya satu kali ruku' dan satu kali berdiri untuk setiap rakaat? 

Ada dua pendapat tentang hal ini, berdasarkan dua pendapat tentang kebolehan menambah ruku' untuk melanjutkan shalat : Jika ikut pendapat yang diperbolehkan, maka boleh pula dikurangi sesuai durasi gerhana, jika ikut pendapat yang tidak, maka tidak boleh dikurangi. (Maksudnya : Tetap laksanakan 2 rukuk 2 berdiri per 1 rakaat)."

ولو سلم من صلاة الكسوف - والكسوف باق - فهل له استفتاح صلاة الكسوف مرة أخرى؟ فيه وجهان خرجهما الأصحاب على جواز زيادة الركوع، والصحيح المنع من الزيادة والنقص ومن استفتاح الصلاة ثانيا، والله أعلم 

"Apabila shalat kusuf telah ditunaikan, namun proses gerhana masih berlangsung, bolehkah melakukan shalat kusuf lagi? 

Ada dua riwayat pendapat dalam hal ini, oleh ashab kami didasarkan pada masalah bolehnya menambah bilangan rukuk. Menurut pendapat yang shahih, TIDAK BOLEH menambah ataupun mengurangi, atau melakukan shalat kusuf lagi. Wallahu a'lam".

• 

📕Majmu' Syarah al Muhadzab, jilid 6 halaman 85, Cet. Darul Kutub Ilmiyah.

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny 

#shalatgerhana #fiqih #shalatkusuf #shalatkhusuf #shalatsunnah

💠Bangunan Runtuh Menimbulkan Kerugian, Apakah Pemilik Wajib Ganti Rugi?

Kecelakaan Bangunan Runtuh, Apakah Pemilik Wajib Ganti Rugi?

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

~

Kecelakaan bangunan runtuh memakan korban jiwa dan harta benda, apakah pemiliknya wajib membayar ganti rugi?

Syaikh Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitab Fiqhul Islamiy wa Adillatuh telah menjelaskan rincian hukumnya secara mendetail dalam Jilid 6, Bab Jinayat, Pasal 4, Pembahasan Ke-2, tentang "Kecelakaan Bangunan atau Tembok Runtuh".

⛔Jika ada kejadian musibah bangunan runtuh atau tembok ambruk, lalu menyebabkan kerugian harta, tubuh, dan jiwa. Maka ada hal-hal yang perlu diperhatikan tentang konsekuensi bagi mutasabbib.

▪︎ Mutasabbib adalah pelaku tidak langsung, dalam hal ini adalah pimpinan, pemilik, pengurus, serta segenap penanggung jawab suatu proyek atau fasilitas.

▪︎ Sedangkan Mubasyir adalah pelaku secara langsung yang menyebabkan terjadinya kecelakaan (accident). Contohnya; Pekerja lapangan, teknisi, tukang, kuli.

Telah kami (Penulis) pelajari dari penjelasan Syaikh Wahbah dan kami simpulkan sebagai berikut :

=

🏘 Bangunan yang runtuh dan menimbulkan kerugian harta, tubuh dan jiwa. Disebabkan oleh 2 hal :

1️⃣. Terdapat defect (cacat) sejak awal atau kesalahan prosedur ketika sedang proses pengerjaannya, atau tidak mengikuti peraturan yang berlaku, atau kelalaian dalam perawatan serta pemeliharaan.

2️⃣. Karena ada defect (cacat) baru di kemudian hari atau disebabkan hal-hal lainnya di luar otoritas pemilik.

▪︎ Jika setelah diselidiki/investigasi, ternyata yang nomer 1, menurut kesepakatan Fuqaha, maka :

Sang pemilik (Mutasabbib) wajib bertanggungjawab membayar Diyat (Uang tebusan nyawa/tubuh) jika ada korban jiwa dan cacat/luka, serta Ta'widh (ganti rugi harta) jika ada kerugian materiil.

=

▪︎ Namun jika setelah diselidiki/investigasi, ternyata yang nomer 2, maka ada dua pendapat Fuqaha :

A. Dalam madzhab Syafi'i dan Hanbali :

~ Pemilik tidak wajib bertanggungjawab bayar Diyat ataupun Ta'widh, apapun keadaannya.

B. Dalam madzhab Hanafi dan Maliki, ada 2 perincian :

~ Jika sang pemilik sudah mendapat peringatan, perintah atau himbauan untuk melakukan perbaikan/pembongkaran lebih awal, namun malah tidak segera dilakukan, maka jika terjadi kecelakaan, sang Pemilik wajib bayar denda Diyat dan Ta'widh.

~ Jika sang pemilik tidak atau belum mendapat peringatan, perintah, atau himbauan untuk melakukan pembongkaran/perbaikan lebih awal, maka jika terjadi kecelakaan, sang Pemilik tidak wajib bayar denda.

Dan jika pemilik sudah menerima peringatan dan akan melakukan proses perbaikan, namun gedung malah ambruk sesaat sebelum dilaksanakan, maka pemilik juga tidak wajib bayar denda jika terdapat kerugian, sebab ia sudah berupaya melakukan pencegahan.



📕Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu, jilid 6 halaman 379-382, Cetakan Darul Fikr.

===

🧑‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#fiqihjinayat #bangunanruntuh #bangunanambruk #diyat #dhoman #gantirugi #kecelakaan #k3 #accident #fiqhulislamiywaadillatuh #wahbahzuhaili



Teks Arab :

المبحث الثاني ـ جناية الحائط المائل ونحوه مما يحدثه الرجل في]
[الطريق ـ سقوط البناء أو الجدار

يجب في الجملة في حالة سقوط البناء الضمان على المتسبب في إحداث الضرر، إما لأنه يمكن الاحتراز عنه، أو بسبب تقصيره وإهماله. وإذا حدث موت، فالدية تجب على عاقلة مالك البناء، لأنه متسبب. لكن لا تجب عليه الكفارة ولا يحرم من الميراث والوصية عند الحنفية، كما هو المقرر عندهم في حالة القتل بالتسبب، وعلى هذا إذا كانت الجناية على نفس فالواجب هو الدية، وإذا كانت على ما دون النفس فالواجب بها الأرش على العاقلة إن بلغ عند الحنفية نصف عشر دية الرجل وعشر دية الأنثى. وإن كانت الجناية على المال فيجب التعويض في مال المتسبب.

[المطلب الأول ـ سقوط البناء أو الجدار بسبب خلل أصلي فيه]

لا خلاف بين الفقهاء في وجوب ضمان الضرر الحادث بسبب سقوط البناء أو الجدار الذي بناه صاحبه مائلا إلى الطريق العام أو إلى ملك غيره؛ لأنه متعد بفعله، فإنه ليس لأحد الانتفاع بالبناء في هواء ملك غيره، أو هواء مشترك، ولأنه ببنائه المشتمل على الخلل يعرضه للوقوع على غيره في غير ملكه (٢).
ومثله: ما تولد من جناح (٣) إلى شارع، سواء أكان يضر أم لا، أذن فيه الإمام أم لا، أو ما يتلف بالميازيب المخرجة إلى الشارع أو بما سال من مائها؛ لأنه ارتفاق بالشارع، والارتفاق بالشارع مشروط بسلامة العاقبة، فكل ما يحدث يكون صاحبه ضامنا.
ومثله أيضا: لو طرح ترابا بالطريق ليطين به سطحه، أو وضع حجرا أو خشبة أو متاعا فزلق به إنسان، ضمنه. وكذلك لو طرح قمامات (كناسة) وقشور بطيخ في طريق، أو صب ماء في الطريق، فتلف بفعله شيء، أو قعد في الطريق للاستراحة أو لمرض فعثر به عابر، فوقع فمات أو وقع على غيره فقتله، يكون مضمونا؛ لأن الانتفاع بالطريق مشروط بسلامة العاقبة؛ ولأن فيه ضررا على المسلمين.

ومن حفر بئرا عدوانا كحفرها في ملك غيره بغير إذنه، أو في شارع ضيق أو واسع لمصلحة نفسه بغير إذن الإمام: ضمن ما تلف فيها من آدمي أو غيره (١). والمراد بالضمان: الدية ـ دية شبه عمد في القتل، والتعويض المالي في الإتلافات المالية. وكل ما ذكر ضمان بالتسبب، والقاعدة تقول: «يضاف الفعل إلى المتسبب ما لم يتخلل واسطة».
ودليل الضمان في تلك الحالات وأمثالها هو قوله عليه الصلاة والسلام: «لا ضرر ولا ضرار في الإسلام

[المطلب الثاني ـ سقوط البناء أو الجدار بسبب خلل طارئ عليه]

إذا بنى الشخص بناءه أو حائطه مستويا أو مستقيما، ثم مال إلى الطريق أوإلى دار إنسان، أو تشقق بالعرض لا بالطول، فسقط على شيء فأتلفه، ففي ضمان الشيء المتلف رأيان للفقهاء:
١ - مذهب الشافعية والراجح عند الحنابلة (٣): لا ضمان به في هذه الحالة؛ لأن صاحبه تصرف في ملكه، والميل لم يحصل بفعله، فأشبه ما إذا سقط بلا ميل، سواء أمكنه هدمه وإصلاحه أم لا، وسواء طولب بالنقض أم لا.
٢ - مذهب الحنفية والمالكية (٤): في الأمر تفصيل:

===

أAـ إن لم يطالب بنقضه، حتى سقط على إنسان، فقتله، أو على مال فأتلفه، فلا ضمان؛ لأنه بناه في ملكه، والميل حادث بغير فعله، فأشبه ما لو وقع قبل ميله، كثوب ألقته الريح في يده، فما تولد منه، لا يؤاخذ به.

بB ـ وأما إن طولب بنقضه، فلم يفعل، ثم سقط بعدئذ يمكنه فيها نقضه، فهو ضامن ما تلف به من نفس أو مال؛ لأنه حينئذ يصبح متعديا، كما لو امتنع عن تسليم (أو رد) ثوب ألقت به الريح في دار إنسان، وطولب به، فهلك، يضمن. ولأن للناس حق المرور دون ضرر، وليس لأحد منعهم منه.
أما إذا لم يفرط في نقضه، وذهب حتى يستأجر عاملا يهدمه، فسقط، فأفسد شيئا، فلا شيء عليه؛ لأن الواجب عليه فقط إزالة الضرر بقدر الإمكان.
والمطالبة بالنقض أو الإصلاح هو المعروف بشرط التقدم، والتقدم: هو التنبيه والتوصية أولا بدفع وإزالة مضرة مظنونة

فقه الإسلامي وأدلته📕

===

Sabtu, 30 November 2024

💠Hukum Malpraktik dan Sangsinya

Hukum Malpraktek Dan Sanksi Yang Diberikan


🔹️Malpraktik adalah pelanggaran tindakan medis yang mencakup perilaku yang dilarang dalam merawat pasien, seperti tidak melakukan prosedur yang seharusnya, lalai dalam mendiagnosis dengan tepat, dan memberikan obat yang tidak sesuai standar medis. 

🔹️Malpraktik menyalahi prinsip-prinsip Ilmiah (Mukholafatul Ushul al ‘Ilmiyyah). Prinsip ilmiah adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang telah baku dan biasa dipakai oleh para dokter, baik secara teori maupun praktek, dan harus dikuasai oleh dokter saat menjalani profesi kedokteran. 

🔹️Malpraktik kedokteran adalah kejahatan (jarimah) atau jinayah. Malpraktek dalam hukum pidana Islam termasuk jarimah qishos diyat, namun jika dilihat dari tinjauan maslahat, sanksi yang dijatuhkan bisa berupa Ta’zir, Ketentuan ta’zir merupakan kewenangan Ulil Amri (pemerintah). Dalam hal ini, hakimlah yang menentukan sanksi terhadap pelaku sesuai UU yang berlaku. 

Para ulama telah menjelaskan kewajiban para dokter untuk mengikuti prinsip-prinsip ilmiyyah dan bila dokter melakukan malpraktik, maka ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

●Imam Abu Sulaiman al-Khoththobi setelah membawakan hadits Nabi tentang malpraktik, 

مَنْ تَطَبَّبَ وَلَمْ يُعْلَمْ مِنْهُ طِبٌّ قَبْلَ ذَلِكَ، فَهُوَ ضَامِنٌ 

“Barang siapa yang menjadi dokter dan sebelumnya tidak diketahui memiliki keahlian, maka ia harus bertanggung jawab”. 📜HR. Imam Abu Dawud :1224) 

Beliau menjelaskan : 

لا أعلم خلافا في أن المعالج إذا تعدى، فتلف المريض كان ضامنا، والمتعاطي علما أو عملا لا يعرفه متعد، فإذا تولد من فعله التلف ضمن الدية، وسقط عنه القود، لأنه لا يستبد بذلك بدون إذن المريض، وجناية المتطبب في قول عامة الفقهاء على عاقلته. 

Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat Fuqoha bahwa seorang tenaga medis melakukan keteledoran lalu menyebabkan pasien celaka. maka ia bertanggungjawab. Dokter yang mempraktikkan suatu ilmu atau tindakan medis yang tidak diketahuinya, kalau karena perbuatannya menyebabkan pasien celaka (meninggal), ia harus membayar diyat, dan digugurkan darinya hukum qishos. Karena ia tidak akan melakukan pekerjaannya tanpa seizin pasien. Dan tindakan malpraktek tersebut menurut mayoritas Fuqaha juga masih jadi tanggung jawab aqilahnya. 

📕Ma'alim as Sunan, Juz 4 halaman 35, Cet. Darul Kutub Ilmiyah.

=

✔Maka dapat difahami bahwa para ulama sepakat (ijma') jika seseorang tidak memiliki keahlian medis kemudian mengobati pasien dan malah memperburuk kondisinya, dia harus bertanggung jawab dan membayar kerugian yang dialami pasien. 

✔Jika si dokter punya keahlian medis namun terjadi kesalahan atas penanganannya, menurut pendapat ulama fiqh, ia harus membayar diyat (ganti rugi) dan diyat ini juga ditanggung oleh 'aqilahnya yakni pihak keluarga pelaku. ‘Aqilah dilibatkan dalam rangka meringankan beban musibah. 

✔Dokter terbebas dari hukuman qishas mati bila pasien meninggal akibat keteledoran-nya. Kecuali bila si dokter tahu letak kesalahannya tapi malah sengaja dilakukan, maka bisa dijatuhi qishas mati menurut Imam Kholil bin Ishaq dari madzhab Maliki.

Setelah terjadi kecelakaan akibat malpraktek tersebut, selain membayar diyat, apakah si Dokter tetap mendapat upah dari pekerjaannya?

●Imamuna Asy Syafi’i menjelaskan dalam kitabnya : 

مسإ لة الحجام والخاتن والبيطار 

أخبرنا الربيع قال : قال الشافعي الله : وإذ أمر الرجلُ الرجل أن يحجمه ، أو يختن غلامه ، أو يبيطر دابته ، فتلفوا من فعله ؛ فإن كان فعل ما يفعل مثله مما فيه الصلاح للمفعول يه عند أهل العلم بتلك الصناعة فلا ضمان عليه ، وإن كان فعل ما لا يفعل مثله أراد الصلاح وكان عالماً به فهو ضامن وله أجر ما عمل في الحالين في من السلامة والعطب 

قال أبو محمد رحمه الله : وفيه قول آخر : أنه إذا فعل ما لا يفعل فيه مثله فليس له من الأجر شيء ؛ لأنه متعد ، والعمل الذي عمله لم يؤمر به فهو ضامن ولا أجر له وهذا أصح القولين ، وهو معنى قول الشافعي رحمة الله عليه

▪︎Masalah Ahli Bekam, Dokter Khitan dan Dokter Hewan 

Telah mengabarkan kepada kami, Imam Robi' bin Sulaiman, dia berkata, telah berkata Imam Syafii : 

"Apabila seseorang menyuruh dokter untuk membekamnya atau mengkhitankan anaknya, atau mengobati ternaknya, lalu mereka celaka karena perbuatan si dokter, bila si dokter sudah melakukan penanganan sudah sesuai prosedur medis, maka si dokter tidak perlu bertanggung jawab. 

Tapi bila si dokter bertindak TIDAK sesuai prosedur medis, padahal si dokter mengetahui hal itu, maka dia harus bertanggung jawab (membayar ganti rugi). Dan dia berhak atas upah untuk dua keadaan ini, baik pasien itu selamat ataupun tidak." 

Abu Muhammad (Imam Robi' bin Sulaiman) berkata, 

"Dalam hal ini, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa si dokter tidak berhak mendapatkan upahnya karena dia melakukan tindakan dengan sengaja, jika tindakan yang dilakukannya tidak diperintahkan (Tidak sesuai instruksi/prosedur), maka dia bertanggung jawab atas tindakannya dan si dokter TIDAK berhak mendapatkan upahnya. Ini pendapat yang lebih shohih, dan inilah maksud dari penjelasan Imam Asy Syafi'i." 

📕Al 'Umm lil Imam Asy-Syafi'i, jilid 7 halaman 428, Cet. Darul Wafaa`

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#malpraktik #malpraktek #dokter #obat #mengobati #imamsyafii #imamalkhottobi #maalimus_sunan #al_umm #medis #jarimah #jinayah #qishos #diyat

💠Ada 6 Jenis Keringanan Dalam Syariat

 Ada 6 Jenis Keringanan (takhfif) Dalam Syariat



Syaikhul Imam 'Izzudin bin Abdil Aziz bin 'Abdissalam dalam kitabnya, beliau menuliskan pembagian rukhsoh berdasarkan jenisnya :


~


1️⃣. Takhfif isqoth, yaitu keringanan berupa pengguguran. Hukumnya menjadi tidak wajib, seperti tidak wajib sholat jumat, haji dan umroh bagi yang punya udzur yang telah diketahui. 


▪︎[Contoh Udzur : Tidak mampu secara fisik ataupun finansial, sedang haid ataupun nifas]


2️⃣. Takhfif tanqish, yaitu keringanan berupa pengurangan. Contohnya,


1. Sholat qoshor dua rakaat;  

2. Mengurangi perbuatan sholat yang tidak mampu dilakukan oleh orang sakit, seperti rukuk, sujud, dan lain-lain sebatas kemudahan darinya.


3️⃣. Takhfif ibdal, yaitu keringanan berupa penggantian. Contohnya,


1. Wudhu dan mandi wajib diganti dengan tayamum; 

2. Berdiri ketika sholat diganti dengan duduk; 

3. Yang tidak sanggup duduk diganti dengan berbaring; 

4. Yang tidak sanggup berbaring diganti dengan menggerakkan tangan; 

5. Mengganti hukuman dengan berpuasa; 

6. Mengganti puasa dengan memberi makan bagi orang tua sepuh yang tidak sanggup berpuasa;

7. Mengganti sebagian kewajiban haji dan umroh dengan kafarot.


4️⃣. Takhfif taqdim, yaitu keringanan dengan cara didahulukan. Contohnya,


1. Menjamak taqdim ashar pada dzuhur;

2. Jamak taqdim isya pada magrib pada saat Safar dan saat terjebak hujan lebat;

3. Mendahulukan mengeluarkan zakat sebelum haul (batas waktu 1 tahun);

4. Membayar kafarot bagi yang melanggar sumpah.


5️⃣. Takhfif ta'khir, yaitu keringanan dengan cara diakhirkan. Contohnya,


1. Sholat jamak ta'khir;

2. Mengakhirkan puasa Romadhon di bulan berikutnya.


6️⃣. Takhfif tarkhish, yaitu keringanan karena rukhshoh. Contohnya,


1. Sholatnya orang yang bertayamum dengan kondisi berhadats;

2. Sholatnya orang yang bersuci dengan air sisa embun;

3. Memakan sesuatu yang najis untuk pengobatan;

4. Minum khomer saat kondisi darurat;

5. Mengucapkan kata-kata kufur karena mendapat tekanan (berupa ancaman keselamatan).


~


📕Qowa'idil Ahkam fi Ishlahil Anam (Qowa'idul Kubro), juz 2 halaman 12, Cet. Darul Qolam


Rukhsoh bisa disebut juga sebagai takhfif.

Perbedaan takhfif dan rukhsoh, takhfif adalah jenis keringanan nya, sedangkan rukhsoh adalah hukum yang berubah menjadi lebih mudah karena adanya udzur, namun hukum asal tetap berlaku bagi mukallaf yang tidak mengalami udzur.


Dalam kitab Asybah wan Nadzhoir halaman 82, Cet. DKI, karya Imam As Suyuthi, ada tambahan lagi yang disebutkan oleh Imam al 'Alaa-i, untuk yang ke 7️⃣, yakni Takhfif Taghyir (mengubah). Misalnya,


 1. Perubahan bentuk gerakan sholat menjadi lebih simpel, akibat rasa khawatir. 


▪︎[Misalnya sholat ketika sedang berperang, khawatir diserang musuh secara dadakan, maka ada beberapa gerakan sholat yang diubah agar menjadi ringkas, efisien dan aman].


○○○


وهي أنواع :


فصل في بيان تخفيفات الشرع

(منها) تخفيف الإسقاط : كإسقاط الجمعات والصوم والحج والعمرة

بأعذار معروفات .

(ومنها) تخفيف التنقيص : كقصر الصلوات، وتنقيص ما عجز عنه المريض من أفعال الصلوات كتنقيص الركوع والسجود وغيرهما إلى القدر الميسور من ذلك.

(ومنها) تخفيف الإبدال : كإبدال الوضوء والغسل بالتيمم، وإبدال

القيام في الصلاة بالقعود والقعود بالاضطجاع والاضطجاع بالإيماء وإبدال العتق بالصوم، وإبدال الصيام بالإطعام في حق الشيخ الكبير الذي يشق عليه الصيام، وكإبدال بعض واجبات الحج والعمرة بالكفارات عند قيام الأعذار .

(ومنها) تخفيف التقديم : كتقديم العصر إلى الظهر، والعشاء إلى المغرب في السفر والمطر، وكتقديم الزكاة على حولها، والكفارة على حنثها .

(ومنها) تخفيف التأخير : كتأخير الظهر إلى العصر، والمغرب إلى العشاء، ورمضان إلى ما بعده.

(ومنها) تخفيف الترخيص : كصلاة المتيمم مع الحدث، وصلاة المُسْتَجْمِر مع فضلة النجو، وكأكل النجاسات للمداواة، وشرب الخمر للغصة، والتلفظ بكلمة الكفر عند الإكراه. ويُعبر عن هذا بالإطلاق مع قيام المانع، أو بالإباحة مع قيام الحاظر .


●●●


👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

💠Ada 5 Macam Rukhshoh dalam Syariat

 Ada 5 Macam Rukhshoh Berdasarkan Hukumnya



Imam Jalaluddin as Suyuthi dalam kitabnya, beliau menuliskan pembagian rukhshoh berdasarkan hukumnya :


~


1️⃣. Rukhshoh Wajib. Contohnya, 


1. Memakan bangkai karena darurat kelaparan, 

2. Berbuka puasa karena khawatir akan memperburuk sakit karena kondisi wabah kelaparan, 

3. Menghilangkan kehausan yang parah dengan meminum khomer.

▪︎️[Jika ia tidak makan atau minum saat itu juga bisa menyebabkan kematian, maka dalam keadaan ini melakukan 3 hal tadi yang hukum asalnya Haram itu bisa berubah menjadi Wajib karena darurat].


2️⃣. Rukhshoh Sunnah. Contohnya, 


1. Sholat qoshor bagi seorang musafir (yang sudah mencapai 2 marhalah), 

2. Berbuka puasa bagi orang yang sakit atau musafir yang mengalami masyaqqoh (kesulitan) jika melanjutkan puasa, 

▪︎️[Namun bagi musafir ataupun orang sakit yang tidak mengalami masyaqqoh, maka tidak disunnahkan untuk berbuka]. 


3. Menunda sholat dzhuhur sampai hawanya sejuk;

4. Ketika memandang calon tunangan.

▪︎[️Disunnahkan memandang wajah dan telapak tangan calon istri ketika melamar].


3️⃣. Rukhshoh Mubah. Contohnya,


1. Akad transaksi salam 


▪︎️[Akad salam : Jual beli pesanan dengan uang yang dibayarkan duluan sebelum ada barangnya), hukumnya asalnya sih gak boleh, karena dianggap membeli barang yang tidak berwujud (bai'ul ma'dum), tapi karena sangat dibutuhkan dan sudah menjadi 'urf/tradisi, maka hukumnya berubah menjadi mubah]


4️⃣. Rukhshoh Khilaful Aula (lebih utama ditinggalkan). Contohnya,


1. Mengusap sepatu ketika berwudhu, menjamak sholat dan berbuka puasa (bagi musafir) yang tidak mengalami kondisi darurat.

▪︎[Maka lebih utama jika ia melepas sepatunya agar kakinya bisa terbasahi air wudhu, dan lebih utama jika ia melanjutkan puasa jika tidak mengalami kondisi darurat].


2. Bertayamum bagi orang yang telah menemukan air, tapi air tersebut harus dibeli dengan harga di atas standar, padahal dia mampu untuk membelinya.

▪︎[Maka lebih utama jika dia membeli air tersebut secukupnya untuk berwudhu.]


5️⃣. Rukhshoh Makruh. Contohnya, 


1. Mengqoshor sholat dalam perjalanan yang belum mencapai tiga marhalah (135 KM menurut madzhab Hanafi) 

▪︎️[Atau dua marhalah 80,64 KM menurut mazhab Syafi'i atau 88,704 KM menurut mayoritas ulama].

▪︎[Kemakruhan ini disebabkan oleh adanya ketentuan jarak tempuh dalam safar yang syarat minimalnya 2 sampai 3 marhalah].


~


📕Al Asybah wan Nadzhoir lil Imam as Suyuthi, halaman 82, Cet. DKI


○○○

الرخص أقسام :

الفائدة الثالثة


▪︎ما يجب فعلها ، كأكل الميتة للمضطر ، والفطر من خاف الهلاك بغلبة الجوع والعطش وإن كان مقيما صحيحا ، وإسافة الغصة بالخمر :

▪︎وما يندب ، كالقصر في السفر والفطر لمن يشق عليه الصوم في سفر ، أو مرض . والابراد بالظهر ، والنظر إلى المخطوبة .

▪︎وما يباح ، كالسلم :

▪︎وما الأولى تركها : كالمسح على الخف ، والجمع ، والفطر لمن لا يتضرر ، والتيمم لمن وجد الماء يباع بأكثر من ثمن المثل ، وهو قادر عليه :

▪︎وما يكره فعلها ، كالقصر في أقل من ثلاثة مراحل :


●●●


👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

Sabtu, 05 Oktober 2024

💠Mengapa Perlu Mengucapkan Insyallah?

Kenapa Kita Diharuskan Mengucapkan Insyallah? Bagaimana Hukumnya?

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


☆Referensi saya :

📕Anta Tas`alu Wal Islamu Yujibu
👳‍♂️Syaikh Mutawalli asy Sya'rowi💠 



"Soal : Kenapa orang-orang mengucapkan Insyallah? Apa maksud sebenarnya dari kata tersebut?

Jawab : Segala sesuatu yg menyangkut " nanti atau besok " , masuk dlm pengertian "Akan datang/future" . Selama menyangkut yg "Akan datang" , manusia gak bisa mastiin kecuali jika dikehendaki oleh Allah.

Firman Allah,
"Dan jangan sekali - kali kamu mengatakan tentang sesuatu , ' Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi , kecuali (dgn menyebut) Insya Allah." 
📚Al Kahfi : 23-24.

Sesuatu yg berhubungan dgn hal yg akan datang, terdiri dari lima Unsur :

Pertama : pelaku (subjek) . 
Kedua : yang diperlakukan (objek) . 
Ketiga : waktu dan tempat kejadian . 
Keempat : sebab musabab (asal-usul).
Kelima : kekuatan dan kemampuan yg diperlukan untuk melaksanakan nya. 
Kalo ada orang bilang , "Besok saya akan pergi ke tempat A, jam sekian, untuk membicarakan masalah B." 
Orang itu gak punya jaminan kalau dia bakal tetep hidup sampe besok . Begitu juga yg akan ditemuinya. Kalo dia besoknya bisa pergi , mungkin waktunya gak tepat , atau tempatnya berubah atau mungkin besoknya orang itu berhalangan ntah secara fisik atau mental ,atau juga berubah niat untuk melaksanakannya.

Jadi manusia gak berkuasa dlm menentukan kelima unsur itu. Semuanya dikembalikan kpd Sang Pengaturnya , yaitu Allah Yang Mahakuasa . Manusia harus menurut perintah - Nya , dgn mengucapkan kata "Insya Allah (apabila Allah menghendaki )" . Sebab bila Dia tidak menghendaki , pasti rencana itu gagal ."


📕Anta Tas`alu wal Islamu Yujibu, halaman 131-132, Cet. Darul Quds.

س : تتردد كلمة ( إن شاء الله ) على ألسنة الناس اتباعاً للقرآن دون أن يفقهوها فقهـا يجعلها عبـادة ذات نتيجـة حاسمة تعـمر القلب بالإيمان . . فما هو فقه هذه الكلمة ؟ 
جـ : الأمر بهذه الكلمة جاء في قوله تعالى : ﴿ولا تقولن لشيء إني فاعل ذلك غدا * إلا أن يشاء الله فالكلام على الغد ، وما دام غدا فهو مستقبل ، وما دام الحديث عن المستقبل فأنت محجوز عنه بحاجز زمان المستقبل : فلا تستطيع أن تحكم به ، ولا تقول أنا أفعل ذلك غدا إلا أن قلت مع ذلك : ( إلا أن يشاء الله . لماذا ؟ لأن الحادث بالنسبة لنا يحتاج إلى عناصر . 
العنصـر الأول : الفاعل . العنصر الثاني : المفعول . العنصر الثالث : زمان ومكان الحديث ، العنصر الرابع : السبب ، العنصر الخامس : القوة اللازمة لتنفيذ هذه الاشـيـاء هذه عنـاصـر الحـدث عندنا ، هذه هي العناصر . . فإذا قلت : أنا أذهب غدا إلى فلان لأكلمه في كذا . فأي نصر من هذه العناصر يملكه الإنسان ؟ 
أذن لا يوجد حدث الا بفاعل ومفعول يقع عليه الحدث وزمان يحصل فيه الحدث . 
إنه لا يملك نفسه فاعلا أن يظل إلى غد ، ولا يملك المفعول الذي يقابله غدا أن يصل إلى غد ، ولا يمكن أن يتصرف في الزمان والمكان أو يظل إلى غد ، وهب أن السبـب موجـود مع كل هذه الأسبـاب موجود : الفاعل والمفعول والزمن والمكان وكل شيء ، هل أضمن اللقاء ؟ 
إذن فأنا لا أملك عنصر من عناصر الحدث ، ولذلك وجب أن أردها إلى من يملكها ، فأقول : أنا أفعل غدا كذا إن شاء الله . 

📕Anta Tas`alu Wal Islamu Yujibu 


Para ulama membawa larangan dalam surat Al Kahfi ayat 23 tersebut kepada hukum Makruh. Maka dianjurkan mengucapkan "Insyaallah", tidak sampe Wajib.

▪︎ Imam Ibnu Muflih al Hanbali mengatakan:

وتعليق الخبر فيها بمشيئة الله مستحب 
“Memberikan tambahan kata ‘insyaallah’ dalam memberikan kabar, hukumnya mustahab (dianjurkan)”. 

📕Adab asy Syar’iyyah, juz 1 halaman 33. 


▪︎ Imam An Nawawi mengatakan:

يستحب للإنسان إذا قال سأفعل كذا أن يقول: إن شاء الله تعالى على جهة التبرك والامتثال 

“Dianjurkan bagi seseorang ketika mengucapkan: saya akan lakukan ini dan itu, untuk menambahkan kata ‘insyaallah taala’. Dalam rangka untuk tabaruk dan menaati perintah Allah”.

📕Al Minhaj Syarah Shahih Muslim, juz 11 halaman 118.


▪︎ Al Habib al 'Allamah Muhammad Quraish Shihab mengatakan, pada hakikatnya ucapan "Insya Allah" bukan berarti baru akan mengusahakan jika Allah SWT menghendaki. Namun, "Insya Allah" diucapkan setelah menanamkan dlm diri untuk bertekad melakukannya atau mewujudkannya, tapi tetap sadar bahwa keberhasilan upaya tersebut tergantung pada kehendak Allah SWT.

"Jadi, kalau istilahnya ulama-ulama itu "li tabarruk" untuk mendapat keberkahan saja. Bukan menjadikan syarat untuk melakukan kegiatan," ucap Pendiri Pusat Studi Al Qur'an tersebut seperti dikutip dari Shihab & Shihab Edisi Ramadhan.

Beliau menjelaskan, kata "Insyallah" tidak boleh diucapkan dgn maksud menggantungkan kegiatan itu kpd Allah tanpa melakukan usaha apapun alias gak ngapa-ngapain.

Lebih lanjut beliau berpesan agar sering mengucapkan la hawla wa la quwwata illa billah (tidak ada kekuasaan, kemampuan untuk mewujudkan sesuatu atau menghindar dari sesuatu, kecuali dgn Allah).

○○○

💠Makruh Bermukim Lama Di Mekkah

Makruh Bermukim Lama Tanpa Hajat di Kota Mekkah Setelah Selesai Berhaji

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


☆Referensi saya :

📕Asrorul Hajj
👳‍♂️Imam Al Ghozali


Kemuliaan dan keistimewaan kota Mekkah telah masyhur dijelaskan oleh para ulama berdasarkan hadits-hadits Nabi. Tapi ada hal lain yang mungkin bisa membuat kemuliaan kota ini malah tersingkirkan. 

Dengan keberadaan kaum muslimin yang bermukim terlalu lama di kota ini tanpa ada hajat penting, bisa membuat mereka mungkin merasa jenuh dengan kondisi yang ada. Ini yang dihawatirkan mereka bisa melalaikan keistimewaan kota Mekkah. Dan malah merindukan tempat lain padahal mereka sedang berada di kota yang mulia. Hal ini yang menyebabkan kemakruhan tersendiri.


Ada 3 alasan dari Para Ulama yg memakruhkan orang yang selesai berhaji lalu bermukim di Mekkah. Di antaranya :

●Pertama, dikhawatirkan akan muncul kebosanan (karna berlama-lama di sana) ataupun perasaan nyaman dgn Kakbah (karna terlalu sering berada di dekatnya) . Hal itu akan berdampak pada hilangnya penghormatan kpd Baitullah.

Karena itulah Sayidina Umar meminta jamaah haji agar segera kembali pulang setelah selesai berhaji.

Beliau berkata : “Wahai penduduk Yaman, segera pulanglah kalian ke Yaman; Wahai penduduk Syam , segera pulanglah kalian ke Syam; Wahai penduduk Irak , segera pulanglah kalian ke Irak".

Sayidina Umar juga mencegah orang2 agar tidak terlalu banyak bertowaf . Beliau berkata : “Aku takut kalo mereka sudah merasa nyaman dgn Kakbah.

●Kedua , dgn berpisah meninggalkan Mekkah , maka dapat memunculkan rasa kangen buat kita untuk berkunjung lagi kesana.
Karna Allah telah menjadikan Kakbah sbg tempat berkumpul yg aman bagi umat Islam .

Sebagian Ulama berkata :
"Kamu berada di suatu negeri dgn hati yg selalu merindukan Ka'bah dan menyayangi nya itu lebih baik -daripada- kamu berada di Mekkah, tapi hatimu merindukan negeri lain."

Sebagian ulama Salaf berkata :

"Berapa banyak penduduk kota Khurosan yg hatinya lebih dekat dgn Ka'bah daripada hati orang2 yg lagi Towaf di dekat Kakbah
Dikatakan bahwa Allah memiliki para kekasih yg mana Kakbah justru bertawaf mengelilingi mereka sebagai cara mendekatinya daripadanya.

●Ketiga , dikhawatirkan (dgn bermukimnya orang yg selesai berhaji di kota Mekah) akan berbuat dosa serta kesalahan, ini berbahaya, akan membuat Allah murka sebab kemuliaan kota tersebut.

Dan diriwayatkan dari Wuhaib bin Al Warod al Makki, dia berkata,
"Suatu malam saya sedang sholat di dekat Hajar Aswad, kemudian saya mendengar suara di antara Ka'bah dan tirai nya, mengatakan : Kepada Allah aku mengadu, kemudian kpd mu Jibril, apa yg aku dapatkan dari orang2 yg bertowaf di sekitar ku yg mana mereka sibuk membicarakan urusan duniawi, berbuat kebatilan, dan banyak beromong kosong. Jika mereka tidak berhenti melakukan hal tersebut, kami akan memberontak dan bongkahan batu yg menyusunku akan kembali ke gunung yg menjadi asal mula kami diambil darinya.

Sayidina Abdullah bin Mas'ud pernah berkata :  " Tidak ada satu negeri pun selain kota Makkah , yg mana orang yg baru berniat jelek pun sebelum dia lakukan niatnya itu, maka akan ditimpakan siksaan dari Allah. "

Kemudian Sayidina Abdullah bin Mas'ud membacakan firman Allah :

يرد فيه بإلحاد بظلم نذقه من عذاب أليم .
"Dan siapa saja yg bermaksud di dlm nya melakukan keburukan secara zhalim, niscaya akan Kami timpakan kepadanya sebagian dari siksa yg pedih"
~Al Haj ayat 25

📕Asrorul Haj, halaman 23-25. Cet. Maktabah al Iskandariyah.


○○○

فضيلة المقام بمكة حرسها الله تعالى وكراهيته

كره الخائفون المحتاطون من العلماء المقام بمكة لمعان ثلاثة

○الأول خوف التبرم والأنس بالبيت فإن ذلك ربما يؤثر في تسكين حرقة القلب في الاحترام

وهكذا كان عمر رضي الله عنه يضرب الحجاج إذا حجوا ويقول يا أهل اليمن يمنكم ويا أهل الشام شامكم ويا أهل العراق عراقكم

ولذلك هم عمر رضي الله عنه بمنع الناس من كثرة الطواف وقال خشيت أن يأنس الناس بهذا البيت

○الثاني تهييج الشوق بالمفارقة لتنبعث داعية العودة فإن الله تعالى جعل البيت مثابة للناس وأمناً أي يثوبون ويعودون إليه مرة بعد أخرى ولا يقضون منه وطرا

وقال بعضهم تكون في بلد وقلبك مشتاق إلى مكة متعلق بهذا البيت خير لك من أن تكون فيه وأنت متبرم بالمقام وقلبك في بلد آخر

وقال بعض السلف كم من رجل بخراسان هو أقرب إلى هذا البيت ممن يطوف به ويقال إن لله تعالى عباداً تطوف بهم الكعبة تقرباً إلى الله عز وجل

○الثالث الخوف من ركوب الخطايا والذنوب بها فإن ذلك مخطر وبالحري أن يورث مقت الله عز وجل لشرف الموضع

وروي عن وهيب بن الورد المكي قال كنت ذات ليلة في الحجر أصلي فسمعت كلاماً بين الكعبة والأستار يقول إلى الله أشكو ثم إليك يا جبرائيل ما ألقى من الطائفين حولي من تفكرهم في الحديث ولغوهم ولهوهم لئن لم ينتهوا عن ذلك لأنتفضن انتفاضة يرجع كل حجر مني إلى الجبل الذي قطع منه

وقال ابن مسعود رضي الله عنه ما من بلد يؤاخذ فيه العبد بالنية قبل العمل إلا مكة وتلا قوله تعالى ومن يرد فيه بإلحاد بظلم نذقه من عذاب أليم أي أنه على مجرد الإرادة
📕Asrorul Haj - Ihya Ulumuddin, Imam al Ghozali

●●●

💠Adab-Adab Dalam Menyembelih Qurban

Adab-Adab Yang Harus Diperhatikan Dalam Menyembelih Hewan Kurban 

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

☆Referensi saya :

📕Mausu'ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah
🏛Kementrian Wakaf Kuwait



Sebagian besar umat Islam di seluruh dunia sudah melaksanakan ibadah penyembelihan hewan kurban, namun masih banyak yang tidak mengetahui dan paham tentang adab sebelum, ketika, dan sesudah proses menyembelih hewan kurban yg sesuai anjuran Nabi ﷺ dan pemahaman para Ulama yang ahli di bidangnya.

Inilah beberapa adab yang perlu diperhatikan saat proses menyembelih hewan kurban, dijelaskan lengkap dalam kitab Mausuah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, salah satu kitab Fiqh yang disusun dan ditulis oleh para alim ulama dari negara Kuwait.



●Adab-adab yang harus diperhatikan saat menyembelih:

1 - Menyembelih dgn peralatan besi yg tajam, seperti pisau dan pedang yg tajam.

Bukan yg selain besi; Karena kalau gak pake dari besi yg tajam akan bertentangan dgn sabda Nabi ﷺ :

وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ
jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya.” (HR Muslim)

2 - Menyegerakan penyelesaian saat proses memotong- yakni mempercepat gerakannya - karena itu dapat menenangkan hewan kurban.

[[Qultu : Jangan kelamaan dlm proses penyembelihan, nnti bisa bikin hewan meronta-ronta dan kesakitan, maka dari itu segera tuntaskan proses memotongnya.
Saat pemotongan, perlu diperhatikan hal ini, yakni memutuskan tiga saluran, berupa pembuluh darah, pernapasan, dan saluran makanan. Setelah hewan benar-benar mati, maka bisa melakukan proses selanjutnya]].

3 - Menghadap arah kiblat

Dari sisi penyembelih dan dari sisi hewan yg hendak disembelih dihadapkan ke arah kiblat pada posisi leher yg akan disembelih, bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah.”

Sayidina Abdullah bin Umar membenci memakan daging hewan yg saat disembelih nggak diarahin ke kiblat. Dan dalam hal ini gak ada sahabat lain yg menentang beliau , diriwayatkan dari Sirin dan Jabir bin Zaid.

4 - Menajamkan pisau sebelum menempatkan hewan sembelihan.

Hal ini dinyatakan oleh para ulama Hanafi, Maliki dan Syafi'i, dan mereka sepakat bahwa tidak disukai jika Tukang Sembelih mengasah pisau di hadapan hewan yg siap untuk disembelih,

Seperti yang diriwayatkan oleh Imam al Hakim dari sayidina Ibnu Abbas RA :
Nabi ﷺ mengamati seseorang yg meletakkan kakinya di atas pipi kambing saat ia mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu memandang kpd org tersebut. Lantas Nabi ﷺ berkata, “Apa kamu mau membunuhnya dgn beberapa kali kematian??? Hendaklah pisaumu sudah diasah dulu sebelum kamu nempatin kambing mu.”

[[Qultu : Jangan sampai hewan qurban lainnya melihat proses penyembelihan hewan kurban lain

Penting untuk diperhatikan agar proses penyembelihan tidak terlihat oleh hewan lainnya. Tujuannya adalah agar hewan tidak stress dan merasa ketakutan]]

Hewan yg disembelih tidak diharamkan dgn meninggalkan hal-hal yg dianjurkan dari penyembelihan, atau dgn melakukan hal-hal yg tercela.
Karena larangan yg diturunkan dari hadits tersebut bukan karena makna yang dilarang, tapi makna yg lain, yaitu apa yg ditimpakan kpd hewan sembelihan berupa bertambahnya rasa sakit yg tidak diperlukan, maka tidak boleh mengharuskan adanya kerusakan

5 - Meletakkan hewan sembelihan dengan pelan di sisi kirinya. 

Imam Nawawi berkata : Terdapat bbrp Hadits tentang membaringkan hewan, dan para ulama kaum muslimin sepakat dan menyatakan bahwa meletakkan hewan kurban yg benar adalah di sisi kirinya karena agar lebih mudah bagi penyembelih untuk memotong dgn tangan kanan dan megang kepala hewan nya pake tangan kiri.

6 - Membawa hewan kurban ke tempat penyembelihan dgn lemah lembut, ini sudah dijelaskan oleh para ulama Syafiiyah

7 - Menawarkan air minum ke hewan sembelihan sebelum menyembelihnya, ini juga dijelaskan oleh para ulama Syafiiyah

8 - Dan jika penyembelihan kurban adalah dari kurban Udh-hiyah (hewan yg disembelih di hari raya) maka ucapkan takbir tiga kali sebelum basmallah dan tiga kali takbir setelahnya, dan kemudian ucapkan:

اَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ يَا كَرِيْمُ

"Ya Tuhanku, hewan ini adalah nikmat dari Mu. Dan dgn ini aku bertaqorrub kpd Mu. Karenanya wahai Tuhan Yang Maha Pemurah, terimalah qurbanku."

Hal ini sudah ditegaskan oleh para ulama Syafiiyah

[[Qultu : Kalau yang menyembelih bukan orang yg berqurban maka doa ini dibaca oleh orang yg menyembelihnya (tukang jagal) tersebut dgn lafadh berikut ini:

اَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنْ ...
(menyebut: nama orang yg berqurban ) ]]

9 - Penyembelihan dilakukan dgn tangan kanan, seperti yg dinyatakan oleh para ulama Malikiyah dan Syafi'iyah

10 - Tidak berlebihan dlm memotong hingga sampai patah tulang belakangnya atau sampai memisahkan kepala hewan kurban dari badannya pada saat penyembelihan.

Begitu juga ketika setelah menyembelih sebelum dingin, serta menguliti sebelum dingin karena semua ini menambah rasa sakit yg tidak perlu baginya.

[[Qultu : "Sebelum dingin" Dingin di situ maksudnya adalah syarafnya yg dingin yakni seluruh tubuhnya diam berhenti bergerak/nyawanya benar² sudah hilang]]

Dan untuk hadits dari sayidina Ibnu Abbas RA  "Bahwa Nabi ﷺ melarang tafarus ketika menyembelih hewan ".

Imam Ibnu Atsir berkata dlm kitab Nihayah, makna Tafarus adalah hewan yg disembelih dipatahkan lehernya sebelum dingin.”

Walau dipatahkan atau dikuliti sebelum tubuhnya dingin maka (dagingnya) tidaklah haram karena cara penyembelihan sudah sah dgn syarat-syaratnya.

Ulama Malikiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah menyatakan bahwa hukumnya makruh jika dipotong anggota tubuhnya, atau dipanggang api sehabis disembelih dan sebelum ruhnya benar2 hilang.

Ulama Syafiiyah juga menyatakan bahwa makruh menggeser dan memindahkan nya sebelum ruhnya benar2 hilang.

Sdgkn Qodhi dari kalangan Hanabilah berkata: Diharamkan memisahkan lehernya dan memotong (organ) nya sebelum dingin.

[[Qultu : "Sebelum dingin". -Dingin- di situ maksudnya adalah syarafnya yg dingin yakni seluruh tubuhnya diam berhenti bergerak/nyawanya benar² sudah hilang]]

📕Mausu'ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah, juz 21 halaman 196-198, Cet. Kementrian Wakaf & Agama Negara Kuwait.


آداب ينبغي مراعاتها عند الذبح:

1أ – أن يكون بآلة حديد حادة كالسكين والسيف الحادين لا بغير الحديد; لأن ذلك مخالف للإراحة المطلوبة في قوله صلى الله عليه وسلم (وليرح ذبيحته) .

2ب – التذفيف في القطع – وهو الإسراع – لأن فيه إراحة للذبيحة .

3ج – أن يكون الذابح مستقبل القبلة ، والذبيحة موجهة إلى القبلة بمذبحها لا بوجهها إذ هي جهة الرغبة إلى طاعة الله عز شأنه ; ولأن ابن عمر – رضي الله عنهما – كان يكره أن يأكل ذبيحة لغير القبلة. ولا مخالف له من الصحابة ، وصح ذلك عن ابن سيرين وجابر بن زيد .

4د- إحداد الشفرة قبل إضجاع الشاة ونحوها، صرح بذلك الحنفية، والمالكية والشافعية، واتفقوا على كراهة أن يحد الذابح الشفرة بين يدي الذبيحة، وهي مهيأة للذبح لما أخرجه الحاكم عن ابن عباس – رضي الله عنهما- (أن رجلا أضجع شاة يريد أن يذبحها وهو يحد شفرته ، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم : أتريد أن تميتها موتات ؟ هلا حددت شفرتك قبل أن تضجعها)

ولا تحرُم الذبيحة بترك شيء من مستحبات الذبح، أو فعل شيء من مكروهاته; لأن النهي المستفاد من الحديث ليس لمعنى في المنهي عنه بل لمعنى في غيره، وهو ما يلحق الحيوان من زيادة ألم لا حاجة إليها  فلا يوجب الفساد .

5هـ – أن تضجع الذبيحة على شقها الأيسر برفق .
قال النووي: جاءت الأحاديث بالإضجاع وأجمع عليه المسلمون، واتفق العلماء على أن إضجاع الذبيحة يكون على جانبها الأيسر لأنه أسهل على الذابح في أخذ السكين باليمين وإمساك رأسها باليسار، وقاس الجمهور على الكبش جميع المذبوحات التي تحتاج فيها إلى الإضجاع .

6و- سوق الذبيحة إلى المذبح برفق، صرح بذلك الشافعية .

7ز- عرض الماء على الذبيحة قبل ذبحها ، صرح بذلك الشافعية أيضا .

8ح – وإذا كانت الذبيحة قربة من القربات كالأضحية يكبر الذابح ثلاثا قبل التسمية وثلاثا بعدها، ثم يقول: اللهم هذا منك وإليك فتقبله مني، صرح بذلك الشافعية .

9ط – كون الذبح باليد اليمنى، صرح بذلك المالكية والشافعية .

10ي – عدم المبالغة في القطع حتى يبلغ الذابح النخاع أو يبين رأس الذبيحة حال ذبحها وكذا بعد الذبح قبل أن تبرد وكذا سلخها قبل أن تبرد لما في كل ذلك من زيادة إيلام لا حاجة إليها .

ولحديث ابن عباس رضي الله عنهما (أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن الذبيحة أن تفرس) .

وقال ابن الأثير في ” النهاية معنى أن تفرس هو كسر رقبة الذبيحة قبل أن تبرد” فإن نخع أو سلخ قبل أن تبرد لم تحرم الذبيحة لوجود التذكية بشرائطها .

وصرح المالكية والشافعية والحنابلة بكراهة قطع عضو منها، أو إلقائها في النار بعد تمام ذبحها، وقبل خروج روحها .

وصرح الشافعية أيضا بكراهة تحريكها ونقلها قبل خروج روحها .

وقال القاضي من الحنابلة : يحرم كسر عنقها حتى تبرد، وقطع 
عضو منها قبل أن تبرد

●●●

💠Adab-Adab Dan Keutamaan Hari Jumat

Adab - Adab Sholat Jum'at dan Keutamaan hari Jum'at Menurut Imam Ibnu Qudamah

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


☆Referensi saya :

📕Mukhtashor Minhajul Qoshidin
👳‍♂️Imam Ibnu Qudamah al Maqdisi



Adab dan Keutamaan yang berhubungan dengan Sholat Jumat dan Hari Jumat :

1. Disiapin sejak hari kamis untuk nyambut kedatangannya dan pada malam Jum'at nya , dengan membersihkan diri , cuci pakaian , dan nyiapin kebutuhan lainnya .

2. Mandi sunnah pada hari Jum'at , srti yg disebutkan di dlm "2 Kitab Hadits Shohih " dan dlm kitab2 hadits lainnya . Yg lebih utama adalah mandi dilakukan sesaat sebelum (brgkt) melaksanakan sholat Jum'at .

3. Membersihkan badan dari kotoran , potong kuku , bersiwak , pake parfum, dan memakai pakaian yg bagus .

4. Mengawali dateng ke masjid jalan kaki dgn tenang , nggak terburu-buru saat berjalan , niat untuk i'tikaf di masjid sampe waktu sholat Jum'at selesai.

5. Tidak melangkahi pundak orang yg berada di depannya , kecuali kalau memungkinkan ada celah yg cukup untuk dilewatin.

6. Gak boleh lewat di depan orang2 yg lagi sholat .

7. Usahain untuk dapetin shaf yg pertama , kecuali kalo ngeliat kemungkaran pada shof itu , maka boleh untuk milih shof di belakangnya , hal itu karena udzur .

8. Berhenti melaksanakan sholat nafilah dan berhenti dzikir kalau Sang Khotib udah naik ke mimbar untuk berkhutbah , jgn lupa utk menjawab suara adzan lalu mendengarkan khutbah .

9. Melaksanakan sholat sunnah 2 atau 4 rokaat setelah selesai sholat Jum'at.

10. Beri'tikaf di masjid sampe waktu Ashar atau bahkan sampe maghrib. (Qultu : Bagi yg mampu)

11. Menghadirkan hati dlm berdzikir di waktu hari Jumat , karena hari Jum'at adalah hari yg mulia.

12. Memperbanyak baca sholawat kpd Nabi ﷺ pada hari Jum'at , beliau bersabda : "Barang siapa yg bersholawat kpd ku di hari Jum'at sebanyak 80 kali maka Allah akan mengampuni dosa dosanya selama 80 tahun " .

Kalau perlu, dia bisa menambah sholawat dgn mendo'akan Nabi , seperti membaca redaksi do'a ini :

"Ya Allah , berikanlah kpd Nabi Muhammad ﷺ kedudukan , keutamaan, dan derajat yg tinggi serta bangkitkanlah beliau (di hari kiamat ) pada kedudukan yg terpuji seperti yg Engkau janjikan . Ya Allah , limpahkanlah pahala kpd Nabi kami demi kami yg memang pantas".

13. Disunnahkan membaca surat Al Kahfi .

Telah disebutkan dlm hadits yg diriwayatkan oleh Sayidah 'Aisyah rodhiyallahu 'anha , dia berkata :

Rasulullah ﷺ bersabda : " Ketahuilah , maukah kalian kuberitahu tentang satu surat yg keagungannya memenuhi antara langit dan bumi , dan bagi orang yg menulisnya ada pahala seperti itu pula .
Barang siapa yg membacanya pada hari Jum'at , maka akan diampuni dosa2 nya antara hari itu hingga hari Jum'at berikutnya dan ditambah lagi tiga hari . Barang siapa membaca lima ayat terakhir dari surat ini ketika akan tidur , maka Allah akan membangunkan pada bagian malam manapun yg kehendakinya ?
"Mereka menjawab , " Baik , wahai Rasulullah .
"Beliau bersabda , " Itulah surat Al Kahfi " .

Dianjurkan untuk memperbanyak baca Al Qur'an  pada hari Jum'at atau mengkhatamkannya sesuai kemampuannya .

14. Mensedekahkan harta di hari Jum'at , dan dilakukan di luar masjid .

15. Mengisi hari Jum'at dgn amal2 kebaikan untuk akhirat dan usahain utk tinggalin sejenak kesibukan duniawi .


📕Mukhtashor Minhajul Qoshidin halaman 42 - 44, Cet. Maktabul Islamiy.


فصل في آداب تتعلق بصلاة الجمعة ويوم الجمعة وهي نحو من خمسة عشر :

أحدها : أن يستعد لها من يوم الخميس وفي ليلة الجمعة : بالتنظيف ، وغسل الثياب ، وإعداد ما يصلح لها .

الثاني : الاغتسال في يومها ، كما جاء في الأحاديث في « الصحيحين » وغيرها ( 1 ) والأفضل في الاغتسال أن يكون قبل الرواح إليها بزمن يسير . الثالث : التزين بتنظيف البدن ، وقص الأظفار ، والسواك ، وغير ذلك مما تقدم من إزالة الفضلات ، ويتطيب ويلبس أحسن ثيابه . الرابع : التبكير إليها ماشياً . وينبغي للساعي إلى الجامع أن يمشي بسكون وخشوع ، وينوي الاعتكاف في المسجد إلى وقت خروجه . الخامس : ألا يتخطى رقاب الناس ، ولا يفرق بين أثنين إلا أن يرى فرجة فيتخطى إليها .

السادس : ألا يمر بين يدي المصلي . السابع : : أن يطلب الصف الأول ، إلا أن يرى منكراً أو يسمعه فيكون له في التأخر عذر .

الثامن : أن يقطع التنفل من الصلاة والذكر عند خروج الإمام من صومعته ، ويشتغل بإجابة المؤذن ، ثم بأستماع الخطبة .

التاسع : أن يصلي السنة بعد الجمعة إن شاء ركعتين ، وإن شاء أربعاً ، وإن شاء ستا .

العاشر : أن يقيم في المسجد حتى يصلي العصر ، وإن أقام إلى المغرب فهو أفضل .

الحادي عشر : أن يراقب الساعة الشريفة التي في يوم الجمعة بإحضار القلب وملازمة الذكر .

وأختلف في لهذه الساعة : ففي أفراد مسلم من حديث أبي موسى : أنها ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة ( 1 ) .

وفي حديث آخر : هي ما بين فراغ الإمام من الخطبة إلى أن تقضى الصلاة ( ۲ ) . وفي حديث جابر : أنها آخر ساعة بعد العصر ( 3 ) .

وفي حديث أنس قال : « التمسوها ما بين صلاة العصر إلى غروب الشمس » ( 4 ) . وقال أبو بكر الأثرم : لا تخلو لهذه الأحاديث من وجهين : إما أن يكون بعضها أصح من بعض . وإما أن تكون لهذه الساعة تنتقل في الأوقات كتنقل ليلة القدر في ليالي العشر .

الثاني عشر : أن يكثر من الصلاة على النبي ﷺ في لهذا اليوم ، فقد روي عن النبي ﷺ أنه قال : « من صلى علي في يوم الجمعة ثمانين مرة غفر الله له ذنوب ثمانين سنة » ( 5 ) . وإن أحب زاد في الصلاة عليه الدعاء له ، كقوله :

( اللهم آت محمداً الوسيلة والفضيلة ، والدرجة الرفيعة ، وأبعثه المقام المحمود الذي وعدته ، اللهم أجز نبينا عنا ما هو أهله ) . وليضف إلى الصلاة الاستغفار ، فإنه مستحب في ذلك اليوم .

الثالث عشر : أن يقرأ سورة الكهف ، فقد جاء في حديث من رواية عائشة رضي الله عنها أنها قالت : قال رسول اللہ ﷺ : « ألا أحدثكم بسورة ملأ عظمها ما بين السماء والأرض ، ولكاتبها من الأجر مثل ذلك . ومن قرأها يوم الجمعة غفر له ما بينها وبين الجمعة الأخرى وزيادة ثلاثة أيام . ومن قرأ الخمس الأواخر منها عند نومه بعثه الله تعالى أي الليل ( ۱ ) شاء » ؟ قالوا : بلی یا رسول الله . قال : « سورة الكهف » ( ۲ ) .

وروي في حديث آخر : أن من قرأها في يوم الجمعة أو ليلة الجمعة وقي الفتنة (٣)

ويستحب أن يكثر من قراءة القرآن في يوم الجمعة ، وأن يختم فيه ، أو في ليلة الجمعة إن قدر .

الرابع عشر : أن يتصدق في يوم الجمعة بما أمكن ، ولتكن صدقته خارج المسجد . ويستحب أن يصلي صلاة التسبيح في يوم الجمعة . .

الخامس عشر : يستحب أن يجعل يوم الجمعة لأعمال الآخرة ، ويكف عن جميع أشغال الدنيا .

●●●


Jumat, 04 Oktober 2024

💠Cara Memuliakan Al Quran

Cara Mengagungkan dan Menghormati Kitab Al Quran - Syaikh Nawawi al Bantani

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


☆Referensi saya :

📕Qomi'uth Tughyan
👳‍♂️Syaikh Nawawi al Bantani



Keutamaan-keutamaan Al Qur’an sudah dipahami dengan baik, sebagaimana yang kita maklumi dalam nash Al Qur’an sendiri dan dalam banyak Hadits Nabi ﷺ, tapi bagaimana sebenarnya praktek interaksi setiap hari dengan kitab Al Qur’an ini?

Bagaimana seharusnya adab menghormati dan memuliakan Al Qur’an. Syaikh Nawawi al Bantani menuliskan nya dalam kitab Qomiut Thugyan sebagai berikut :


● Mengagungkan dan menghormati kitab Al Quran, dilakukan dengan cara :


a. Membacanya dalam keadaan suci.

b. Tidak menyentuhnya kecuali dlm keadaan suci.

c. Bersikat gigi saat hendak membaca.

d. Duduk dgn tegap dan tidak berbaring pada waktu membaca selain dalam salat.

e. Memakai pakaian yg bagus, karna orang yg membaca kitab Quran, pada hakekatnya ia sedang bermunajat kpd Tuhannya.

f. Menghadap kiblat pada waktu membaca.

g. Berkumur dahulu (sebelum melanjutkan bacaan) setiap kali mulut berdahak saat membaca.

h. Berhenti membaca pas mulut lagi menguap.

i. Membaca dengan serius dan tartil.

j. Membaca setiap huruf dgn benar makhrojnya

k. Tidak sembarangan dlm meletakkan nya.

l. Tidak meletakkan sesuatu di atas nya, sehingga mushaf Quran tetap berada di posisi paling atas.

m. Meletakkan nya di pangkuannya atau ditahan oleh genggaman tangan ketika membacanya, jangan meletakkannya di atas lantai ketika membacanya.

n. Tidak menghapus tulisan nya di papan dgn air ludah, tetapi harus dgn air bersih

o. Tidak menggunakan mushaf bekas yg sudah usang/lecek sbg sampul utk buku-buku lain sebab hal itu adalah sebuah tindakan yg kurangajar. Tapi dgn cara meleburnya menggunakan air.

p. Tidak membaca kitab Al Quran di pasar, di tempat yg gaduh, dan tempat berkumpulnya orang2
bodoh.

q. Jika menggunakan tulisan Al Quran utk berobat/ruqyah, jangan membuang air bekas rendaman nya di tempat kotor, tempat najis, atau tempat yg diinjak-injak, tapi harus dibuang di tempat yg tidak diinjak oleh orang, atau dgn cara menggali lubang di tempat yg suci dan menyiram bagian tubuh di atas lubang tersebut (agar mengalir masuk kesitu), lalu lubang tersebut ditutup kembali, atau menyiram badannya di tepi sungai yg besar, sehingga air bekas basuhannya mengalir dan bercampur dgn air sungai.

r. Menyebut nama Allah (membaca basmalah) pada waktu menulis lafadz Quran atau ketika akan meminum rendaman tulisan Quran dan mengagungkan niat dlm hal tersebut, karena Allah akan memberinya menurut kadar niatnya.

Firman Allah taala : "Sekiranya Kami turunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihat gunung tersebut tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah

Firman Allah taala: "Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfudz) tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan".

Dan Nabi ﷺ bersabda, "Sebaik-baiknya di antara kalian adalah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya kepada orang-orang."

Dan Nabi ﷺ bersabda, : "Tidak boleh dengki kecuali pada dua hal. (Pertama) kepada seseorang yang telah Allah beri Al Qur`an lalu ia gunakan utk berdiri (sholat) siang dan malam. (Kedua) kepada seorang yang dikaruniakan Allah harta kekayaan, lalu disedekahkan harta itu siang dan malam."


📕Qomi'uth Thugyan Syarah Nadzhom Syuabul Iman. (Tanpa penerbit)




فمن ذلك أن يقرأه وهو على طهارة وأن لا يمسه إلا طاهرا وأن يستاك ويتخلل عند إرادة قراءته وأن يستوي لقرائته قاعدا إن كان في غير صلاة ولا يكون متكئا وأن يلبس ثياب التجمل لأنه مناج ربه وأن يستقبل القبلة لقراءته وأن يتمضمض كلما تنخع وأن يمسك عن القراءة إذا تثاءب وأن يقرءه على تؤدة وترتيل وأن يؤدي لكل حرف حقه من الأداء وأن لا يترك الصحيفة منثورة إذا وضعها وأن لا يضع فوقه شيئا من الكتب حتى يكون أبدا عاليا على سائر الكتب وأن يضعه في حجره إذا قرأه أو على شيئ بين يديه ولا يضعه بالارض وأن لا يمحوه من اللوح بالبزاق بل يغسله بالماء وأن لا يتخذ الصحيفة إذا بليت ودرست وقاية للكتب فإن ذلك جفاء عظيم ولكن يمحوها بالماء وأن لا يقرأ في الأسواق ولا في مواطن اللغط واللغو ومجمع السفهاء وأن لا غسالته على كناسة إذا اغتسل بكتابته مستشفيا من سقم ولا في موضع نجاسة ولا على موضع يوطأ ولكن على ناحية من يصب من الأرض في بقعة لايطؤها الناس أو يحفر حفيرة في موضع طاهر حتى يصب من جسده في تلك الحفيرة ثم يكسبها أو في نهر كبير يختلط بمائه فيجري وأن يسمي الله على كل نفس إذا كتبه أو شربه ويعظم النية في ذلك فإن الله يؤتيه على قدر نيته.

قال تعالى : لو انزلنا هذا القرآن علي جبل لرأيته خاشعا متصدعا خشية الله.
وقال تعالى : انه لقرآن كريم في كتاب مكنون لا يمسه إلا المطهرون.

وقال النبي صلي الله عليه وسلم فيما رواه البخاري عن عثمان: في أفضلكم أو خيركم من تعلم القرآن و علمه الناس.
و عن عبد الله بن عمر عن النبي صلي الله عليه و سلم قال: لا حسد إلا في اثنتين رجل آتاه الله هذا الكتاب فقام به آناء الليل و النهار و رجل آتاه الله مالا فهو يتصدق به آناء الليل و النهار.

Sabtu, 28 September 2024

💠Haruskah Potongan Tubuh Disholatkan?

Apakah Sebagian Anggota Tubuh Yang Terputus dan Terpisah dari Tubuh, Perlu Disholatkan?

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


☆Referensi saya :

📕Majmu Syarh al Muhadzdzab
👳‍♂️Imam an Nawawi

📕Hasyiyah Bujairimi Alal Khotib
👳‍♂️Syaikh Sulaiman al Bujairimi



Kuku, rambut, dan gigi masuk kategori organ-organ yang Munfasil (maksudnya akan tumbuh dan terpisah dari tubuh sebab tidak dialiri darah dan syaraf).
Kalo organ yang lainnya seperti tangan, ruas jari, telinga, kaki dan semisalnya, maka masuk dalam organ-organ yang Muttasil alias tersambung dengan tubuh.

Kalau demikian, lalu timbul pertanyaan, untuk sebagian anggota badan/organ tubuh yang Muttasil yang ketika terpisah atau terpotong dari tubuh apakah harus dimandikan dan disholati sebelum dikuburkan?


■ Imam An Nawawi dalam kitabnya, beliau menjelaskan :

واتفقت نصوص الشافعي رحمه الله والأصحاب على أنه إذا وجد بعض من تيقنا موته غسل وصلي عليه , وبه قال أحمد , وقال أبو حنيفة رحمه الله : لا يصلى عليه إلا إذا وجد أكثر من نصفه , وعندنا لا فرق بين القليل والكثير , قال أصحابنا رحمهم الله : وإنما نصلي عليه إذا تيقنا موته .

"Nash-nash Imam Asy Syafi'i dan para ulama madzhab kami menyebutkan, jika ditemukan ada sebagian anggota tubuh dari orang yang diyakini sudah meninggal, maka bagian tubuh tersebut harus dimandikan kemudian disholatin, pendapat ini juga disampaikan Imam Ahmad. Imam Abu Hanifah berpendapat, gak boleh disholatin, kecuali kalo ditemukannya lebih dari separuh bagian tubuh (baru boleh disholati).

Menurut pendapat kami, mau sedikit kek mau banyak kek, itu gak ada bedanya. Para ulama kami (madzhab Syafi'i) menyatakan, kami hanya mensholati bagian tubuh jika kami udah yakin kalo orgnya udah meninggal.

فأما إذا قطع عضو من حي , كيد سارق , وجان وغير ذلك فلا يصلى عليه , وكذا لو شككنا في العضو هل هو منفصل من حي أو ميت ؟ لم نصل عليه ، هذا هو المذهب الصحيح ، وبه قطع الأصحاب في كل الطرق إلا صاحب الحاوي ومن أخذ عنه ، فإنه ذكر في العضو المقطوع من الحي وجهين : في وجوب غسله والصلاة عليه : ( أحدهما ) : يغسل ويصلى عليه كعضو الميت ( وأصحهما ) : لا يغسل ولا يصلى عليه ، ونقل المتولي رحمه الله الاتفاق على أنه لا يغسل ولا يصلى عليه ، فقال : لا خلاف أن اليد المقطوعة في السرقة والقصاص لا تغسل ولا يصلى عليها ، ولكن تلف في خرقة وتدفن ، وكذا الأظفار المقلومة والشعر المأخوذ من الأحياء لا يصلى على شيء منها ، لكن يستحب دفنها ، قال : وكذا إذا شككنا في موت صاحب العضو فلا يغسل ولا يصلى عليه ، وهذا الذي سبق في الصلاة على بعض الذي تيقنا موته هو في العضو

Sementara bagian tubuh yang terpotong dari orang yang masih hidup, seperti tangan pencuri, perampok (karna kena hukum Qisos) dan sebab lainnya (Misal: kecelakaan/amputasi), maka bagian tubuh tersebut gak perlu disholatin. Seperti itu juga kalo kita ragu nih, apakah bagian tubuh yang ditemukan berasal dari orang yang masih hidup apa udah mati, Imam Asy Syafi'i sendiri ngga memiliki penjelasan tentang masalah ini. Ini adalah madzhab yang shohih.

Pendapat ini dipastikan para ulama madzhab kami di semua jalur riwayat, kecuali penulis kitab Al Hawi (Imam al Mawardi) dan fuqoho lain yang bersandar pada kitab ini, sebab disebutkan adanya dua pendapat terkait wajibnya memandikan dan mensholatkan bagian tubuh terpotong dari orang yg masih hidup;

◇Pendapat Pertama adalah : Dimandikan dan disholatin, sama kayak bagian tubuh orang yang udah meninggal.

◇Pendapat Kedua dan yang paling shohih adalah : Tidak perlu dimandikan dan tidak perlu disholatin. Imam Mutawalli menukil ijma bahwa bagian tubuh tersebut gak boleh dimandikan dan gak boleh disholatin. Gak ada perbedaan pendapat diantara ulama bahwa tangan tangan yang dihukum potong karna kasus pencurian itu gak perlu dimandikan apalagi disholatkan, cukup dibungkus dengan kain lalu dikubur aja.

Dan sprti potongan kuku, rambut dan bulu yang diambil dari orang yang masih hidup juga tidak boleh disholati, hanya dianjurkan untuk dikubur aja.

Seperti itu juga kalo kita masih ragu nih dengan si pemilik potongan tubuh yang ditemukan, apakah dia masih hidup apa udah mati maka, bagian tubuh tersebut gak perlu dimandikan dan gak perlu disholati.

Ketentuan ini berlaku untuk bagian tubuh milik orang yg dipastikan sudah meninggal duluan (sudah dikubur).

قال أصحابنا رحمهم الله : والدفن لا يختص بعضو من علم موته ، بل كل ما ينفصل من الحي من عضو وشعر وظفر وغيرهما من الأجزاء ، يستحب دفنه وكذلك توارى العلقة والمضغة تلقيهما المرأة ، وكذا يوارى دم الفصد والحجامة....

Penguburan nggak dikhususkan untuk bagian/organ tubuh dari orang yang udah diketahui kematiannya, tapi juga dari orang yang masih hidup, seperti : Satu bagian tubuh tertentu, rambut, kuku atau lainnya maka dianjurkan untuk dikuburkan saja. Dalam hal ini termasuk juga ‘alaqoh (segumpal darah) atau mudhghoh (segumpal daging) yang keluar dari rahim Bumil (yg keguguran) atau darah yg keluar karena adanya pendarahan dari tubuh manusia, hendaklah dikuburkan, ... dst”

📕Majmu’ Syarh al Muhadzab, juz 5 halaman 212-213, Cet. Maktabah Al Irsyad.




■ Sama seperti penjelasan Imam Nawawi terkait jika si pemilik organ udah meninggal, dalam kitab Hasyiyah Bujairimi karya Syaikh Sulaiman al Bujairimi, disebutkan bahwa untuk anggota tubuh yang terpotong dan kemudian setelah itu orangnya meninggoy, maka cara mengurusnya sama seperti mengurus mayat pada umumnya.

Tapi jika orangnya masih hidup, cara mengurusnya cukup dibersihkan, dikafani/dibungkus kain, kemudian dikubur dan tidak disyariatkan untuk disholati.

ولو وجد جزء ميت مسلم غير شهيد صلى عليه بعد غسله و ستره بخرقة و دفن كالميت الحاضر,   وإن ... كان الجزء ظفرا أو شعرا لكن لا يصلى على الشعرة الواحدة

قوله :(و لو وجد جزء ميت) اى تحقق انفصاله منه حال موته او فى حياته و مات عقبه فخرج المنفصل من حي و لم يمت عقبه اشا وجد بعد موته فلا يصلى عليه، و يسن مواراته بخرقة ودفنه .انتهى م د. .


"Jika ditemukan bagian organ tubuh dari jenazah orang muslim (selain mati Syahid) maka wajib disholati setelah dimandikan dan dibungkus dengan kain, dan kmudian dikuburkan layaknya jenazah yang ada, meskipun bagian tersebut hanyalah kuku atau rambut, tapi kalo cuma sehelai rambut, maka》Gak perlu disholatin.

Perkataan sang penulis (Imam Khotib asy Syarbini) : [“Bila ditemukan organ dari jenazah orang muslim”] maksudnya adalah dengan syarat bila diketahui pasti organ tubuh tersebut milik mayit saat dia sudah meninggal/saat meninggal nya, atau saat hidupnya kemudian meninggal setelah itu, berbeda dengan bagian tubuh yang terpisah dari orang hidup namun ia tidak meninggal setelah anggotanya terpisah dan baru ditemukan saat dia udah meninggal, maka tidak wajib disholati”

📕Hasyiyah Bujairimi alal Khotib juz 2, halaman 537, Cet. DKI (darul kutub 'ilmiyah)



Jadi, jika ditemukan organ yang terpotong lalu orangnya pun udah meninggal, maka bagian organ yang terpotong dihukumi sebagai mayat tapi organ tersebut gak wajib disholatin kalo si jenazah udah terlanjur dikubur. Kalo jenazah belum dikubur, maka perlu dikumpulkan dan dijadikan satu dengan tubuh si jenazah lalu dimandikan dan disholatkan lalu dikubur.

Jika orangnya masih hidup/sehat, maka organ yang terpotong tersebut cukup dimandikan (dibersihkan), kemudian dibungkus kain lalu dikubur di dalam tanah.



●●●

💠Hukum Jual Beli Kucing

Rincian Lengkap Hukum Jual Beli Kucing Menurut Para Ulama

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


☆Referensi saya :

📕Mausuatul Fiqhiyah al Kuwaitiyah, Depag Negara Kuwait

📕Fatawa An Nawawi
👳‍♂️Imam an Nawawi

📕Roudhotul Tholibin
👳‍♂️Imam an Nawawi

📕Majmu Syarh al Muhadzab
👳‍♂️Imam an Nawawi

📕Asnaa al Matholib
👳‍♂️Syaikhul Islam Zakariya al Anshori


Jual beli kucing kalo dalam islam, hukumya gimana sih? Yuk simak penjelasan dan fatwa para ulama-ulama kita di bawah ini 😁.

فذهب جمهور الفقهاء من الحنفية والمالكية والشافعية والحنابلة إلى أن بيع الهرة جائز لأنها طاهرة ومنتفع بها ووجد فيها جميع شروط البيع، فجاز بيعها

Artinya, "Mayoritas ulama fiqih Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat bahwa praktik jual kucing itu BOLEH, karena kucing itu suci dan dapat diambil manfaatnya. Padanya juga terdapat semua syarat transaksi penjualan sehingga boleh menjualnya,"

📕Mausu'atul Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah


Imam an Nawawi berkata :

يصح بيع الهرة والقرد لأنهما طاهران منتفع بهما جامعان شروط المبيع

"Praktik jual beli kucing dan kera adalah SAH karena keduanya suci dan termasuk barang bermanfaat serta memenuhi syarat produk," 

📕Fatawa An Nawawi

Terus ada Hadits Nabi ﷺ yang isinya, melarang uang hasil penjualan Kucing gimana bang?
Jangan lupa yagesya, baca syarahnya dari Ulama kita.

Imam an Nawawi berkata :

ومنها أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن ثمن الهرة قال القفال: المراد الهرة الوحشية إذ ليس فيها منفعة استئناس ولا غيره.قلت: مذهبنا أنه يصح بيع الهرة الأهلية نص عليه الشافعي رضي الله عنه وغيره

“Dan (sebagian larangan jual beli) adalah : ~sesungguhnya Nabi SAW melarang uang (dari penjualan) kucing~.

Imam al Qoffal berkata: “Yg dimaksud adalah Kucing Liar, karena gak ada kemanfaatan yg ada padanya, baik bersifat sbg penghibur atau utk yg lainnya.”

Aku (Imam Nawawi) berkata: “Menurut madzhab kami (Syafi’iyyah), bahwa menjual kucing rumahan itu BOLEH dan SAH sebagaimana yg telah ditetapkan oleh Imam Asy Syafi’i dan ulama lainnya.”

📕Roudhotuth Tholibin wa Umdatul Muftin



🤔Terus apakah ada perbedaan pendapat Ulama tentang hal ini? Mana pendapat yang mu'tamad dalam madzhab kita? 

Imam An Nawawi menjelaskan :

بيع الهرة الاهلية جائز بلا خلاف عندنا إلا ما حكاه البغوي في كتابه في شرح مختصر المزني عن ابن العاص أنه قال لا يجوز وهذا شاذ باطل مردود والمشهور جوازه وبه قال جماهير العلماء نقله القاضى عياض عن الجمهور وقال ابن المنذر أجمعت الامة على أن اتخاذه جائز ورخص في بيعه ابن عباس وابن سيرين والحكم وحماد ومالك والثوري والشافعي وأحمد واسحق وأبو حنيفة وسائر أصحاب الرأي قال وكرهت طائفة بيعه منهم أبو هريرة ومجاهد وطاووس وجابر بن زيد قال ابن المنذر إن ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم النهى عن بيعه فبيعه باطل وإلا فجائز هذا كلام ابن المنذر واحتج من منعه بحديث أبى الزبير قال سألت جابرا عن ثمن الكلب والسنور فقال زجر النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك) رواه مسلم *

 واحتج أصحابنا بأنه طاهر منتفع به ووجد فيه جميع شروط البيع بالخيار فجاز بيعه كالحمار والبغل والجواب عن الحديث من وجهين (أحدهما) جواب أبى العباس بن العاص وأبي سليمان الخطابى والقفال وغيرهم أن المراد الهرة الوحشية فلا يصح بيعها لعدم الانتفاع بها الا على الوجه الضعيف القائل بجواز أكلها (والثاني) أن المراد نهى تنزيه والمراد النهى على العادة بتسامح الناس فيه ويتعاوزونه في العادة فهذان الجوابان هما المعتمدان


Menjual kucing rumahan boleh dan tidak ada perbedaan pendapat diantara kami (para Ulama Syafi’iyyah) kecuali pendapat yg diriwayatkan oleh Imam al Baghowi dlm kitabnya ‘Syarh Mukhtashor al Muzani dari Ibnu ‘Ash yg menyatakan tidak diperbolehkannya dan ini adalah pendapat yang SYADZ (ganjil), batal dan tertolak. 
Pendapat yg mashur memperbolehkannya dan inilah yg dipakai oleh mayoritas Ulama seperti keterangan yg dinukil oleh Imam Qodhi ‘Iyadh.
Imam Ibnu Mundzir berkata “Para Imam bersepakat bahwa memelihara kucing rumahan itu BOLEH, dan yg MEMBOLEHKAN memperjual-belikan nya adalah Sayidina Abdullah ibnu Abbas, Imam ibnu Siriin, Imam al Hakam, Imam Hammad, Imam malik, Imam Sufyan ats Tsauri, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad Bin Hanbal, ImamIshaq bin Rohuyah, Imam Abu Hanifah dan para ulama lainnya. 
Sebagian ulama cenderung memakruhkan menjual belikannya, diantaranya adalah Sayidina Abu Huroiroh, Imam Mujahid, Imam Thowus, Jabir Bin Zaid.
Selanjutnya Imam Ibnu Mundzir menyatakan “Jika ada pelarangan dari baginda Nabi Muhammad ﷺ maka menjual belikan nya batal, bila tidak, maka boleh”
Sdgkan pendapat yg melarang berdasarkan hadits riwayat Abu Zubair, ia berkata “Aku bertanya pada Jabir tentang uang hasil penjualan anjing dan kucing, ia menjawab : Nabi ﷺ melarangnya”.📘HR. Muslim
Para pengikut Imam Asy Syafi’i berpendapat : “Kucing adalah binatang suci yg bermanfaat dan ditemukan di dlm nya semua syarat jual beli dgn masa khiyar maka boleh menjualnya sebagaimana Keledai dan Bighal (anak kuda). Argumentasi ttg hadits larangan di atas adalah :
1. Diambil dari jawaban yg disampaikan oleh Imam Abu Abbas bin ‘Ash, Imam Abu Sulaiman al Khotthobi, Imam al Qoffal dan lainnya bahwa yg dimaksud dgn kucing dlm hadits di atas adalah Kucing Liar, maka tidak boleh menjual belikannya karena gak ada kemanfaatan di dlm nya kecuali menurut pendapat dhoif (Lemah) yg menyatakan bolehnya memakan dagingnya.
2. Yg dimaksud larangan dlm hadits diatas adalah larangan yg bersifat Tanzih, bukan mengarah pada pengharaman dlm pengertian melarang kebiasaan manusia yg saling toleransi dan mencari kucing (untuk diperjual belikan). Dua pendapat inilah jawaban yg Mu’tamad (kuat dan terpilih) dlm menguraikan hadits di atas.

📕Majmu Syarh al Muhadzdzab


Dan Syaikhul Islam Zakariya al Anshori berkata :

وَيَجُوزُ بَيْعِ الْهِرَّةِ الْأَهْلِيَّةِ وَالنَّهْيُ عن ثَمَنِ الْهِرَّةِ كما في مُسْلِمٍ مُتَأَوَّلٌ أَيْ مَحْمُولٌ على الْوَحْشِيَّةِ إذْ ليس فيها مَنْفَعَةُ اسْتِئْنَاسِ وَلَا غَيْرُهُ أو الْكَرَاهَةُ فيه لِلتَّنْزِيهِ.

“Dan BOLEH melakukan jual beli kucing rumahan (jinak). Dan pelarangan pengambilan uang hasil penjualan kucing dlm hadis Imam Muslim perlu dita’wil bahwa kucing yg dimaksud dlm hadits tersebut adalah kucing LIAR, karena gak ada manfaatnya sbg penghibur atau utk yg lainnya. Dan maksud pencegahan dlm hadis tersebut adalah makruh tanzih.”

📕Asnaa al Matholib


Yang harus selalu diingat, kalo udah beli, wajib dirawat, wajib dijaga kesehatan nya, diperhatikan makan dan minumnya dan kebersihan kandang/tempatnya, bahkan belilah sepasang biar ga kesepian.

●●●


Jumat, 27 September 2024

💠Hukum Jual Beli Saat Masuk Waktu Jumat

Rincian Lengkap dan Penjelasan Hukum Jual Beli Saat Tiba Pelaksanaan Sholat Jumat

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


☆Referensi saya :

📕Al Hawi al Kabir, 
👳‍♂️Imam al Mawardi

📕Tafsir Al Jami' li Ahkamil Qur'an
👳‍♂️Imam al Qurthubi

📕Tafsir Al Qur'anil 'Adzhim
👳‍♂️Imam Ibnu Katsir

📕Al Muhadzdzab
👳‍♂️Imam Asy Syairozi

📕Al Mu'tamad fil Fiqhi asy Syafii
👳‍♂️Syaikh Muhammad Az Zuhaili




 Firman Allah Ta’ala,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ 

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(QS. Al Jumu’ah : 9)

☆Hukum asal dari transaksi jual beli adalah 
diperbolehkan, kecuali kalo ada praktek
tertentu yang dilarang syariat, maka hukum transaksinya menjadi terlarang alias Haram.

Salah satu contoh dari praktek jual beli yang 
terlarang (Haram) adalah ketika transaksinya dilakukan pada saat adzan jumat telah/sedang dikumandangkan.


1. Apakah larangan hanya berlaku pada akad jual beli aja?

Menurut Ulama Syafiiyah, Keharaman ini gak terbatas pada jual beli aja, tapi termasuk di dalam nya semua akad yang bisa memalingkan/mengalihkan seseorang dari mengingat Allah dan mendengar khutbah Jum’at seperti akad nikah, sewa-menyewa dan akad lain.

Imam al Mawardi di dlm kitab 📕Al Hawi al Kabir (16/147 ), beliau menjelaskan :

فكان معنى نهيه عن البيع أنه شاغل عن حضور الجمعة ، فكا نت عقود الماكح والإجارات وسائر الأعمال والصنائع قياسا على البيع ، لأنه شاغل عن حضور الجمعة .

“Maksud dari dilarangnya jual-beli, karena jual-beli itu memalingkan seseorang dari mendatangi shalat Jum’at, makanya seluruh akad pernikahan  dan sewa-menyewa, serta setiap bentuk kegiatan dan kerajinan disamakan dgn jual beli, karena semuanya memalingkan seseorang dari menghadiri shalat Jum’at.“


2. Batas Waktu yg Mulai Diharamkan.

Mayoritas ulama menyatakan bahwa KEHARAMAN
untuk jual beli dimulai pas Muadzin mengumandangkan Adzan dan Khotib sedang/sudah naik ke mimbar. (Kalo di madzhab Syafii itu pas adzan kedua, kalo masih adzan pertama masih boleh yagesyaa, tapi makruh.. 😁)

وفي وقت التحريم قولان ؛الأول : أنه من بعد الزوال إلى الفراغ من الصلاة ، قاله الضحاك ، والحسن والعطاءالثاني : من وقت أذان الخطبة إلى وقت الصلاة ، قاله الشافعي

“Terkait detail waktu keharaman jual beli, ada dua pendapat :

Yang Pertama, dimulai sejak Zawal (matahari tergelincir dari tengah hari) sampai sholat Jumat selesai. Ini adalah pendapat Imam ad Dhohhak, Hasan dan Atho’. 
Yang kedua, dimulai sejak dikumandangkan adzan khutbah (Adzan yg kedua) sampai dengan waktu shalat Jumat. Ini adalah pendapat Imam Syafii.”

منع الله عز وجل منه عند صلاة الجمعة ، وحرمه في وقتها على من كان مخاطبا بفرضها.

Allah melarang jual-beli ketika shalat Jum’at, dan diharamkan untuk melakukan transaksi tersebut pada waktu (shalat Jum’at ) bagi siapa yg terkena kewajiban Jum’at. “

📕Tafsir Imam al Qurthubi : 18/107.


ولهذا اتفق العلماء رضي الله عنهم على تحريم البيع بعد النداء الثاني

"(Firman Allah:  وَذَرُوا الْبَيْعَ  yaitu; bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli jika telah diseru untuk shalat)  

Dan oleh karenanya para ulama telah bersepakat akan haramnya jual beli setelah adzan kedua”.

📕Tafsir Imam Ibnu Katsir: 8/122


2. Status Jual Beli.

Ketika ada yg melakukan transaksi jual beli saat 
adzan jumat sudah/sedang dikumandangkan, maka 
bagaimana hukumnya?

"Jual Beli tetap Sah tapi Berdosa".  Pendapat ini disampaikan oleh ulama dari mazhab Syafi’i dan kalangan ulama madzhab Hanafi yg beralasan bahwa larangan jual beli di sini gak terkait dgn transaksi jual belinya, tapi larangan tersebut mengarah pada akibat dari jual belinya, yaitu gak ndengerin khutbah. 

Larangannya gak ada hubungannya sama
inti akad dan syarat sah akad. Jadi jual belinya tetap sah, tapi pelakunya berdoza yagesya.. 😁
Imam asy Syairozi dlm kitab 📕Al Muhadzdzab, beliau berkata :

ولايبطل البيع لأن النهي لا يختص بالعقد فلم يمنع الصلاة كا لصلاة في الأرض المغصوبة

“Tidak membatalkan akad jual beli (akadnya sah), 
karena sesungguhnya larangan tersebut gak 
dikhususin pada akad, sementara akad tidak 
menghalangi sholat, sehingga seperti (hukum) 
shalat di bumi yg dighoshob (berdosa).”
"Sah" berarti terjadi perpindahan kepemilikan dan tidak bisa dibatalkan lagi.


3. Gimana rincian hukum jual belinya?

Dalam kitab 📕Al Mu’tamad Fil Fiqhi Asy Syafi’i, karya Syaikh Muhammad az Zuhaili, beliau menjelaskan rincian tentang hukum jual beli saat tiba pelaksanaan sholat Jumat, dibagi dlm beberapa kondisi :

البيع وقت صلاة الجمعة:
قال الله تعالى: ( يأيها الذين ءامنوا إذا نودي للصلوة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون﴾ [الجمعة : ٩]. فالبيع في يوم الجمعة له تفصيل :
١ ـ إذا كان البيع قبل الزوال جاز، ولم يكره للجميع كسائر الأوقات .
٢ ـ وكذلك لا يكره البيع بعد انتهاء صلاة الجمعة، لقوله تعالى: ﴿ فإذا قضيت الصلوة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لتلك تفلحون﴾ [الجمعة : 10] .
٣ ـ إذا تبايع رجلان ليسا من أهل فرض الجمعة لم يحرم البيع ولم يكره طوال اليوم، وحتى أثناء صلاة الجمعة .
٤ ـ إذا كان المتبايعان من أهل فرضها، أو أحدهما من أهل فرضها، وكان البيع بعد الزوال وقبل ظهور الإمام، أو قبل جلوسه على المنبر، وقبل شروع المؤذن في الأذان بين يدي الخطيب ، كره البيع كراهة تنزيه .
ه ـ إذا كان البيع بعد جلوس الإمام على المنبر وشروع المؤذن في الأذان حرم البيع على المتبايعين جميعاً، وأثما، للآية الكريمة
 . وكذلك يحرم البيع إذا كان أحد المتبايعين من أهل فرض الجمعة، والآخر ليس من أهل فرض الجمعة، ويأثمان جميعاً، لأن الأول توجه عليه الفرض، فاشتغل عنه ، والآخر شغله عن الفرض، ويحصل الإثم بمجرد شروع المؤذن في الأذان لظاهر الآية الكريمة .
 ٦ ـ إذا أذن المؤذن قبل جلوس الإمام على المنبر كره البيع ولم يحرم.
٧ ـ إذا سمع من وجبت عليه الجمعة النداء، فقام في الحال قاصداً الجمعة ، فتبايع في طريقه، وهو يمشي، ولم يقف، أو قعد في الجامع فباع، فلا يحرم، ولكنه يكره ، لأن المقصود في الآية أن لا يتأخر عن السعي إلى الجمعة . وخص البيع لأنه ورد في القرآن الكريم، ويقاس عليه غيره من كل ما يشغل عن السعي لصلاة الجمعة ، كسائر العقود والصنائع والأعمال


1. Jika jual belinya dilakukan sebelum Zawal (matahari geser dikit setelah tengah hari), 》Maka hal itu diperbolehkan, dan tidak makruh utk semua orang, sebagaimana pada waktu-waktu lainnya.

 2. Demikian juga setelah selesai sholat Jumat, 》Maka tidak makruh, sesuai dgn firman Allah taala : 
""Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung“".
(QS: Al Jumu'ah - 10).

3 - Jika ada dua laki-laki yg gak termasuk orang yg wajib melaksanakan Sholjum, 》Maka transaksinya tidak diharamkan dan tidak dimakruhkan sepanjang hari itu, bahkan pada saat sholat Jumat sekalipun.

 4. Jika kedua belah pihak yg berjualan termasuk yg wajib Sholjum, atau salah satu di dari mereka termasuk yg wajib, dan transaksinya dilakukan setelah Zawal dan sebelum Imam hadir atau sebelum Imam duduk di mimbar, dan sebelum Muadzin mulai mengumandangkan adzan (kedua) di hadapan Khotib, 》Maka jual beli/transaksi tersebut hukumnya Makruh.  Makruh tanzih.

 5. Jika jual beli dilakukan setelah Imam duduk di mimbar dan Muadzin mengumandangkan Adzan kedua, 》Maka jual beli tersebut diharamkan bagi semua pihak  yg bertransaksi, dan termasuk berdosa berdasarkan ayat Karimah (QS: Al Jumu'ah - 9). 

Dan begitu pula Haram melakukan transaksi apabila salah satu pihak adalah orang yg wajib sholat jum’at dan pihak yg kedua tidak diwajibkan melaksanakan sholat jum’at. 
Keduanya tetap berdosa, karena pihak yg pertama mempunyai kewajiban untuk shalat jum’at tapi dia melalaikannya sebab melakukan jual beli. 
Dan pihak kedua pun berdosa karna terlibat dlm hal melalaikan kewajiban sholat Jum’at pihak yg pertama. Dosa tersebut terjadi ketika adzan kedua dikumandangkan berdasarkan apa yg tersirat dari ayat Karimah (QS: Al Jumu’ah - 9).

 6. Jika Muadzin mengumandangkan adzan (pertama) sebelum Imam duduk di mimbar, 》Maka transaksi jual beli tersebut Makruh dan tidak Haram.

7. Jika orang yg dikenai kewajiban sholat Jum'at itu mendengar adzan, lalu segera berdiri, berniat menunaikan sholat Jumat, dan melakukan transaksi jual-beli dlm perjalanannya sambil terus berjalan dan gak berhenti, atau ngga duduk di perkumpulan transaksinya, 》 Maka hukumnya Tidak Haram, tapi Makruh,

Karena yang dimaksud dlm ayat tersebut adalah tidak boleh menunda/mengakhirkan dlm menunaikan sholat Jumat dan tidak boleh mengutamakan jual beli, sebab telah disebutkan dlm Al Qur’an, dan sprti yg selainnya, termasuk segala sesuatu yg mengalihkan perhatian seseorang dari sholat Jumat, seperti semua akad, jual beli, dan pekerjaan lainnya (tanpa udzur).

📕Al Mu’tamad Fil Fiqhi Asy Syafi’i juz 1 hlm 500 cet. Darul Qolam.


●●●

👋 Panduan Membaca

💠Penjelasan Tema Artikel

                  Tema  & Isi Pembahasannya   • Aqidah & Filsafat Memuat tulisan-tulisan pembahasan tentang ilmu kalam, teologi, pe...