Sabtu, 31 Januari 2026

💠Sunnah Berdoa Dan Mendirikan Sholat Sunnah Ketika Terjadi Bencana Alam

Disunnahkan Berdoa dan Mendirikan Sholat Sunnah Saat Terjadi Bencana

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

~

Disunnahkan Berdoa Lalu Mendirikan Shalat Sunnah Ketika Terjadi Bencana Alam, Tapi Tidak Perlu Berjamaah.

Imam Abul Abbas Syihabuddin Al-Qostholani dalam kitabnya, beliau menjelaskan tentang kesunnahan berdoa dan mendirikan shalat sunnah ketika atau setelah terjadi bencana alam jika memungkinkan. Untuk mencegah kekhawatiran dan ketakutan berlebih sebagai upaya berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, ya tidak perlu memaksakan diri, sebab ini syariat kesunnahan, bukan kewajiban.

Imam Al-Qostholani juga menjelaskan bahwa sebaiknya berdoa dan shalat tersebut dilakukan di rumah secara sendirian, tidak dilakukan berjamaah. Karena, ketika sedang sendirian, seseorang akan lebih khusyuk dan fokus dalam berdoa memohon perlindungan.

Berikut teks arabnya :
 
ويستحب لكل أحد أن يتضرع بالدعاء ونحوه عند الزلازل ونحوها كالصواعق والريح الشديدة و الخسف وأن يصلي منفردا لئلا يكون غافلا لأن عمر رضي الله عنه حث على الصلاة في زلزلة ولا يستحب فيها الجماعة
 
Artinya, "Disunnahkan bagi setiap orang untuk berdoa dan sebagainya ketika terjadi gempa bumi, petir, angin kencang, dan tanah longsor. Dan hendaknya ia mendirikan shalat (sunnah) secara sendiri agar tidak menjadi (hamba yang) lalai. Hal ini karena Sayidina Umar bin Khattab RA telah menganjurkan untuk shalat (sunnah) ketika terjadi gempa bumi, dan tidak dianjurkan untuk berjama'ah dalam shalat tersebut." 

📕Irsyadus Sariy, Syarh Shahih Bukhari, jilid 3 halaman 63. Cet. Darul Kutub Ilmiyah.

~

Lafadz doa yang bisa dibaca setelah shalat sunnah atau ketika terjadi bencana alam :

  اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ

Allahumma innii as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa, wa khoiro maa arsaltabihi wa a'uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarrimaa arsaltabihi

🤲“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang di dalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan atas apa yang terjadi didalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan.”

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#bencanalam #gempabumi #shalatsunnah #doa

💠Pertanyaan Seputar Sholat Gerhana

Beberapa Pertanyaan Seputar Sholat Gerhana 

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

~

~Selesai Menunaikan Sholat Kusuf, Gerhana Masih Berlangsung, Bolehkah Melakukannya Lagi? 
~Baru Dapat 1 Rakaat, Gerhana Selesai. Apakah Sholat Jadi Batal? 
~Bolehkah Meringkas Sholat Kusuf?

☆ 

🤷‍♂️Selesai melaksanakan sholat kusuf, tapi gerhana masih berlangsung, boleh nambah lagi atau tidak? 

✅Jawab :
Tidak dianjurkan dan tidak perlu menambah atau melakukannya lagi. 

🤷‍♂️Ketika sedang sholat kusuf, dan baru mendapat 1 rakaat atau masih dalam posisi sholat, tiba-tiba gerhana selesai dan bulatan Bulan/Matahari kembali utuh. Apakah sholat kita menjadi batal? 

✅Jawab : 
Tidak batal. Dan tetap harus menyelesaikan proses sholat sampai salam. Selesainya proses gerhana tidak dapat membatalkan shalat.

🤷‍♂️Sholat Kusuf itu 2X ruku' dan 2X berdiri untuk 1 rakaat. Demi menyesuaikan dengan durasi gerhana yang hanya sebentar saja, bolehkah kita mencukupkan diri dengan 1 ruku' dan 1 berdiri per 1 rakaat? 

✅Jawab : 
Kalau ikut pendapat ulama yang boleh menambah ruku' ke-3, ke-4, dst. , maka Boleh juga menguranginya menjadi 1 ruku saja tiap rakaatnya.

Jika ikut pendapat ulama yang hanya menetapkan 2 ruku' dan 2 berdiri per 1 rakaat, maka ruku' tidak boleh dikurangi. Jadi tetap laksanakan 2 ruku' dan 2 kali berdiri per 1 rakaat.

=

🔰Telah dijelaskan secara rinci oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, beliau menjelaskan sebagai berikut : 

ولو كان في القيام الأول فانجلى الكسوف لم تبطل صلاته وله أن يتمها على هيئتها المشروعة بلا خلاف، 

"Apabila proses gerhana sudah usai saat shalat baru dapat satu rakaat, shalat tetap tidak batal, maka harus meneruskan shalat dengan tatacaranya seperti yang disyariatkan hingga selesai. Tidak ada ikhtilaf ulama dalam hal ini."

وهل له أن يقتصر على ركوع واحد وقيام واحد في كل ركعة؟ فيه وجهان؛ بناء على الوجهين في جواز الزيادة للتمادي : إن جوزناها جاز النقصان بحسب مدة الكسوف، وإلا فلا. 

"Dan apakah boleh membatasi diri hanya satu kali ruku' dan satu kali berdiri untuk setiap rakaat? 

Ada dua pendapat tentang hal ini, berdasarkan dua pendapat tentang kebolehan menambah ruku' untuk melanjutkan shalat : Jika ikut pendapat yang diperbolehkan, maka boleh pula dikurangi sesuai durasi gerhana, jika ikut pendapat yang tidak, maka tidak boleh dikurangi. (Maksudnya : Tetap laksanakan 2 rukuk 2 berdiri per 1 rakaat)."

ولو سلم من صلاة الكسوف - والكسوف باق - فهل له استفتاح صلاة الكسوف مرة أخرى؟ فيه وجهان خرجهما الأصحاب على جواز زيادة الركوع، والصحيح المنع من الزيادة والنقص ومن استفتاح الصلاة ثانيا، والله أعلم 

"Apabila shalat kusuf telah ditunaikan, namun proses gerhana masih berlangsung, bolehkah melakukan shalat kusuf lagi? 

Ada dua riwayat pendapat dalam hal ini, oleh ashab kami didasarkan pada masalah bolehnya menambah bilangan rukuk. Menurut pendapat yang shahih, TIDAK BOLEH menambah ataupun mengurangi, atau melakukan shalat kusuf lagi. Wallahu a'lam".

• 

📕Majmu' Syarah al Muhadzab, jilid 6 halaman 85, Cet. Darul Kutub Ilmiyah.

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny 

#shalatgerhana #fiqih #shalatkusuf #shalatkhusuf #shalatsunnah

💠Jaga Perasaan Istri Dengan Tidak Bercanda Poligami

Jaga Perasaan Istri Dengan Tidak Bercanda Poligami

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

~

Wahai para suami, jagalah perasaan istri, jangan suka bercanda poligami atau menyebut kebaikan wanita lain di hadapannya.

Penulis kitab berkata : "الزواج بأخرى .. جده جد وهزله جد"  yang berarti, jika kamu berbicara kepada Istrimu tentang rencana "Menikah lagi (dengan wanita lain)...", maka oleh istrimu benar-benar akan ditanggapi dengan serius, dan andai kamu hanya berniat bercanda pun tetap akan dianggap serius 😄, berhati-hatilah kalian wahai suami.

Syaikh Dr. Abdul Qodir al-Banuri menulis di dalam kitabnya 📕"اتحاف الأحبة بالتعليق على أحاديث العشرة الطيبة مع المرأة" halaman 202-203, Cetakan Darul Kutub Ilmiyah.

Kitab "Ithaf al-Ahibbah bi Ta'liq 'Ala Ahadits al-'Asyrah at-Thayyibah ma'al Mar`ah" jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya "Hadiah untuk Kekasih: Ulasan Hadits-Hadits tentang Berhubungan Baik Dengan Wanita". 

Di dalam pembahasan ini, beliau menekankan pentingnya kepekaan suami terhadap perasaan istri, terutama dalam hal menyebut atau memuji wanita ajnabi lain di hadapannya, bahkan jika wanita tersebut sudah meninggal sekalipun. 

Suami juga dianjurkan untuk berhati-hati dan tidak bercanda atau menyinggung topik poligami di depan istrinya, karena istri itu sensitif dan akan menganggap hal tersebut adalah serius sehingga dapat menimbulkan masalah dalam rumah tangga.  

Seorang suami yang baik harus menjaga perasaan pasangannya, menghindari ucapan atau tindakan yang menyakiti hati istri, terutama yang berkaitan dengan wanita ajnabi lain. 

Syekh Al-Banuri juga mengutip hadis riwayat Imam Ahmad, di mana Sayidah 'Aisyah kesal dan cemburu ketika Rasulullah sering menyebut Sayidah Khadijah. Rasulullah memuji Khadijah sebagai satu-satunya wanita yang beriman kepada beliau di saat orang lain berada dalam kekufuran, membenarkan beliau di saat orang lain mendustakan, dan membantu beliau dengan harta yang dimilikinya. 

Syekh Al-Banuri menggambarkan Istri sebagai makhluk yang sangat peka dan cerdas dalam mengamati perilaku suaminya, sehingga dapat mengartikan setiap gerakan, pandangan, atau situasi tertentu dari suaminya sebagai pertanda bahwa suaminya tersebut sudah tidak sayang lagi dengannya. Terutama jika ada wanita lain di sekitarnya atau di wanita di media sosial yang sedang diperhatikan oleh sang suami. 

Maka wajar sekali jika ini yang membuat sebagian kaum istri masih sering menanyakan ke suaminya, apakah ia masih menyayanginya atau tidak 🤭.

=== 

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny 

#suamiistri #poligami #rumahtangga #jagaperasaan
#cemburu #sensitif #istri #wanita #menikah 

Teks Arab :

الزواج بأخرى .. جده جد وهزله جد
أيها الزوج الوفي: من نبل المعاملة، الحرص على مشاعر من تعاشره، فلا تحرجه أو تؤذيه أو تصرف لا يليق أو يخدش الأحاسيس، ومن أهم هذه الأمور بالنسبة لأي امرأة، وخاصة الزوجة، ذكر محاسن امرأة أخرى، حتى ولو كانت أم الزوج أو كانت التي تمدح ميتة، فقالت عائشة رضي الله عنها : « كان رسول الله
إذا ذكر خديجة أثنى فأحسن الثناء ، قالت : فغرت يوماً فقلت: ما أكثر ما تذكر حمراء الشدقين قد أبدلك الله خيراً منها . قال ما أبدلني الله خيراً منها، قد آمنت بي إذ كفر الناس، وصدقتني إذ كذبني الناس، وواستني بمالها إذ حرمني الناس، ورزقني الله أولادها وحرمني أولاد الناس (115) رواه أحمد وإسناده حسن. ومعنى حمراء الشدقين أي عجوز.

* أيها الزوج العاقل : إياك ثم إياك، بل أرجوك لا تذكر أمام زوجتك موضوع الزواج بأخرى ولو كنت مازحاً ، فهذه المسألة أصبحت عقدة عند نساء هذا العصر، فزوجتك لا تنسى أبداً أنك ترغب في الزواج من غيرها، ومزاحك في هذا الموضوع جده جدّ وهزله جد عندها، وسوف تفسر كل موقف وحركة ونظرة على أنك لم تعد تكتفي بها ، وأنك سوف تتزوج لا محالة. وإذا ذكر أمامك أحد

أنه تزوج بأخرى فلا تظهر موافقتك أو تأييدك له. وإذا سألتك زوجتك عمن سوف تتزوجها إن ماتت هي ، وغالباً كل زوجة تحرص على هذا السؤال، فلا تخبرها أنك ستفعل بذلك، والحذر كل الحذر أن تسمّي لها امرأة في هذا الشأن. كما أنصحك ألا تتحدث أمام زوجتك عن موضوعات أو مشاكل الزميلات لك في العمل حتى لو كانت هي السائلة عن ذلك، فسؤالها لك عن ذلك له معنى خاص عندها لتتوصل لقصدها.

واعلم أن زوجتك تكون شديدة الملاحظة لك وبذكاء فطري عند وجود امرأة أخرى معك أو حتى أثناء السير معها في الطريق، بل عند مشاهدة الصور في المجلات أو مشاهدة التليفزيون.

===

💠Bangunan Runtuh Menimbulkan Kerugian, Apakah Pemilik Wajib Ganti Rugi?

Kecelakaan Bangunan Runtuh, Apakah Pemilik Wajib Ganti Rugi?

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

~

Kecelakaan bangunan runtuh memakan korban jiwa dan harta benda, apakah pemiliknya wajib membayar ganti rugi?

Syaikh Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitab Fiqhul Islamiy wa Adillatuh telah menjelaskan rincian hukumnya secara mendetail dalam Jilid 6, Bab Jinayat, Pasal 4, Pembahasan Ke-2, tentang "Kecelakaan Bangunan atau Tembok Runtuh".

⛔Jika ada kejadian musibah bangunan runtuh atau tembok ambruk, lalu menyebabkan kerugian harta, tubuh, dan jiwa. Maka ada hal-hal yang perlu diperhatikan tentang konsekuensi bagi mutasabbib.

▪︎ Mutasabbib adalah pelaku tidak langsung, dalam hal ini adalah pimpinan, pemilik, pengurus, serta segenap penanggung jawab suatu proyek atau fasilitas.

▪︎ Sedangkan Mubasyir adalah pelaku secara langsung yang menyebabkan terjadinya kecelakaan (accident). Contohnya; Pekerja lapangan, teknisi, tukang, kuli.

Telah kami (Penulis) pelajari dari penjelasan Syaikh Wahbah dan kami simpulkan sebagai berikut :

=

🏘 Bangunan yang runtuh dan menimbulkan kerugian harta, tubuh dan jiwa. Disebabkan oleh 2 hal :

1️⃣. Terdapat defect (cacat) sejak awal atau kesalahan prosedur ketika sedang proses pengerjaannya, atau tidak mengikuti peraturan yang berlaku, atau kelalaian dalam perawatan serta pemeliharaan.

2️⃣. Karena ada defect (cacat) baru di kemudian hari atau disebabkan hal-hal lainnya di luar otoritas pemilik.

▪︎ Jika setelah diselidiki/investigasi, ternyata yang nomer 1, menurut kesepakatan Fuqaha, maka :

Sang pemilik (Mutasabbib) wajib bertanggungjawab membayar Diyat (Uang tebusan nyawa/tubuh) jika ada korban jiwa dan cacat/luka, serta Ta'widh (ganti rugi harta) jika ada kerugian materiil.

=

▪︎ Namun jika setelah diselidiki/investigasi, ternyata yang nomer 2, maka ada dua pendapat Fuqaha :

A. Dalam madzhab Syafi'i dan Hanbali :

~ Pemilik tidak wajib bertanggungjawab bayar Diyat ataupun Ta'widh, apapun keadaannya.

B. Dalam madzhab Hanafi dan Maliki, ada 2 perincian :

~ Jika sang pemilik sudah mendapat peringatan, perintah atau himbauan untuk melakukan perbaikan/pembongkaran lebih awal, namun malah tidak segera dilakukan, maka jika terjadi kecelakaan, sang Pemilik wajib bayar denda Diyat dan Ta'widh.

~ Jika sang pemilik tidak atau belum mendapat peringatan, perintah, atau himbauan untuk melakukan pembongkaran/perbaikan lebih awal, maka jika terjadi kecelakaan, sang Pemilik tidak wajib bayar denda.

Dan jika pemilik sudah menerima peringatan dan akan melakukan proses perbaikan, namun gedung malah ambruk sesaat sebelum dilaksanakan, maka pemilik juga tidak wajib bayar denda jika terdapat kerugian, sebab ia sudah berupaya melakukan pencegahan.



📕Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu, jilid 6 halaman 379-382, Cetakan Darul Fikr.

===

🧑‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#fiqihjinayat #bangunanruntuh #bangunanambruk #diyat #dhoman #gantirugi #kecelakaan #k3 #accident #fiqhulislamiywaadillatuh #wahbahzuhaili



Teks Arab :

المبحث الثاني ـ جناية الحائط المائل ونحوه مما يحدثه الرجل في]
[الطريق ـ سقوط البناء أو الجدار

يجب في الجملة في حالة سقوط البناء الضمان على المتسبب في إحداث الضرر، إما لأنه يمكن الاحتراز عنه، أو بسبب تقصيره وإهماله. وإذا حدث موت، فالدية تجب على عاقلة مالك البناء، لأنه متسبب. لكن لا تجب عليه الكفارة ولا يحرم من الميراث والوصية عند الحنفية، كما هو المقرر عندهم في حالة القتل بالتسبب، وعلى هذا إذا كانت الجناية على نفس فالواجب هو الدية، وإذا كانت على ما دون النفس فالواجب بها الأرش على العاقلة إن بلغ عند الحنفية نصف عشر دية الرجل وعشر دية الأنثى. وإن كانت الجناية على المال فيجب التعويض في مال المتسبب.

[المطلب الأول ـ سقوط البناء أو الجدار بسبب خلل أصلي فيه]

لا خلاف بين الفقهاء في وجوب ضمان الضرر الحادث بسبب سقوط البناء أو الجدار الذي بناه صاحبه مائلا إلى الطريق العام أو إلى ملك غيره؛ لأنه متعد بفعله، فإنه ليس لأحد الانتفاع بالبناء في هواء ملك غيره، أو هواء مشترك، ولأنه ببنائه المشتمل على الخلل يعرضه للوقوع على غيره في غير ملكه (٢).
ومثله: ما تولد من جناح (٣) إلى شارع، سواء أكان يضر أم لا، أذن فيه الإمام أم لا، أو ما يتلف بالميازيب المخرجة إلى الشارع أو بما سال من مائها؛ لأنه ارتفاق بالشارع، والارتفاق بالشارع مشروط بسلامة العاقبة، فكل ما يحدث يكون صاحبه ضامنا.
ومثله أيضا: لو طرح ترابا بالطريق ليطين به سطحه، أو وضع حجرا أو خشبة أو متاعا فزلق به إنسان، ضمنه. وكذلك لو طرح قمامات (كناسة) وقشور بطيخ في طريق، أو صب ماء في الطريق، فتلف بفعله شيء، أو قعد في الطريق للاستراحة أو لمرض فعثر به عابر، فوقع فمات أو وقع على غيره فقتله، يكون مضمونا؛ لأن الانتفاع بالطريق مشروط بسلامة العاقبة؛ ولأن فيه ضررا على المسلمين.

ومن حفر بئرا عدوانا كحفرها في ملك غيره بغير إذنه، أو في شارع ضيق أو واسع لمصلحة نفسه بغير إذن الإمام: ضمن ما تلف فيها من آدمي أو غيره (١). والمراد بالضمان: الدية ـ دية شبه عمد في القتل، والتعويض المالي في الإتلافات المالية. وكل ما ذكر ضمان بالتسبب، والقاعدة تقول: «يضاف الفعل إلى المتسبب ما لم يتخلل واسطة».
ودليل الضمان في تلك الحالات وأمثالها هو قوله عليه الصلاة والسلام: «لا ضرر ولا ضرار في الإسلام

[المطلب الثاني ـ سقوط البناء أو الجدار بسبب خلل طارئ عليه]

إذا بنى الشخص بناءه أو حائطه مستويا أو مستقيما، ثم مال إلى الطريق أوإلى دار إنسان، أو تشقق بالعرض لا بالطول، فسقط على شيء فأتلفه، ففي ضمان الشيء المتلف رأيان للفقهاء:
١ - مذهب الشافعية والراجح عند الحنابلة (٣): لا ضمان به في هذه الحالة؛ لأن صاحبه تصرف في ملكه، والميل لم يحصل بفعله، فأشبه ما إذا سقط بلا ميل، سواء أمكنه هدمه وإصلاحه أم لا، وسواء طولب بالنقض أم لا.
٢ - مذهب الحنفية والمالكية (٤): في الأمر تفصيل:

===

أAـ إن لم يطالب بنقضه، حتى سقط على إنسان، فقتله، أو على مال فأتلفه، فلا ضمان؛ لأنه بناه في ملكه، والميل حادث بغير فعله، فأشبه ما لو وقع قبل ميله، كثوب ألقته الريح في يده، فما تولد منه، لا يؤاخذ به.

بB ـ وأما إن طولب بنقضه، فلم يفعل، ثم سقط بعدئذ يمكنه فيها نقضه، فهو ضامن ما تلف به من نفس أو مال؛ لأنه حينئذ يصبح متعديا، كما لو امتنع عن تسليم (أو رد) ثوب ألقت به الريح في دار إنسان، وطولب به، فهلك، يضمن. ولأن للناس حق المرور دون ضرر، وليس لأحد منعهم منه.
أما إذا لم يفرط في نقضه، وذهب حتى يستأجر عاملا يهدمه، فسقط، فأفسد شيئا، فلا شيء عليه؛ لأن الواجب عليه فقط إزالة الضرر بقدر الإمكان.
والمطالبة بالنقض أو الإصلاح هو المعروف بشرط التقدم، والتقدم: هو التنبيه والتوصية أولا بدفع وإزالة مضرة مظنونة

فقه الإسلامي وأدلته📕

===

👋 Panduan Membaca

💠Penjelasan Tema Artikel

                  Tema  & Isi Pembahasannya   • Aqidah & Filsafat Memuat tulisan-tulisan pembahasan tentang ilmu kalam, teologi, pe...