Para Tokoh Jarh wa-Ta'dil Hadits Era Tabiut Tabi'in Awal - Semakin Ketat || Syaikh Dr. Nuruddin 'itr
Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny
☆
Sejak akhir era Tabi'in, rantai silsilah atau sanad hadis mulai memanjang dan bercabang. Dan sebagian org di zaman itu makin sedikit yg punya hafalan dan ketelitian yg kuat yg sebelumnya jadi ciri khas generasi Sahabat & Tabi'in senior.
- Di masa ini, mulailah bermunculan perawi lemah, suka mencampur riwayat, sering keliru, dan pelupa.
- Ditambah lagi, munculnya berbagai sekte sesat & kelompok zindiq yg berani memalsukan hadis.
Para ulama hadis akhirnya makin ketat dlm memeriksa para perawi dan menyaring yg tidak sohih. Di setiap negeri Islam pasti ada ulama yg menguji para perawi, meneliti gerak-gerik serta keseharian mereka, lalu mengumumkan ke umat, apakah si fulan layak diterima hadisnya (ta'dil) atau harus dikritisi (jarh). Hal ini dilakukan agar umat Islam tidak tertipu kepalsuan.
๐น️KETELITIAN TINGKAT TINGGI PARA ULAMA HADIS
- Para ulama hadis sangat teliti dlm riset dan investigasi. Mereka bahkan nolak meriwayatkan hadis dari perawi kecuali jika ia telah terbukti kredibilitasnya.
- Mereka mencatat nama-nama, memberikan penilaian, menghitung kecenderungan mazhab mereka, dan memeriksa apakah pemikirannya akan mempengaruhi riwayat yg mereka bawa atau tidak.
Sehingga kitab-kitab hadis mereka gak akan nerima riwayat dari seorang perawi kecuali jika rekam jejak & kualitas perawi tersebut telah diuji secara ketat dlm kitab-kitab Rijalul Hadits (biografi perawi).
✅Imam Adz-Dzahabi mengatakan :
"Setelah berakhirnya era Tabi'in secara umum (sekitar tahun 150-an Hijriah), sekelompok ulama besar mulai angkat bicara mengenai kredibilitas para perawi".
✅Sbg contoh, Imam Abu Hanifah pernah berkata :
"Aku tidak pernah melihat orang yang lebih pendusta daripada Jabin al-Ju'fi, dan tidak ada yang lebih utama daripada Al-A'masy."
Di masa itu, para ulama mulai banyak melemahkan sebagian perawi dan menilai tsiqoh sebagian yg lain.
๐น️PARA TOKOH JARH wa-TA'DIL ERA TABIUT TABIIN
- Beberapa ulama generasi awal yg jadi rujukan utama dlm ilmu kritik hadis ini, di antaranya :
1. Syu'bah bin Al-Hajjaj (82-160 H).
Dijuluki sbg Amirul Mukminin dlm bidang hadis. Beliau adalah org pertama di Irak yg mencurahkan waktu khusus untuk memeriksa perawi dan sangat ketat dlm melakukan investigasi. Langkah tegasnya terhadap para pemalsu hadis berhasil membersihkan lingkungan ilmu hadis dari para pendusta.
2. Sufyan ats-Tsauri (97-161 H)
Seorang ulama yg terkenal dgn sifat waro' dan kezuhudannya. Penilaiannya dlm ilmu Jarh wa-Ta'dil menjadi rujukan penting bagi setiap org.
3. Malik bin Anas (93-179 H)
Imamnya kota Madinah yg sangat ketat dlm menyeleksi perawi. Salah satu prinsip terkenalnya dlm menerima ilmu adalah menolak 4 golongan :
- Orang yg bodoh secara terang-terangan,
- Ahlul bid'ah yg mengajak org lain supaya mengikuti pemikirannya,
- Pendusta dlm percakapan sehari-hari walaupun dia nggak pernah memalsukan hadis,
- Seorang yg sholih tapi nggak paham dgn apa yg dia riwayatkan.
4. Abdullah bin Al-Mubarak (118-181 H)
Seorang ulama besar, hafizh, ahli fikih, sekaligus imam terpandang dlm ilmu hadis.
5. Yahya bin Said al-Qatthan (120-198 H)
Salah satu master dlm ilmu kecacatan hadis ('ilal) dan kritik perawi . Beliau adalah penerus dari Syu'bah bin Hajjaj dan diakui punya ketelitian yg luar biasa.
6. Abdurrahman bin Mahdi (135-198 H)
Seorang imam hadis yg dikenal memiliki sikap moderat dlm memberikan penilaian Jarh wa-Ta'dil.
=
— REFERENSI :
๐Ushul Jarh wa-Ta'dil wa 'ilm ar-Rijal karya Syaikh Dr. Nuruddin 'itr, halaman 25-26, Cet. Darul Yamamah Damaskus.
===
๐จ๐ญ Adam Mostafa EL Prembuny
#jarhwatadil #kritikhadis #hadits #ahlihadits #muhadits #ilmuhadits #nuruddinitr
—
Foto halaman kitab :










