Tampilkan postingan dengan label Khazanah & Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah & Sains. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 November 2024

💠Praktik Ibadah Nabi Sebelum Diangkat Rasul

 Syaikh Abdul Karim Zaidan ~ Bagaimana praktek syariat ibadah Nabi ﷺ sebelum diangkat jadi Rasul?


■Dalam menanggapi masalah ini, terdapat 3 golongan ulama. 


~


A).  Ulama Hanafiyah, Hanabilah, Imam Ibnu Hajib al Maliki dan Imam al Baidhowi asy Syafii mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sebelum menjadi Rasul masih terikat dengan syariat sebelumnya. Alasan mereka adalah :


1. Setiap rasul Allah diseru untuk mengikuti syariat Rasul-rasul sebelumnya. Nabi Muhammad juga termasuk ke dalam seruan ini. 


2. Banyak sekali riwayat yang menunjukkan bahwa Muhammad SAW sebelum menjadi Rasul telah melakukan perbuatan/amalan tertentu yang sumbernya bukan akal semata, seperti ia melaksanakan shalat, haji, umrah, mengagungkan Ka'bah dan Thowaf di sekelilingnya dan menyembelih binatang. 


~


B).  Jumhur ulama mutakallimin dan sebagian ulama madzhab Malikiyah. Mereka mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sebelum diangkat menjadi Rasul itu tidak terikat dengan syar'at apapun sebelum Islam. Alasan mereka adalah apabila beliau sebelum diangkat menjadi Rasul masih terikat dengan syariat sebelum Islam, maka akan ada dalil yang menunjukkan hal itu. Dari penelusuran terhadap kehidupan Nabi Muhammad ﷺ menurut mereka, tidak ditemukan dalil yang menegaskan bahwa beliau terikat dengan syari'at lain sebelum Syariat Islam. 


~


C).  Imam al Ghozali dan Imam Saifuddin al Amidi, mereka memilih tawaqquf, yakni tidak berkomentar terhadap masalah ini karena tidak adanya dalil yang pasti dalam masalah ini. Menurut mereka, apabila ada alasan dari nash (Quran & Hadits) yang menunjukan bahwa Nabi Muhammad ﷺ terikat dengan hukum tertentu, maka akan mereka terima. Apabila tidak ada dalil yang menerankannya, maka mereka tidak mengambil sikap. 


~


■Kelompok yang menetapkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengikuti syariat sebelumnya juga berbeda pendapat tentang syariat Nabi mana yang diikuti oleh beliau. 


▪︎Sebagian ulama berpendapat syariatnya Adam AS, karena dialah syariat yang pertama kali.

▪︎Pendapat lainnya adalah syariat Nabi Nuh AS, sesuai dengan QS Asy Syu'aro : 13.

▪︎Ada juga ulama yang berpendapat syariat Nabi Ibrohim AS, sesuai dengan QS Ali Imron : 68 dan An Nahl : 123. 

▪︎Ada juga yang berpendapat syariat Nabi Musa AS, dan Nabi 'Isa karena yang paling dekat masanya dengan Nabi ﷺ dan sebagai penghapus syariat sebelumnya. 


■Telah berkata Imam Asy Syaukani, dengan berlandaskan ayat Al-Qur'an dan amaliyah Nabi Muhammad ﷺ, pendapat yang bisa diterima adalah pendapat yang mengatakan bahwa sebelum pengangkatan Rasul, beliau mengikuti syariatnya Nabi Ibrohim AS, karena Nabi Muhammad ﷺ banyak melaksanakan praktek syariat ibadah Nabi Ibrohim AS sebagaimana ayat Al Quran di atas bahwa beliau mengikuti Millah Ibrohim. 


Berarti dapat difahami kekhususan Syariat Nabi Ibrohim pada Nabi Muhammad ﷺ. Maka ibadah beliau sebelum diangkat jadi Rasul adalah mengikuti syariat Nabi Ibrohim AS.


~


📕Ushul Fiqh al Islamiy

• Syaikh Abdul Karim Zaidan

• Jilid 2 halaman 839

• Cetakan Darul Fikr


==========================


👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

💠Para Sahabat Nabi Yang Ahli Fiqih

Para Sahabat Nabi ﷺ Adalah Ahli Fiqih - Syaikh Said Musthofa al Khin 


☆ 


Syaikh Musthofa Said al Khin menukil penjelasan Imam Ibnu Hazm dari kitab Al-Ihkam bahwa, 


"Di antara para sahabat Rosululloh ﷺ yang terkenal pandai di bidang fiqih dan fatwa adalah 


Ummul Mukminin Sayidah 'Aisyah,

Sayidina 'Umar bin Khoththob,

Sayidina Abdulloh bin Umar,

Sayidina Ali bin Abi Tholib,

Sayidina Abdulloh bin Abbas,

Sayidina Abdulloh bin Mas'ud,

Sayidina Zaid bin Tsabit,

Sayidina Anas bin Malik,

Sayidina Abu Bakar Ash Shiddiq,

Sayidina Mu'adz bin Jabal,

Sayidina Jabir bin Abdulloh,

Sayidina Abu Huroiroh, 

Dan masih banyak lagi yang lainnya.""


Syaikh Musthofa al Khin menukil penjelasan Imam Abu Ishaq Asy Syairozi dari kitab Thobaqotul Fuqoha, beliau berkata, 


""Ketahuilah bahwa mayoritas para sahabat Rasulullah yang berkawan dan menemani beliau adalah Para Ahli Fiqih. Demikian itu, bahwa metode fiqih para sahabat adalah khithob (perintah) Alloh dan Rosululloh serta apa saja yang dipahami dari keduanya, juga perbuatan- perbuatan Rosululloh ﷺ dan apa saja yang dipahami darinya. 


Yang dimaksud dengan khithob Allah adalah Al Qur'an. Allah menurunkan nya dengan bahasa mereka berdasarkan sebab-sebab yang mereka ketahui dan kisah-kisah mereka di dalamnya. Sehingga, mereka mengetahuinya, baik secara tertulis, tersirat, tersurat, dan pemahamannya. Maka dari itu, Imam Abu Ubaidah (110H) dalam kitab Al Majazul Qur`an, beliau berkata, "Tidak ada nukilan bahwa satu orang pun dari sahabat Rosululloh dalam memahami sesuatu dari Al Qur'an merujuk kepada Rosululloh." 


Khithob Rosululloh ﷺ  juga menggunakan bahasa mereka. Mereka mengetahui maknanya, memahami makna tersirat, dan maksudnya. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan beliau, berupa ibadah, muamalah, perjalanan, dan politik, semuanya disaksikan oleh mereka, berlangsung secara terus menerus serta dicari-cari oleh mereka.""


Syaikh Musthofa al Khin mengatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam permasalahan fiqih pada zaman Rosululloh. Ini karena Rosululloh ﷺ adalah rujukan utama bagi mereka terkait hukum-hukum dan permasalahan mereka. Akan tetapi, hampir para sahabat Rosululloh tidak berpindah dari tempat duduknya yang mulia, sampai mereka melihat diri mereka dihadapkan pada persoalan besar yang tidak ada jawaban nash yang jelas dari Al Qur'an dan sunnah. 


▪︎ 


📕Abhats Haula 'Ilm Ushul Fiqh - Tarikhuhu wa Tathowuruhu, halaman 35, Cet. Darul Kalimi Thoyyib 


○ 


وممن اشتهر بالفقه والفتوى من الصحابة : عائشة أم المؤمنين ، وعمر بن الخطاب ، وابنه عبد الله ، وعلي بن أبي طالب ، وعبد الله بن عباس ، وعبد الله بن مسعود ، وزيد بن ثابت ، وأنس بن مالك ، وأبو بكر الصديق ، ومعاذ بن جبل ، وجابر بن عبد الله ، وأبو هريرة ، وغيرهم كثير (۱) 


قال أبو إسحاق الفيروزبادي الشيرازي في كتابه « طبقات الفقهاء (۲) : اعلم أن أكثر أصحاب رسول الله الله الذي صحبوه ولازموه كانوا فقهاء ، وذلك أن طريق الفقه في حق الصحابة خطاب الله عز وجل ، و خطاب رسوله وما عقل منهما، وأفعال رسول الله ﷺ وما عقل منها، فخطاب الله عز وجل هو القرآن ، وقد أنزل ذلك بلغتهم على أسباب عرفوها ، وقصص كانوا فيها ، فعرفوها مسطورة ومفهومه ومنطوقه ومعقوله ، ولهذا قال أبو عبيدة في كتاب ( المجاز » : لم ينقل أن أحداً من الصحابة رجع في معرفة شيء من القرآن إلى رسول الله ﷺ ، وخطاب رسول الله ﷺ أيضاً بلغتهم ، يعرفون معناه ويفهمون منطوقه وفحواه ، وأفعاله التي فعلها من العبادات والمعاملات والسير والسياسات، وقد شاهدوا ذلك كله وعرفوه ، وتكرر عليهم وتحرّوه » . 


لم يكن هناك خلاف في المسائل الفقهية على عهد رسول الله ﷺ ؛ لأنه عليه الصلاة والسلام كان هو المرجع لهم في أحكامهم وقضاياهم، ولكن لم يكد أصحاب رسول الله الله يفرغون من وضعه في مرقده المطهر ، حتى رأوا أنفسهم أمام مسائل كثيرة لم يرد في الإجابة عنها نص صريح من كتاب أو سنة 


○○○ 


👨‍🏭 Adam Mostafa EL Prembuny

💠Jumlah Kosakata Bahasa Arab

Berapa Jumlah Kosakata Bahasa Arab dan Berapa Jumlah Kata Serapannya Ke Bahasa Indonesia? 


☆ 


Seorang Ulama sekaligus Sejarawan asal Irak, Syaikh Jawad 'Ali al 'Iroqi, beliau menyebutkan bahwa jumlah kosa kata Arab mencapai 12,3 juta. Lebih tepatnya 12.305.052 kata. Ini menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa dengan kosakata terkaya dalam sejarah.


Berikut penjelasan beliau dalam kitabnya : 


~


واللغة العربية اليوم، هي من أعظم اللغات السامية الباقية، بكثرة من يتكلم ويكتب بها، وبكثرة ما ألف ودون بها. وهي تستعمل اليوم قلمًا اشتق من قلم سامي شمالي، وكان لها في الماضي قلم قديم كان مستعملًا عند العرب من أيام ما قبل الميلاد إلى ظهور الإسلام، مات بسبب اتخاذ الإسلام القلم الجزم قلمًا للوحي، دون به القرآن الكريم، فصار بذلك القلم الشرعي الرسمي، وأمات بذلك الأقلام الجاهلية الأخرى المشتقة من القلم "المسند". ونجد في المعاجم اللغوية مئات الألوف من الألفاظ المعبرة 


"Saat ini, bahasa Arab termasuk bahasa Semit terbesar yang masih ada, dengan banyaknya orang yg berbicara dan menulis dengannya, dan banyak yang mengarang dan menyusun buku dengan bahasa tersebut. 


Bahasa Arab hari ini menggunakan aksara yang berasal dari aksara Semit utara. Pada zaman dahulu, bahasa arab memiliki aksara kuno yang digunakan oleh orang-orang Arab sejak zaman sebelum Masehi hingga munculnya Islam. Aksara itu mati karena Islam mengambil aksara yang baku sebagai penulisan untuk wahyu yang digunakan untuk menulis ayat-ayat Al-Qur'an, sehingga menjadi penulisan resmi yang sah, dan aksara pra Islam lainnya berasal dari “al Musnad”. 


ونجد في المعاجم اللغوية مئات الألوف من الألفاظ المعبرة عن معان، وقد قدر بعض العلماء عدد ألفاظ العربية بنحو من "١٢٣٠٥٠٥٢" كلمة٣. ويعود سبب غناها في الألفاظ إلى كثرة وجود المترادفات فيها، التي هي من بقايا لغات قبائل، وإلى خاصية جذور الكلم فيها في توليد الألفاظ الجديدة بتحريك هذه الجذور. 


📕جواد علي العراقي : المفصل في تاريخ العرب قبل الإسلام 


"Kita menemukan dalam kamus lughoh ratusan ribu kata yang mengungkapkan makna. Dan sebagian Ulama memperkirakan jumlah kata dalam bahasa Arab sekitar 12.305.052 (dua belas juta tiga ratus lima ribu lima puluh dua) kata. 


Penyebab dari kekayaan kata bahasa arab ini adalah karena banyaknya sinonim di dalamnya, yang merupakan sisa-sisa bahasa kabilah-kabilah di arab, dan sifat akar katanya dalam menghasilkan kata-kata baru dengan memindahkan akar-akar kata tersebut." 



📕Al Mufasholu fi Tarikhil 'Arob Qoblal Islam, Juz 8 halaman 535, Cet. Sa'adat Jami'ah Baghdad Ala Thob'i wan Nasyri.


===


🔹️Inilah salah satu keistimewaan bahasa Arab, yakni mampu menciptakan kosa kata baru dengan makna yang berbeda-beda, dan selalu berkembang lebih banyak dibandingkan bahasa lainnya.  Bahasa Arab memiliki banyak kosakata karena punya beragam akar kata dan adanya kata-kata dengan bentuk yang mirip tapi memiliki makna yang berbeda.  Kosakata dalam bahasa Arab disebut mufrodat dan terbagi menjadi 3 yaitu : Isim (k. benda), Fi'il (k. kerja), dan Harf (huruf). 


Menurut lembaga Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, jumlah kosakata dalam bahasa Indonesia yang telah tercatat dalam buku 📘KBBI edisi ke 5, sekitar 127.036 bentuk kata. 


Sedangkan bahasa Inggris dalam buku kamus 📘Oxford English Dictionary memiliki 273.000 kata utama ; 171.476 di antaranya masih digunakan saat ini, 47.156 kata yang sudah tidak digunakan lagi , dan sekitar 9.500 kata turunan disertakan sebagai sub-entri.  Kamus ini berisi 157.000 kombinasi dan turunan, dan 169.000 frasa dan kombinasi, sehingga total jumlahnya lebih dari 600.000 bentuk kata.


🔹️Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia


Menurut Badan Pengembangan Bahasa & Perbukuan" di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, jumlah kosakata serapan Arab yang ada dalam bahasa Indonesia berjumlah 1495 kata.


Kata-kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia bisa dibagi jadi 4 macam, yaitu: 


1. Kata yang ucapan dan maknanya masih sama.

Contoh : Abadi أبدي , Wajib وجب , Musibah مصيبة , Hakim حاكم , Maut موت , Daftar دفتر , Halal حلال


2. Kata yang ucapannya berubah, tapi maknanya tetap.

Contoh : Lafal لفظ , Rezeki رزق , Sekarat سكرة , Kabar خبر , Senin إسنين , Rabu أربعاء , Mungkin يمكن


3. Kata yang ucapan sama, tapi maknanya berubah.

Contoh : Kalimat كلمة, Siasat سياسة


4. Kata yang ucapan dan maknanya berubah.

Contoh : Perlu فرض , Petuah فتوى , Laskar عسكر , Logat لهجة , Naskah نسخة


===


#kamus #arab #kamusarab #kosakata #serapan #islam #alquran #faedah #khazanah #sejarah #algoritma #up #news #kitab #rekomendasi


👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

Jumat, 04 Oktober 2024

💠Tingkatan Mujtahid Fiqih Dalam Islam

Tingkatan Mujtahid Fiqh Dalam Islam Menurut Syaikh Wahbah Zuhaili

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny



☆Referensi saya :

📕Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu
👳‍♂️Syaikh Wahbah az Zuhaili


Menurut kitab Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah az Zuhali al Hanafiy, beliau menuliskan tingkatan Mujtahid (Ahli Ijtihad) fikih menjadi beberapa tingkatan :


■1. Mujtahid Muthlaq yg Berijtihad Sendiri (Mujtahid Mustaqil)

Adalah mujtahid yg mampu membuat kaidah sendiri. Ia membina fikih di atas kaidah2 tersebut. Yg termasuk dlm tingkatan mujtahid paling tinggi ini adalah para Imam mazhab empat (Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad).

■2. Mujtahid Muthlaq yg Tidak Berijtihad Sendiri (Mujtahid Muthlaq Ghoiru Mustaqil)

Adalah mujtahid yg memiliki syarat2 berijtihad yg dimiliki mujtahid mustaqil, tetapi ia tidak menciptakan kaidah2 sendiri, tapi mengikuti cara salah seorang dari para imam mujtahid.

Jadi, mereka adalah Muntasib (mengikuti) bukan mustaqil.

Contoh Mujtahid Muntasib adalah murid2 para imam madzhab empat tadi, di antaranya Qodhi Abu Yusuf dan Zufar dari golongan Hanafi.

Kemudian Ibnul Qosim, Al Asyhab, dan Asad Ibnul Furot dari mazhab Maliki.

Imam al Buwaithi dan Imam al Muzani dari mazhab Syafi’i

Imam Abu Bakar al Marwazi dari mazhab Hambali.

Jadi, mereka kadang berbeda pendapat dgn guru mereka, tetapi mereka mengikutinya dlm kaidah2 yg utama.

Kedua tingkatan ini (Mustaqil dan Muntashib) sudah habis dan tidak ada lagi.

■3. Mujtahid Muqoyyad

Disebut juga dgn mujtahid dlm masalah2 yg gak ada nash dari para Imam madzhab atau Mujtahid Takhrij. Contohnya seperti :

Imam al Khoshof, Imam At Thohawi, Imam al Karkhi, Imam al Hilwani, Imam as Sarakhsi, Imam al Bazdawi dan Imam Qodhi Khan 》dari madzhab Hanafi.

Imam al Abhari dan Imam Ibnu Abi Zaid al Qairuwani 》dari madzhab Maliki.

Imam Abi Ishaq Asy Syirazi, Imam al Marwazi, Imam Muhammad bin Jabir, Imam Abu Nashr, dan Imam Ibnu Khuzaimah 》 dari mazhab Syafi’i.

Imam Qodhi Abu Ya’la dan Imam Qodhi Abu 'Ali bin Abi Musa 》dari madzhab Hanbali.

Mereka Semua dinamakan Ashhabul wujuh, sebab melahirkan hukum2 yg tidak dinashkan oleh para imam. Perbuatan mereka dinamakan satu wajah dlm mazhab atau satu pendapat dlm mazhab.
Pendapat2 ini dinisbatkan kpd para imam ini, bukan kpd imam pencetus mazhab. Hal ini banyak terjadi dlm madzhab Syafi’i dan Hanbali.

■4. Mujtahid Tarjih

Adalah mujtahid yg mampu menguatkan pendapat  imam mazhab dgn pendapat2 yg lain. Atau yg mampu merojihkan di antara apa yg dikatakan oleh imam, dan apa yg dikatakan oleh murid2 nya ataupun oleh para imam yg lain. Jadi, ia berusaha menguatkan sebagian riwayat yg lain.

Yg termasuk dlm kategori ini yakni Imam Al Qoduri dan Imam al Marghinani (sohibul kitab Al Hidayah) 》dari madzhab Hanafi.

Seperti Imam al Kholid 》dari madzhab Maliki.

Seperti Imam ar Rofi’iy dan Imam An Nawawi 》dari madzhab Syafi’i.

Dan seperti Imam Al Qodhi Alauddin al Mardawi, Imam Abul Khothob Mahfudz al Baghdadi 》dari madzhab Hanbali.

■5. Mujtahid Fatwa

Adalah mujtahid yg berpegang kuat dgn madzhab, ia menerima dan menyampaikannya kpd orang lain, serta memberi penjelasan dlm perkara2 yg jelas dan dlm perkara2 yg musykil/sulit.

Ia membuat perbedaan di antara pendapat yg paling kuat, yg kuat, yg lemah, yg rajih (dikuatkan), dan yg marjuh (dilemahkan). Tapi ia punya kelemahan dlm menguraikan dalil dan mengemukakan bandingannya (qiyasnya).

Mereka terdiri atas para penulis kitab pada zaman mutakhir seperti pengarang kitab Al Kanz, pengarang kitab Durul Mukhtar, pengarang kitab Al Wiqoyah, pengarang kitab Majma’ ul Anhar 》dari madzhab Hanafi.

Seperti Imam ar Romli dan Ibnu Hajar al Haitami 》dari madzhab Syafi’i.

■6. Thobaqot Muqollidin

Muqollid adalah ulama yg tidak mempunyai kemampuan untuk membuat perbedaan antara pendapat yg lemah dan yg kuat, serta tidak dapat membedakan antara yg rajih dan yg marjuh.

~Qultu : "Muqollid" adalah ulama yg menyandarkan ketentuan hukum suatu tindakan berdasarkan fatwa seorang Mujtahid tertentu, oleh karena itu amalan mereka disebut pula sbg amalan taqlid.

Selain itu, jumhur ulama tidak membedakan antara mujtahid muqoyyad dgn mujtahid takhrij, tapi Imam Ibnu ‘Abidin al Hanafiy meletakkan thobaqot Mujtahid Takhrij di tempat yg ke empat setelah mujtahid Muqoyyad dgn memberi contoh sprti : Imam al Jashosh al Hanafiy dan ulama2 yg setingkat dengannya.

📕Fiqhul Islamiy wa Adillatuhu, juz 1 halaman 47 - 48, Cet. Darul Fikr.


~Qultu : Makna "Thobaqot" menurut bahasa, adalah suatu kaum yang memiliki kesamaan dalam suatu sifat. Lebih simple nya bisa disebut kumpulan biografi orang-orang yang sejenis.

Secara istilah, adalah suatu kaum yang hidup dalam satu masa dan memiliki keserupaan dalam umur dan sanad, yakni pengambilan hadis dari para guru.

○○○

مراتب الفقهاء

لابد للمفتي أن يعلم حال يفتي بقوله, فيعرف درجته في الرواية وفي الدراية, وطبقته بين طبقات الفقهاء, ليميز بين الآراء المتعارضة, ويرجح أقواها

1. المجتهد المستقل : وهو الذي استقل بوضع قواعده لنفسه, يبني عليها الفقه, كأئمة المذاهب الأربعة. وسمى ابن عابدين هذه .الطبقة : طبقة المجتهدين في الشرع

٢. المجتهد المطلق غير المستقل : وهو الذي وجدت فيه شروط الاجتهاد التي اتصف بها المجتهد المستقل, لكنه لم يبتكر قواعد لنفسه, بل سلق طريق إمام من أئمة المذاهب في الاجتهاد, فهو مطلق منتسب, لا مستقل, مثل تلامذة الأئمة السابق ذكرهم كأبي يوسف محمد وزفر من الحنفية, وابن القاسم وأثهب وأسد بن الفرات من المالكية, والبويطى والمزني من الشافعية, وأبي بكر الأثرم, وأبي بكر المروذي من الحنابلة. وسمى ابن عابدين هذه الطبقة : طبقة المجتهدين في المذهب : وهم القادرون .على استخراج الأحكام من الأدلة الفروع, لكن يقلدونه في قواعد الأصول. وهاتان المرتبتان قد فقدتا من زمان

3. المجتهد المقيد, أو مجتهد المسائل التي لا نص فيها عن صاحب المذهب أو مجتهد التخريج, كالخصاف والطحاوي والكرخي والحلواني والسرخسي والبزدوي وقاضي خان من الحنفية, وأبي إسحاق الشيرازي والروزي ومحمد بن جرير وأبي نصر وابن خزيمة من الشافعية, والقاضي أبي يعلى والقاضي أبي علي بن أبي موسى من الحنابلة. وهؤلاء يسمون أصحاب .الوجوه, لأنهم يخرجمن ما لم ينص عليه على أقوال الإمام, ويسمى ذلك وجها في المذهب, أو قولا فيه

٤. مجتهد الترجيح : وهو الذي يتمكن من ترجيح قول لإمام المذهب على قول آخر, أو الترجيح بين ما قاله الإمام وما قاله تلاميذه أو غيره من الأئمة, فشأنه تفضيل بعض الروايات على بعض, مثل القدوري والمرغيناني صاحب الهداية من الحنفية, والعلامة خليل من المالكية, والرفعي والنووي من الشافعية, والقاضي علاء الدين المرداوي منقح مذهب الحنابلة, وأبي الخطاب .محفوظ بن أحمد الكلوذاني البغدادي (510هـ) المجتهد في مذهب الحنابلة

ه. مجتهد الفتيا : وهو أن يقوم بحفظ المذهب ونقله وفهمه في الواضحات والمشكلات, ويميز بين الأقوى والقوى والضعيف, والراجح والمرجوح, ولكن عنده ضعف في تقرير أدلته وتحرير أقيسته, كأصحاب المتون المعتبرة من المتأخرين, مثل صاحب .الكنز, وصاحب الدر المختار, وصاحب الوقاية, وصاحب مجمع الأنهر من الحنفية, والرافعي والنووي من الشافعية

.6. طبقة المقلدين : الذين لا يقدرون على ما ذكر من التمييز بين القوي وغيره, ولا يفرقون بين الغث والسمين

هذا ولم يفرق الجمهور بين المجتهد المقيد, ومجتهد التخريج, وجعل ابن عابدين طبقة مجتهد التخريج مرتبة رابعة بعد المجتهد المقيد, ومثل له بالرازي الجصاص (المتوفى سنة 370هـ) وأمثال


●●●


👋 Panduan Membaca

💠Penjelasan Tema Artikel

                  Tema  & Isi Pembahasannya   • Aqidah & Filsafat Memuat tulisan-tulisan pembahasan tentang ilmu kalam, teologi, pe...