☆
Dikutip dari buku Kasyf al-Kadzib, karya seorang spesialis body language & self development asal Saudi Arabia, sidi Khalid bin Muhammad al-Musaihij. Ada 3 jenis kebohongan yang biasa dilakukan manusia terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain, dilihat berdasarkan tujuan, subjek dan ukur kebohongannya.
▪︎
🔷️A. Kebohongan Berdasarkan Tujuan.
1. Kebohongan Yang Diizinkan.
Memiliki beberapa bentuk, seperti kebohongan suami kepada istrinya, kebohongan istri kepada suaminya *(Note: Kebohongan ini tidak sepenuhnya boleh, tetapi hanya diizinkan, dan ada perbedaan antara izin dan kebolehan mutlak)*. Kemudian ada berbohong (taktik muslihat) kepada musuh perang, dan berbohong untuk mendamaikan pihak yang berselisih. Ini hanyalah kasus-kasus yang diizinkan, selain itu maka termasuk dalam larangan.
Yaitu menyusun cerita dari imajinasi, termasuk menulis cerita dan novel yang tidak berakar pada kenyataan, tujuannya adalah untuk memberikan suasana hiburan dan kesenangan.
Dicirikan dengan seseorang mengklaim apa yang tidak ada padanya, baik itu status keilmuan, jabatan, kelas sosial, atau kelebihan lainnya, dan tujuan dari jenis kebohongan ini adalah untuk menyembunyikan perasaan rendah diri, insecure, atau rasa malu akan realitanya.
Jenis kebohongan ini digunakan untuk mencegah hukuman, celaan, atau rasa malu, dan yang paling banyak melakukannya adalah anak-anak dan orang yang bersalah.
Paling sering digunakan oleh anak-anak, seperti seorang anak yang berpura-pura ingin pinjam buku catatan dari temannya yang tinggal di sebelah rumahnya, padahal dia pergi ke warung untuk beli sebuah permen yang dilarang orang tuanya.
Ini adalah salah satu jenis kebohongan terburuk, karena melibatkan kerugian bagi orang lain, di mana seseorang menggunakan kebohongan untuk menyebarkan perkataan atau tindakan palsu tentang orang lain, karena membencinya, atau keinginan untuk membalas dendam padanya, dan merugikannya, dan terkadang karena kecemburuan dan iri hati.
🔷️B. Kebohongan Berdasarkan Subjek.
1. Kebohongan yang Berfokus pada Diri Sendiri.
Ini adalah kebohongan seseorang tentang aspek dan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya secara pribadi, seperti berbohong tentang status sosialnya, pekerjaannya, atau tingkat finansialnya. Ini mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan penampilan palsu seperti mobil mewah, aksesoris, atau perhiasan dan merek tiruan yang tidak mencerminkan tingkat kenyataan orang yang menggunakan penampilan palsu ini.
Jenis kebohongan ini mencakup aspek positif dan negatif. Aspek positif berkaitan dengan memperindah citra orang lain demi tujuan tertentu, termasuk kebohongan yang diizinkan untuk memperbaiki hubungan antar manusia, misalnya seseorang berkata kepada salah satu pihak yang berselisih: "Si Fulan mencintaimu, memujimu, dan heran mengapa kamu bersikap seperti ini kepadanya," kemudian dia menyampaikan hal yang sama kepada pihak lawan, dengan tujuan menghilangkan sisa-sisa perselisihan yang timbul di antara mereka.
1. Kebohongan Total.
Di sini, seluruh perkataan bertentangan dengan kenyataan, artinya perubahan total terhadap fakta, dan pemalsuan terhadapnya, sehingga tidak terkait dengan kenyataan sedikit pun, baik dari dekat maupun dari jauh, baik dari segi waktu, tempat, peristiwa, atau kejadian, yang berarti sepenuhnya karangan dari pikiran pembicara, dan tidak diragukan lagi ini adalah yang terbesar ukurannya, dan yang termudah dalam hal kemampuan untuk dideteksi.
Jenis kebohongan ini menyebutkan beberapa fakta, yang diselingi dengan peristiwa atau kejadian yang tidak nyata, baik terkait waktu, tempat, peristiwa, atau pembenaran yang mendorong tindakan yang dilakukan. Pembohong tidak memberikan kebenaran sepenuhnya, melainkan memberikan sebagian darinya, lalu mengarang bagian lainnya. Jumlah kebohongan pun bervariasi sesuai situasi.
Di sini, pembicara menyebutkan fakta yang benar, tetapi melebih-lebihkan beberapa bagiannya dan membesar-besarkan peristiwanya, baik terkait dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Misalnya, seseorang berbicara tentang kerugian finansialnya, dan kerugian itu memang terjadi, tetapi tidak sebesar jumlah yang dia sebutkan, atau dia menjelaskan pencapaiannya, dan pencapaian itu benar, tetapi tidak sebesar yang dia laporkan.
Jenis ini kebalikan dari yang sebelumnya, di mana seseorang mencoba mengurangi besarnya hasil peristiwa atau kejadian, atau kekuatannya, atau konsekuensi yang diakibatkannya. Misalnya, menjadi penyebab kerugian finansial, lalu dia menggambarkan kerugian tersebut lebih kecil dari nilai sebenarnya, atau ukuran aktualnya.
📕Al-Marja'usy Syamil fi Kasyfil Kadzib, halaman 9-12, Cetakan Madar al-Fikr.
👨🏭Adam Mostafa EL Prembuny
#bohong #kebohongan #dusta #kadzb #kedustaan #psikologi #kejiwaan #jujur #sifat #karakter #watak #kepribadian #manusia #psikologi
