Kamis, 05 Februari 2026

Kapan Wudhu Disyariatkan Pertamakali Dalam Islam? Sebelum/Sesudah Isra` Mi'raj? 



Dalam kitab Fathul Mu'in, diterangkan bahwa kewajiban wudhu disyariatkan pada tahun ke 10 setelah Kenabian (Pengangkatan Rasul).

Sedangkan dalam kitab Hasyiyah al Qolyubi diterangkan bahwa kewajiban wudhu disyariatkan pada tahun ke 16 setelah Kenabian. 


Peristiwa hijrahnya beliau ke Madinah terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun ke 14 setelah Kenabian. 

Sedangkan peristiwa Isra Mi'raj sendiri, ulama berbeda pendapat. Namun yang pasti, itu terjadi setelah wafatnya Sayidah Khodijah dan sebelum beliau hijrah ke Madinah. Berarti itu terjadi antara tahun ke 10 dan tahun 14 setelah kenabian. 


Sebelum kita masuk ke pembahasan jenis sholat yang pertamakali disyariatkan kepada Rasulullah ﷺ, saya akan membahas tentang kapan Wudhu disyariatkan oleh Allah kepada Rasulnya. Karena dalam ibadah sholat, seseorang diwajibkan untuk bersuci dahulu agar ibadahnya Sah dan diterima oleh Allah. 


Tentang tanggal, bulan dan waktunya yang pasti, belum saya temukan dalam kitab-kitab sejarah, tapi Syaikh Jawwad 'Ali di dalam kitabnya berjudul Tarikh al Sholat fil Islam, yang diterbitkan oleh Unit Percetakan Universitas Baghdad, beliau akan menjelaskan perbedaan pendapat mengenai waktunya. Waktu di sini adalah tahun ke sekian setelah kenabian. Bab Thoharoh dan Wudhu terdapat di halaman 39-42.


☆Syaikh Jawwad menjelaskan : 


لا تقبل صلاة المصلي في الاسلام ، اذا كان المصلي نجساً ، أو كانت. صلاته بغير وضوء ، لأن الطهارة والوضوء من أركان الصلاة . وتشمل. الطهارة ، طهارة الجسم ، وطهارة الثياب ، وطهارة الأرض . أما الوضوء ، فيجب أن يكون بالشكل الذي نص عليه في القرآن الكريم . وورد في. الحديث : و لا تقبل صلاة أحدكم اذا أحدث حتى يتوضأء .وورد في كتب الحديث : « لا صلاة بغير طهور . و ه الطهور شطر الايمان . فالطهور اذن شيء لازم للمسلم ، ولا تقبل صلاته بدونه . وهذا ما أجمعت عليه كتب الفقه في جميع مذاهب أهل الاسلام .

وتختلف قواعد الطهارة باختلاف مفهومها عند الأمم والأديان ، وباختلاف. وجهات نظر الشعوب ، الا أنها تتفق عموماً في الفكرة والقاعدة ، وهي فساد. أية صلاة اذا كان المصلي على نجاسته ، أو اذا كان موضع المصلى نجساً. 


""Dalam Islam, sholat seseorang tidak diterima jika dalam keadaan bernajis atau tanpa berwudhu terlebih dahulu, karena bersuci dan wudhu adalah rukunnya sholat. Bersuci mencakup mensucikan badan, pakaian, dan tempat sholat. Sementara itu wudhu diwajibkan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an. Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim yang menyatakan : 


{Tidak diterima shalat kalian jika tidak berwudhu terlebih dahulu", "Tidak ada sholat tanpa wudhu", dan "Bersuci adalah bagian dari iman}. 


Maka bersuci adalah wajib bagi muslim dan sholatnya tidak diterima jika tanpa bersuci. Hal ini disepakati dalam kitab-kitah fiqih berbagai madzhab. Kaidah-kaidah bersuci memiliki konsep yang bervariasi menurut berbagai kelompok, agama dan suku. Tapi secara umum, mereka sepakat bahwa pelaksanaan ritual agama tidak sah jika tidak dalam keadaan dan tempat yang suci."" 


📕Tarikh al Sholat fil Islam, halaman 39.

== 


☆Syaikh Jawwad menyebutkan perbedaan pendapat sebagian ulama tentang waktu pensyariatan Wudhu : 


وقد ذهب فريق من العلماء الى أن فرض الوضوء كان مع فرض الصلاة مع قبل الهجرة بسنة . وذهب فريق آخر الى أن فرضه وفرض الغسل كانا فرض الصلوات ليلة الاسراء . و توسط آخرون ، فقالوا ان الوضوء كان قبل. الاسراء مندوباً ، فلما صار الاسراء صار فرضاً . فهو من الفروض التي نزلت بمكة. 


""Menurut segolongan Ulama, kewajiban wudhu disyariatkan bersama dengan kewajiban sholat 5 waktu yakni 1 tahun sebelum beliau hijrah. 

Menurut golongan kedua, kewajiban wudhu dan sholat disyariatkan pada malam Isra' Mi'raj.


Sebagian ulama lain menengahi perbedaan dua pendapat tersebut. Mereka berkata, sebelum peristiwa Isra' Mi'raj, wudhu hukumnya mandub (sunah) dan menjadi wajib setelah peristiwa tersebut. Maka Wudhu adalah termasuk kewajiban yang turun di Mekkah."" 


📕Tarikh al Sholat fil Islam, halaman 42.

== 


Jauh di halaman sebelumnya, Syaikh Jawwad menyebutkan pendapat dari sebagian sejarawan bahwa wudhu sudah disyariatkan setelah Kenabian dan sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, yakni ketika malaikat Jibril mengajarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang tatacara ritual ibadah sholat versi Islam. 


Syaikh Jawwad menerangkan sebagai berikut : 


ويرجع بعض أهل السير والأخبار الأمر بالصلاة والوضوء الى الساعة التي نزل بها جبريل على الرسول يخبره فيها باختيار الله له ليكون رسوله الى البشر أجمعين ، والى الجن والانس . فهم يذكرون أنه علمه اذ ذاك الوضوء والصلاة ، فتوضأ جبريل ، وتوضأ رسول الله بوضوئه ، ثم صلى جبريل ، فصلى رسول الله بصلاته. فلما ذهب الوحي عنه ، جاء الى خديجة فعلمها الوضوء كما تعلمه وصلى بها صلاة جبريل به. 


""Sebagian ahli sejarah berpendapat, sholat dan wudhu diperintahkan pada saat Malaikat Jibril turun memberi tahu Nabi Muhammad ﷺ. bahwa beliau dipilih menjadi utusan Allah (yang bertugas menyampaikan risalah) kepada seluruh makhluk baik dari kalangan manusia dan jin. 


Para ahli sejarah menyatakan, Malaikat Jibril mengajari Nabi Muhammad ﷺ. berwudhu lalu beliau menirukan. Beliau pun sholat dengan mengikuti Jibril sholat. Maka setelah proses wahyu tersebut selesai, Rasulullah mendatangi Sayidah Khodijah lalu beliau mengajarinya wudhu dan sholat seperti yang dipelajari beliau dari Jibril."" 


📕Tarikh al Sholat fil Islam, halaman 20.

== 


Kembali lagi ke bab Thoharoh dan Wudhu, Syaikh Jawwad juga menerangkan penjelasan yang sama sebagai berikut : 


غير أن الذي تراه في كتب الأخبار والسير ، هو أن الأمر بالوضوء نزل مع نزول الأمر وأن الرسول توضاً مع أول صلاة صلاها . ففي تلك الكتب : . أن الصلاة حين افترضت على رسول الله ، صلى الله عليه وسلم ، أتاه جبريل ، وهو بأعلى مكة ، فهمز له بعقبه في ناحية الوادي ، فانفجرت منه عين ، فتوضاً جبريل عليه السلام ، ورسول الله ، صلى الله عليه وسلم ، ينظر اليه ليريه كيف الطهور الى الصلاة ، ثم توضأ رسول الله ، صلى الله عليه وسلم، كما رأى جبريل توضأ ، ثم قام به جبريل فصلى به ، وصلى رسول الله ، صلى الله عليه وسلم ، بصلاته 


Namun apa yang anda lihat dalam kitab-kitab sejarah dan sirah, bahwa perintah berwudhu diturunkan ketika perintah tersebut diturunkan bersamaan dengan perintah sholat. Rasulullah ﷺ berwudhu pertama kali pada saat sholat yang pertama kalinya juga. Di dalam kitab-kitab tersebut terdapat kisah "Susungguhnya ketika sholat diwajibkan kepada beliau., Jibril mendatanginya di atas bukit di Makkah. Lalu Jibril menginjakkan ujung kakinya ke arah lembah, lalu keluarlah mata air. Kemudian Jibril berwudhu dan Rasululah melihat tatacara mensucikan diri. Lalu beliau menirukan cara wudhunya Jibril. Kemudian Jibril berdiri untuk sholat dan Rasulullah pun sholat berjamaah dengannya"". 


📕Tarikh al Sholat fil Islam, halaman 41,42.

== 


Kesimpulannya, kewajiban Wudhu dalam Islam sudah ada jauh sebelum peristiwa Isra Mi'raj. Ini bersamaan dengan sholat pertamakali dalam Islam. Waktunya berdekatan setelah turunnya wahyu pertama di gua Hira. Rasulullah diajari kaifiyah wudhu dan sholat 2 rokaat oleh Malaikat Jibril di sebuah tempat di Mekkah. Lalu mereka sholat bersama.


~


Oleh : 👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny 


#wudhu #bersuci #sejarahwudhu #sejarahsholat #wudlu #tarikhsholat #thoharoh #تاريخ_الصلاة

 Fatwa Lengkap Imam Nawawi Tentang Isra Mi'raj, Termasuk Sholat Pertamakali yang Dikerjakan Nabi ﷺ


~


Di postingan sebelumnya, saya sudah membahas tentang syariat Wudhu yang pertamakali dilakukan oleh Nabi ﷺ berdasarkan kitab Tarikh Al Sholat fil Islam karya Syaikh Jawwad 'Ali, kali ini saya akan terlebih dahulu membawakan pendapat ulama lain yakni Al Imam An Nawawi rohimahullah, yang membahas jenis sholat pertama kali yang dikerjakan oleh Nabi ﷺ dalam Islam. 


Berikut adalah jawaban lengkap Imam An Nawawi rahimahullah dalam kitab Fatawaa An Nawawi, terkait pertanyaan-pertanyaan seputar Isra Mi'raj, di antaranya termasuk jenis sholat yang pertama kali dikerjakan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah Sholat Malam.


🔰Pertanyaan :


هل ثبت أن النبي -صلى الله تعالى عليه وآله وسلم- صلى بالأنبياء -صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين- ليلة الِإسراء ببيت المقدس أم لا؟ وهل كانت الصلاة وجبت؟ وهل هي الصلاة المعهودة أم الدعاء؟ وهل كان الِإسراء في المنام أم في اليقظه؟ وهل كان مرةً أو مرتين؟ وهل رأى النبي صلى الله تعالى عليه وآله وسلم ربَّه سبحانه وتعالى ليلةَ الِإسراء بعيني رأسِه أم لا؟ ومتى كان الِإسراء؟


1️⃣Apakah riwayat haditsnya shohih bahwa Nabi ﷺ pernah mengerjakan sholat bersama para Nabi 'alaihimusalam pada malam Isra` di Baitul Maqdis?


2️⃣Apakah shalat yang dilakukannya itu wajib? Dan apakah sholat tersebut adalah sholat yang kita kenal atau sholat sebatas doa saja?


3️⃣Apakah Isra` itu terjadi ketika Nabi ﷺ dalam keadaan tidur atau dalam keadaan sadar?


4️⃣Apakah terjadinya peristiwa Isra` itu sekali ataukah dua kali?


5️⃣Apakah Nabi ﷺ melihat Allah subhanahuwataala pada malam Isra` Mi'raj itu secara langsung atau tidak? 


6️⃣Dan kapan terjadinya peristiwa Isra` Mi'raj?


▪︎


✅ Imam An Nawawi menjawab :


نعم؛ ثبت أن نبينا صلى الله عليه وآله وسلم صلى بالأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ليلةَ الِإسراء ببيت المقدس، ثم يحتمل أنه كانت الصلاة قبلَ صعوده إلى السماء، وُيحْتَمَلُ أنها بعد نزوله منها.

واختلف العلماء في هذه الصلاة.

فقيل: إِنها الصلاةُ اللغويةُ، وهي الدعاء والذكر.

وقيل: هي الصلاة المعروفة وهذا أصح ؛ لأن اللفظ يُحمل على حقيقته الشرعية قبل اللغوية، وإِنما نحمله على اللغوية إِذا تعذر حمله على الشرعية ولم يتعذر هنا؟ فوجب الحمل على الصلاة الشرعية.


""Ya benar, telah tsabit (dalam hadits Shohih) bahwa Nabi ﷺ mengerjakan sholat dengan para Anbiya` alaihimussalam pada malam Isra` di Baitul Maqdis, kemungkinan sholat tersebut dilakukan sebelum beliau naik ke langit (Mi'raj) dan bisa jadi setelah beliau turun dari langit.


Para ulama berbeda pendapat tentang sholat ini.


–Sebagian ulama mengatakan bahwa sholat tersebut adalah sholat secara bahasa, yakni berdoa dan berdzikir.

–Dan sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa Sholat tersebut adalah sholat yang dikenal dalam syariat dan inilah pendapat yang benar . 


Karena kata "Sholat" tersebut harus diartikan menurut hakikat Syariat sebelum diartikan secara bahasa, dan kami hanya mengartikannya dengan makna bahasa apabila mustahil mengartikannya secara Syariat, dan dalam hal ini tidak ada halangan untuk mengartikannya secara Syariat. Maka wajib diartikan sholat secara Syariat.""


وكانت الصلاة واجبةً قبل ليلة الإِسراء، وكان الواجبُ قيامَ بعض الليل كما نص الله سبحانه وتعالى عليه في سورة المزمل، وكان الواجبُ أولًا ما ذكره  الله سبحانه وتعالى في أول السورة بقوله تعالى: {يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا  نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا  أَوْ زِدْ عَلَيْهِ} ثم نسخ ذلك بعد سنةٍ بما ذكره  الله تعالى في آخر السورة بقوله تعالى: {فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ} ثم نسخ قيام الليل ليلةَ الِإسراء ووجبت فيها الصلوات الخمس .


""Sholat tersebut diwajibkan sebelum malam Isra` , dan wajib hukumnya didirikan pada sebagian malam sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam surah Al Muzammil ayat pertama : 


{Hai orang yang berselimut, dirikanlah (Sholat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari itu}.


Kemudian kewajiban tersebut dinasakhkan (dihapuskan) setelah setahun kemudian oleh apa yang Allah Ta’ala sebutkan pada akhir dari surah ini yakni ayat 20, Allah berfirman : {Maka, bacalah apa yang mudah dari Al Quran ... }. Kemudian syariat kewajiban Sholat Malam dihapus pada malam Isra`Mi'raj dan diganti dengan kewajiban sholat lima waktu.""


وكان الِإسراء سنة خمس أو ست من النبوة، وقيل سنة اثنتي عشرة منها، وقيل بعد سنة وثلاثة أشهر منها، وقيل غير ذلك، وكانت ليلةَ السابع والعشرين من شهر ربيع الأول.

وكان الِإسراء به - صلى الله عليه وسلم - مرتين:

 - مرة في المنام، ومرة في اليقظة.


""Isra` Miraj terjadi pada tahun ke 5 atau ke 6 setelah Nubuwah, dan ada yang menyebutkan pada tahun ke 12 setelah Nubuwah, dan ada yang menyebutkan 15 bulan setelah Nubuwah dan ada yang menyebutkan juga di waktu lain, dan Isra Miraj (menurut Imam Nawawi) itu terjadi pada malam 27 Rabi’ul Awal.

Isra’ Mi'raj-nya Nabi ﷺ terjadi dua kali:

1- Saat dalam mimpi.

2- Saat dalam keadaan sadar.""


ورأى -صلى الله تعالى عليه وآله وسلم- ربه سبحانه وتعالى ليلة الِإسراء بعيني رأسه، هذا هو الصحيح الذي قاله ابن عباس، وأكثر الصحابة والعلماء رضي الله عنهم أجمعين.

ومنعته عائشة وطائفة من العلماء -رضي الله عنهم أجمعين- وليس للمانعين دليل ظاهر، وإِنما احتجت عائشة بقوله تعالى: {لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ} (١) وأجاب الجمهور عنه بأن الإِدراك هو الِإحاطة والله تعالى لا يُحاط به؛ لكن يراه المؤمنون في الدار الآخرة بغير إِحاطة وكذلك رآه رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ليلة الِإسراء.


""Nabi Muhammad ﷺ melihat Tuhan-Nya pada malam Isra' dengan mata beliau sendiri. Ini adalah pendapat yang benar yang disampaikan oleh Sayidina Ibnu Abbas dan sebagian besar sahabat dan para ulama.


Sayidah 'Aisyah dan sekelompok ulama menolaknya, dan tidak ada dalil yang jelas bagi mereka yang melarangnya. Akan tetapi, Sayidah Aisyah berdalil dengan firman Allah Al An'am ayat 103 : {Allah tidak dapat diketahui oleh penglihatan}.


Dan jumhur ulama menanggapinya dengan mengatakan bahwa Idrok (diketahui) pada ayat tersebut artinya Ihathoh, yakni mengetahui wujudnya secara total keseluruhan, sedangkan Allah tidak bisa diketahui dengan cara tersebut. Akan tetapi orang-orang yang beriman akan melihat Tuhan-Nya di akhirat tanpa secara Ihathoh tadi. Dan hanya Rasulullah ﷺ yang telah melihat Tuhan-Nya pada malam Isra`Miraj.""


~


📕Fatawaa An Nawawi Al Musammah bil Masail al Mantsurah, halaman 35-39, Cet. Dar Basyair al Islamiyyah.

==


Oleh : 👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny


#isramiraj #baitulmaqdis #langit #shalat #nabi #rasul

 Hukum Berpuasa Ketika Melihat Orang atau Hewan Yang Hanyut dan Tenggelam 


☆ 


▪︎Seseorang yang sedang berpuasa lalu melihat orang atau hewan ternak yang hanyut atau akan tenggelam, maka dia sudah berusaha lalu cari bantuan, bahkan tidak mendapatkan alat bantu dan sampai akhirnya ia tidak punya cara lain untuk menyelamatkannya kecuali dia harus berenang sendiri dan bahkan menyelam. 


Maka menyelamatkan nya hukumnya Wajib, walau harus membatalkan puasanya karena tertelan air dan sebagainya.


Imam asy Syirbini dalam kitab Mughnil Muhtaj beliau menjelaskan : 


(والأصح أنه يلحق بالمرضع) في إيجاب الفدية في الأظهر مع القضاء، (من أفطر لإنقاذ) آدمي معصوم أو حيوان محترم (مشرف على هلاك) بغرق أو غيره بجامع الإفطار، فيجب عليه الفطر إذا لم يمكنه تخليصه إلا بفطره إبقاء لمهجته 


(Pendapat yang ashoh bahwa mengikuti ketentuan orang menyusui) dalam kewajiban membayar fidyah yg dinyatakan bersama qodho, (termasuk membatalkan puasa untuk menyelamatkan) manusia atau hewan ternak yang sedang terancam binasa seperti tenggelam atau yang lainnya harus dengan membatalkan puasa, maka ia Wajib membatalkan puasa apabila dia tidak dapat melakukan pertolongan kepada nya kecuali dengan membatalkan puasanya untuk mempertahankan keselamatan nyawanya sendiri.



📕Mughnil Muhtaj, Juz 1 hlm. 645, Cet. Dar Ma'rifah. 


===


Dalam hal ini, tidak terbatas menyelamatkan nyawa saja, tapi juga menyelamatkan harta benda dan berkas-berkas penting yang jika tidak diselamatkan maka akan berdampak kerugian yang lebih luas. Namun dengan syarat tidak mengancam keselamatan kita sendiri.


=== 


▪︎Lalu bagaimana jika dia tidak sanggup berenang dan menyelam juga tidak menemukan bantuan maupun alat bantu untuk menyelamatkan korban sampai akhirnya korban pun meninggal? Apakah dia berdosa? Jawabannya, dia tidak lagi dikenai hukum Wajib, dan dia tidak berdosa. 


Imam Asy Syaukani dalam kitab Sailul Jaror, beliau menjelaskan : 


لا شك أن إنقاذ الغريق من أهم الواجبات على كل قادر على إنقاذه فإذا أخذ في إنقاذه فتعلق به حتى خشي على نفسه أن يغرق مثله فليس عليه في هذه الحالة وجوب لا شرعا ولا عقلا فيخلص نفسه منه 


Tidak diragukan lagi bahwa menolong orang yang tenggelam adalah sebuah keharusan dan kewajiban bagi setiap orang yang sanggup menolongnya. Tapi jika ada khawatir dirinya akan terjadi bahaya, seperti dia akan ikut tenggelam seperti si korban, maka secara syariat dan akal, dia Tidak Wajib untuk menolongnya. 



📕Sailul Jaror, halamam 892, Cet. Dar Ibnu Hazm.


=== 


👨‍🏭 Adam Mostafa EL Prembuny 


#puasa #fiqih #qadha #fidyah #wajib #sunnah

💠Ketentuan Jimak Yang Membatalkan Puasa Dan Bayar Kafarot

Syarat Dan Ketentuan Seseorang Dapat Dijatuhi Hukuman Kafarot Puasa Karena Jimak

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny


Syaikh Nawawi al Bantani dalam kitab Kasyifatus Sajaa yang mensyarahi kitab Safinatun Najaa, beliau menjelaskan secara rinci, seseorang yang bisa dijatuhi hukuman kafarot kubro karena membatalkan puasa sebab melakukan jimak yakni ada 11 hal yang jadi kriterianya, jadi tidak semua perbuatan berjimak di siang hari saat bulan puasa itu mewajibkan seseorang untuk tebus Kafarot kubro. 

Kaffarot kubro/'udzhma yang dibebankan disebabkan membatalkan puasa dengan berjimak adalah 3 pilihan berurutan, jika no. 1 tidak sanggup maka no. 2, jika 2 tidak sanggup, maka harus melakukan no. 3 :

1. Memerdekakan seorang budak.
2. Berpuasa selama dua bulan berturut-turut.
3. Memberi makan 60 orang miskin, setiap orang adalah 1 mud (675 gram/0,688 L) makanan pokok.

Ini adalah penjelasan Syekh Nawawi tentang syarat seseorang dijatuhi hukuman wajib tebus kafarot kubro :

والحاصل أن شروط وجوب الكفارة أحد عشر : 
1. الأول الواطىء فخرج به الموطوء فلا تجبعليه 
2. الثاني وطء مفسد فلا تجب إلا إذا كان الوطء مفسداً بأن يكون من عامد ذاكرللصوم مختار عالم بتحريمه وإن جهل وجوب الكفارة أو من جاهل غير معذور 
3. الثالثإفساد صوم خرج به الصلاة والاعتكاف فلا تجب الكفارة بإفسادهما 
4. الرابع أن يفسدصوم نفسه خرج به ما لو أفسد صوم غيره ولو في رمضان كأن وطىء مسافر أو نحوهامرأته ففسد صومها 
5. الخامس في رمضان وإن انفرد بالرؤية أو أخبره من يثق به أو مناعتقد صدقه 
6. السادس بجماع ولو لواطاً أو إتيانيمة أو ميت وإن لم ينزل قاله الزيادي 
7. السابع أن يكون آثماً بجماعه فخرج به ما لو كان صبياً وكذا لو كان مسافرًاً أو مريضاً وجامع بنية الترخص فإنه لا إثم عليه 
8. الثامن أن يكون إثمه لأجل الصوم فقط 
9. التاسع أنيفسد صوم يوم ويعبر عنه باستمراره أهلاً للصوم بقية اليوم فخرج ما لو وطىء بلا عذرثم جن أو مات في اليوم لأنه بان أنه لم يفسد صوم يوم 
10. العاشر عدم الشبهة فخرج مالو ظن وقت الوطء بقاء الليل أو دخوله أو شك في أحدهما فبان ارًاً أو أكل ناسياً وظن أنه أفطر به ثم وطىء عامداً 
11. الحادي عشر كون الوطء يقيناً فيرمضان خرج به مالو اشتبه الحال وصام بتحر أي باجتهاد ووطىء ولم يتبين الحال فلا كفارة عليه

Kesimpulannya adalah bahwa syarat wajib menebus kafarot ada 11 :

1. Kewajiban kafarot hanya dibebankan kepada wati` (pihak yang menjimak), dan bukan mautu` (pihak yang dijimak). Oleh karena itu, membayar kafarot tidak diwajibkan atas mautu`.

2. Jimak yang dilakukan memang membatalkan puasa. Oleh karena itu, kewajiban membayar kafarot hanya berlaku saat jimak yang dilakukan memang membatalkan puasa, seandainya orang yang menjimak adalah orang yang sengaja, yang dia sadar kalau dirinya lagi berpuasa, yang dia tidak dipaksa, yang dia tahu tentang keharamannya meskipun dia tidak tahu tentang aturan membayar kafarot, dan yang tidak tahu (bodoh) dengan kebodohan yang tidak diudzurkan. (Maka yang demikian jatuh kafarot).

3. Yang dirusak adalah ibadah puasa. Selain puasa, seperti ibadah sholat atau i'tikaf, maka tidak ada kewajiban kafarot.

4. Jimak yang dilakukan merusak puasa orang yang menjimak itu sendiri. 
》Beda kalo jimak tersebut merusak puasa orang lain meskipun di bulan Romadhon, seperti; orang yang sedang Safar atau yang sedang udzur lainnya, lalu dia menjimak istrinya, maka puasa istrinya menjadi rusak. (Maka dia dan Istrinya tidak wajib menebus kafarot).

5. Jimak terjadi di bulan Romadhon, meskipun orang yang menjimak adalah satu-satunya orang yang bisa melihat hilal, atau dia diberi tahu oleh orang yang terpercaya tentang rukyat hilal, atau dia adalah orang yang meyakini tentang kebenaran kabar dari orang lain yang melihat hilal.

6. Puasa menjadi rusak dengan jimak meskipun liwaat (penetrasi ke anus), atau dengan memperk0sa binatang atau mayit, walaupun tidak sampai mengeluarkan air mani, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Az-Ziyadi.

7. Berdosa sebab jimaknya. 
》Kecuali jimak yang dilakukan oleh anak kecil, musafir, orang sakit, dan orang yang berjimak dengan niat mengambil hak rukhshohnya, karena jimak yang mereka lakukan ini tidak berdosa.
 
8. Dosa jimak si pelaku hanya karena puasanya aja. (Bukan karena yang lain).

9. Jimak merusak puasa sehari yang diibaratkan dengan kondisi yang mana orang yang berjimak tetap lanjut berpuasa pada hari itu.
》Kecuali, kalo dia berjimak tanpa ada udzur pada hari tertentu di bulan Romadhon, kemudian dia mengalami gila, atau meninggal pada hari itu juga, maka dia tidak wajib menebus kafarot, karena jimak yang dia lakukan belum membatalkan durasi puasa utuh pada hari tersebut.

10. Tidak ada unsur syubhat (ragu-ragu).
》Kecuali kalo orang yang berpuasa tersebut menyangka bahwa waktu dia berjimak itu masih malam (belum subuh), atau sudah masuk malam (sudah magrib), atau ragu dengan salah satu dari keduanya, ternyata waktu dia berjimak, hari telah siang (sudah subuh) atau masih siang (belum magrib). 
Atau kalau dia makan/minum karena lupa, dan dia sadar kalau makan nya tersebut sudah membatalkan puasanya, kemudian dia menjimak istrinya dengan sengaja, maka dua keadaan ini, dia tidak wajib menebus kafarot.

11. Jimak terjadi secara pasti di dalam bulan Romadhon. Kecuali kalau keadaan masuk atau tidaknya bulan Romadhon ini masih belum jelas, kemudian dia berpuasa dengan cara berijtihad dahulu, lalu dia menjimak istrinya, dan ternyata keadaan masuk atau tidaknya bulan Romadhon tetap saja belum jelas, maka dalam hal ini, tidak ada kewajiban baginya untuk membayar kafarot.

Dan berdosalah orang yang sengaja membatalkan puasa romadhon (tanpa udzur), dan dia wajib mengqodho’ puasa yang ditinggalkan, tetapi tidak perlu membayar fidyah. Berbeda jika membatalkan puasa dengan jimak, maka wajib qodho’ dan menebus kafarot""

~

📕Kasyifatus Sajaa 'Ala Safinatun Najaa, halaman 112. Cet. Dar Ibnu Hazm.

===

👨‍🏭Adam Mostafa EL Prembuny

#puasa #batal #sah #jimak #kafarat #kafarot #fiqih

💠Wajib Bayar Zakat Jika Mendapat Sebagian Ramadan dan Syawal

Syarat Diwajibkannya Mengeluarkan Zakat Fitrah Minimal Hidup dan Mendapati Sebagian Waktu Dari Bulan Ramadhan Dan Syawal

Oleh : Adam Mostafa EL Prembuny

☆ 

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Mirqotus Su'ud Syarah Sullamut Taufiq. 
Beliau menjelaskan di antara syarat wajib mengeluarkan zakat fitrah adalah seseorang hidup atau minimal mendapati sebagian dari 2 masa bulan, yakni Ramadhan dan bulan Syawal. Dan dalam Islam, pergantian hari dan bulan bukan dimulai pada pukul 00.00, tapi dimulai sejak waktu maghrib atau adzan maghrib dikumandangkan.
Berikut penjelasan beliau : 

(وزكاة الفطر) أى فطر شهر رمضان (تجب) اجماعا ولا اعتبار بمن شذ في ذلك ووجوبها (بادراك جزء من رمضان وجزء من شوال) وحينئذ فيخرج عن مات بعد الغروب وكان عنده فيه حياة مستقرة كما نبه عليه الأذرعى ,دون من ولد بعده أفاد ذلك الرملي 

"[Dan Zakat Fitrah] yakni Zakat Fitrah di bulan Romadhon itu [diwajibkan] secara ijmak. Kewajibannya [disebabkan mendapati sebagian waktu dari bulan Romadhon dan Syawal], karena dia mendapati waktu tenggelamnya matahari di hari terakhir Romadhon dan mendapati sebagian waktu Romadhon sebelum matahari terbenam. Maka, zakat fitrah wajib dikeluarkan dari orang yang meninggal setelah tenggelamnya matahari di hari terakhir bulan Romadhon, yang mana saat proses tenggelamnya matahari, dia masih hidup, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam al Adzro'iy.

Kecuali bayi yang dilahirkan setelahnya (tenggelamnya matahari di hari terakhir bulan Romadhon) maka tidak wajib (dikeluarkan zakat fitrahnya), sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam ar Romli."

📕Mirqatus Su'ud at Tasydiq fi Syarah Sullam Taufiq, halaman 73, Cet. Darul Kutub Ilmiyah. 

=

Penjelasan Tentang Meninggal dan Lahir 

▪︎Definisi Meninggal/Mati. 

Mati (kbbi): Sudah hilang nyawanya, Tidak bernyawa.
Mati (medis) : Berhentinya fungsi jantung, pernapasan, dan saraf pusat secara permanen.

Jadi, kalau seseorang masih sakaratul maut atau kejang-kejang menuju nafas terakhir, maka dia belum dikatakan sebagai meninggal (mati). Tapi jika terpenuhi 3 hal tadi (yakni : jantung, nafas dan syaraf sudah tidak berfungsi), maka dia baru bisa dipastikan atau dinyatakan "Meninggal dunia/mati". 

▪︎Definisi Lahir

Lahir (kbbi) : Keluar dari kandungan.
Lahir (medis) : Peristiwa keluar dan terpisahnya tubuh bayi dari rahim ibunya. 

Jadi kalau baru proses bukaan 1-10 yang butuh waktu lama, atau baru muncul kepala bayi nya saja, atau baru sebagian organ bayi yang keluar, maka itu BELUM dikatakan sebagai "Lahir", sebab masih dalam proses keluar.
Dikatakan "Lahir" jika seluruh tubuh bayi telah keluar semua dari dalam rahim dan terpisah dari tubuh ibunya. 

*Jadi misalnya, jika Adzan waktu Magrib adalah tepat jam 6 sore atau pukul 18.00, maka perinciannya sebagai berikut : 

1. Meninggal dunia/mati 
– Bagi seseorang yang dipastikan atau dinyatakan meninggal sebelum pukul 18.00, maka TIDAK WAJIB dikeluarkan zakat fitrah atas dirinya.
– Tapi, kalau seseorang dipastikan atau dinyatakan meninggal setelah pukul 18.00, maka WAJIB dikeluarkan zakat fitrah atas dirinya. 

2. Bayi Lahir 
– Bagi bayi yang lahir, jika lahirnya sebelum pukul 18.00, maka si bayi WAJIB dikeluarkan zakat fitrah atas dirinya.
– Dan jika lahirnya setelah pukul 18.00, maka si bayi TIDAK WAJIB dikeluarkan zakat fitrah. 

=== 

👨‍🏭 Adam Mostafa EL Prembuny

#zakatfitrah #wajib #ramadhan #syawal #fiqih

🔰 Petunjuk Tema & Isi Konten

  • 🔷️ Aqidah & Filsafat : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan ilmu kalam, teologi, pemikiran, mantiq, dan filsafat.
  • 🔷️Al-Quran & Tafsir : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan suatu ayat dan tafsirnya, serta ilmu tentang Al-Quran.
  • 🔷️ Fiqih & Syari'ah : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan ilmu fiqih, ibadah, muamalah, munakahat, dan jinayah.
  • 🔷️Hadits & Syarah : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan suatu hadits dan syarahnya, serta ilmu tentang hadits.
  • 🔷️Khazanah & Sains : Memuat tulisan-tulisan tentang keajaiban sains, khazanah keislaman, dan ilmu pengetahuan umum.
  • 🔷️Lughoh & Nahwu : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan ilmu bahasa seperti mufrodat, nahwu, shorof, balaghoh
  • 🔷️Sejarah & Kisah : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan sejarah Islam & dunia, serta kisah para Nabi dan Ulama.
  • 🔷️Medis & Kesehatan : Memuat tulisan-tulisan pembahasan tentang obat, gizi, kesehatan, penyakit, dan seputar medis.
  • 🔷️Psikologi & Relasi : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan ilmu psikologi, romansa, parenting, dan relasi sosial.
  • 🔷️Tajwid & Tahsin : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan tajwid, makhroj, sifat huruf, qiraah, tahsin dan tilawah Al-Qur`an.
  • 🔷️Tasawuf & Mau'idzoh : Memuat tulisan-tulisan tentang pembahasan ilmu akhlaq, pensucian jiwa, dakwah dan nasihat moral.
  • 🔷️Qamus Istilah Umum : Memuat tulisan-tulisan tentang ta'rifat, definisi, makna, serta pengertian suatu kata dan kalimat.